Connect with us

Berita Utama

Tolak Proyek IPAL Gampong Pande, Peusaba Aceh: Kegemilangan Sejarah Aceh Dimulai di Gampong Pande

Published

on

Tolak Proyek IPAL Gampong Pande, Peusaba Aceh: Kegemilangan Sejarah Aceh dimulai di Gampong Pande.

Tolak Proyek IPAL Gampong Pande, Peusaba Aceh: Kegemilangan Sejarah Aceh dimulai di Gampong Pande/Foto: Ketua Peusaba Aceh Mawardi Usman.

NUSANTARANEWS.CO, Banda Aceh – Tolak Proyek IPAL Gampong Pande, Peusaba Aceh: Kegemilangan Sejarah Aceh dimulai di Gampong Pande. Ketua Peusaba Aceh Mawardi Usman mengatakan bahwa Pemerintah Kota Banda Aceh dan pejabatnya sepertinya tidak pernah berziarah ke Makam Para Raja dan Ulama era Kesultanan Aceh Darussalam (1205-1945). Makanya mereka tidak mengenal nisan Batu Aceh dan bentuknya.

Hal itu dapat diketahui dari surat Walikota Banda Aceh kepada Kementerian PUPR dalam upaya melanjutkan proyek pembuangan tinja di makam Ulama dan Raja dengan menyatakan bahwa, “Makam Raja dan Ulama adalah makam masyarakat umum”.

Menurut Peusaba, sebenarnya walikota dapat dengan mudah membandingkan makam Raja dan Ulama era Kesultanan Aceh Darussalam dengan berziarah ke Kawasan Bapperis disamping Meuligoe Gubernur Aceh, yang dulu dikenal sebagai Kuta Dalam atau Istana Darud Donya.

“Disana terdapat makam keluarga Kerajaan Aceh. Dan Walikota dapat dengan mudah mengunjungi makam tersebut karena sangat dekat dari kantornya dan melihat langsung, mirip tidak dengan makam di Gampong Pande. Namun Pemko Banda Aceh malah mengatakan itu pemakaman masyarakat umum,” kata Ketua Peusaba.

Kata orang “tuha-tuha”, jika para pejabatnya pernah berziarah dan berdoa di makam Raja dan Ulama Kesultanan Aceh Darussalam, walau hanya sekali saja dalam hidupnya, pasti mereka tidak akan pernah menghancurkan makam Raja dan Ulama era Kesultanan Aceh Darussalam, ungkapnya.

Dahulu, Gampong Pande adalah pusat peradaban Aceh Darussalam bersama Kawasan Lamuri. Syeikh Abdurrauf As Seljuqi keturunan Raja Seljuq Turki yang menguasai Baghdad pada masa Dinasti Kekhalifahan Abbasiyah telah datang ke Aceh. Tujuan utamanya adalah dakwah Islam. Tujuan kedua adalah membuka kota satelit kekhalifahan di wilayah Asia Tenggara dan memperlancar hubungan perdagangan yang dibutuhkan oleh Khalifah.

Baca Juga:  HKGB ke-66: Pengurus Bhayangkari Polda Jabar Kunjungi Pesantren Abah Budiman

Putra Syeikh Abdurrauf As Seljuq yang bernama Sultan Johan Syah Seljuqi telah menjadi Sultan di Aceh setelah menikah dengan Putri Raja Lamuri. Gampong Pande dibangun oleh 500 rombongan yang dibawa Syeikh Abdurrauf As Seljuqi, sehingga kemudian dikenal dengan “Gampong Pande” atau “Kampung Pandai” karena yang berdiam disana adalah orang-orang yang pandai dalam berbagai bidang ilmu.

Sedangkan Gampong Jawa adalah tempat persinggahan Jamaah Haji asal tanah Jawi yaitu negeri-negeri melayu. Setelah cukup belajar mengaji maka jamaah haji berangkat ke Pulau Rubiah Sabang kemudian menuju Maldives.

Dalam sejarah Maldives (Republik Maladewa – Red) terdapat cerita tentang Burecca Of Maldives atau Ratu Maldives yang berlayar ke Aceh khusus untuk belajar ilmu seni bela diri di Aceh, kemudian kembali ke Maldives dan menaklukkan Wilayah Maldives.

Dari Maldives para Jamaah Haji berangkat ke Pelabuhan Gujarat di wilayah India, kemudian menuju kawasan Pelabuhan Mucca Yaman, barulah dari Yaman dengan karavan kafilah jamaah haji berangkat menuju ke Mekkah.

“Jadi Gampong Pande, Gampong Jawa dan sekitarnya, adalah kawasan penting era kesultanan Aceh Darussalam apalagi di Gampong Pande berdiam Wazir Paduka Sirama sedangkan di Gampong Jawa berdiam Syahbandar Muktabar Khan,” kata ketua Peusaba.

Diceritakan lebih lanjut bahwa setiap kapal asing yang masuk Ke Aceh harus berhenti di Gampong Jawi/Gampong Jawa untuk memberikan hadiah kepada Seri Sultan, dan setelah mendapatkan izin dari Syahbandar Muktabar Khan barulah pedagang asing dapat berjumpa Sultan. Kadangkala tamu asing harus menunggu berbulan-bulan atau bertahun agar mendapatkan izin membeli lada dari Seri Sultan Aceh Darussalam.

Oleh karena itu, Ketua Peusaba Aceh mengingatkan bahwa Kawasan Gampong Pande yang kaya dengan sejarah sudah selayaknya dijadikan situs peradaban Islam Aceh – bukannya malah dijadikan proyek “tinja dan sampah”. Apalagi kawasan ini dikenal sebagai Kuta Farusah (Benteng para Pahlawan) Istana Darul Makmur di Gampong Pande.

Baca Juga:  4 Tanda Khusus Anda Jodoh Dengan Pasangan Anda

Dalam literatur Turki Sultan Johan Syah Seljuqi dikenal dengan Nama Ghazi (Pejuang) karena beliaulah yang aktif membawa Islam dan semua Raja tunduk pada beliau dan menjadi muslim.

Sabda Sultan Johan Syah Seljuqi yang sangat terkenal adalah: “Saya adalah Sultan Bandar Aceh Darussalam. Saya datang memerdekakan manusia dari menyembah sesama manusia menjadi menyembah hanya kepada Allah”.

Jadi Sultan Aceh hanya menganggap manusia itu merdeka ketika manusia itu menghambakan diri semata-mata hanya kepada Allah, dan merdeka dari penyembahan kepada segala berhalanya berupa sesama manusia, uang, harta, kekuasaan, dan berhala-berhala lainnya.

Sejarah Aceh adalah sejarah agung Asia Tenggara dan Dunia Islam. Banyak ilmuwan asing terkagum-kagum ketika mengadakan penelitian di Kawasan Ibukota kesultanan Aceh Darussalam Gampong Pande Bandar Aceh Darussalam.

Sayangnya Walikota Banda Aceh justru lebih mementingkan proyek IPAL di Gampong Pande, seolah-olah ingin melenyapkan “Kegemilangan Sejarah Islam di Aceh” yang dikagumi dunia dengan melanjutkan “Proyek Pembuangan Tinja di Gampong Pande Bandar Aceh Darussalam”.

Sekali lagi Ketua Peusaba Aceh mengingatkan bahwa Gampong Pande adalah bukti kebesaran Sejarah Islam di Aceh Darussalam. Apakah rakyat Aceh rela kebesaran sejarah nenek moyangnya dihancurkan? (Red)

Loading...

Terpopuler