Connect with us

Kreatifitas

Togog, Tokoh Andalan Seno Gumira Ajidarma Dalam Dunia Wayang

Published

on

Seno Gumira Ajidarma pada acara peluncuran buku terbarunya berjudul "Drupadi" di Jakarta, Rabu (8/2/2017)/Foto Crop via Youtube
Seno Gumira Ajidarma pada acara peluncuran buku terbarunya berjudul "Drupadi" di Jakarta, Rabu (8/2/2017)/Foto Crop via Youtube

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Punakawan adalah karakter yang khas dalam wayang Indonesia. Mereka melambangkan orang kebanyakan. Karakternya mengindikasikan bermacam-macam peran, seperti penasihat para ksatria, penghibur, kritisi sosial, badut bahkan sumber kebenaran dan kebijakan. Dalam wayang Jawa karakter punakawan terdiri atas Semar, Gareng, Bagong, dan Petruk. Dan satu lagi, ia adalah Togog yang ditugaskan untuk Raja-raja jahat.

Menurut Sastrawan Seno Gumira Ajidarma, Punakawan adalah bentuk kritik sosial dalam wayang contohnya adegan goro-goro. Disitu dia (Punakawan) tidak terikat dalam berbahasa. Dia bertindak semaunya dan mempermainkan kasta alias mengkritik raja.

“Dan dalam konteks istana dia didengar. Jadi ada saluran. Jadi, kalau raja dengerin, ya dia tahulah apa maksudnya. Tapi, di dalam rakyat ini pun ada pembagian. Jadi, kalau Semar, Petruk, dan Bagong, selalu ditempatkan untuk mengikuti Pandawa. Menasehati mereka jika berbelok ke jalan yang salah,” kata Seno saat peluncuran buku terbarunya berjudul “Drupadi” di Jakarta, Rabu (8/2/2017.

Tugas Punakawan tadi bagi Seno mudah saja dilakukan. Karena yang mereka ikuti adalah raja-raja baik. Itu (perilaku jahat raja) sangat jarang terjadi. Kalau terjadi, mereka menjadi ksatria tandingan. Kalau perlu merebut tahta untuk dikembalikan lagi.

“Tapi yang kasihan Togog. Dia ditugaskan untuk raja-raja yang jahat. Jadi bagaimana bisa berhasil. Bagaimana dia bisa memberi nasehat kepada raja jahat supaya menjadi baik. Semua gagal,” kata sang prosais ternama di tanah air.

Seno bercerita sedikit, suatu hari Semar dan Togot bertemu. “Bagimana kau ini Togog, gagal terus tugasmu,” tanya Semar. Menyadari tugasnya si Togog hanya menjawab, “Ya Sudahlah, tapi saya akan terus berjuang.”

Nah, sampai di sini, jika kebanyakan pecinta wayang menjagokan figur Semar, Petruk, Gareng dan Bagong, jauh berbanding terbalik dengan Seno. Bagaimana tidak, Seno justru lebih suka atau tetapnya menarus simpati besar terhadap si Togog. Di mana peran Togog dibanding yang lain relatif kalah pamor.

Togog ditugaskan untuk menjadi pamong bagi raja-raja yang dikodratkan jahat sehingga nasehatnya untuk membuat mereka ke jalan yang benar tidak pernah didengar dan upayanya gagal. Beda dengan punakawan lain seperti Semar, Petruk, Gareng dan Bagong yang beban pekerjaannya tidak seberat mereka yang jadi pamong satria berwatak buruk.

Untuk diketahui, sebelumnya, Seno Gumira Ajidarma dalam novel “Kitab Omong Kosong” karyanya, Seno bahkan “mengidentifikasikan” dirinya sebagai Togog. Dalam novel yang mendapat penghargaan dari dewan juri Khatulistiwa Literary Award (KLA) 2005, Seno menulis:

“Saya Togog…. saya… tahu diri betapa cerita ini tidak menarik, dibuat dengan ngawur, tergesa-gesa, terkantuk-kantuk, berlari dari kota ke kota, tanpa pernah mau belajar, ditulis tanpa perenungan, berpura-pura pintar, padahal tidak ada isinya sama sekali…. Tolong sampaikan agar cerita ini tidak usah dibaca, karena membuang waktu, pikiran, dan tenaga. Sungguh hanya suatu omong kosong belaka (hlm. 619).

Pewarta: Achmad Sulaiman

Loading...

Terpopuler