HukumPeristiwa

Tindakan Kekerasan Marak, Wahid Foundation Usulkan Early System Warning

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Direktur Wahid Foundation, Yenny Zannuba Wahid mengatakan perlunya menerapkan sistem deteksi dini untuk menangani kekerasan intoleransi di tanah air.

Dalam beberapa hari, setidaknya dua kasus intimidasi dan kekerasan dialami tokoh agama. Minggu (11/2), seorang lelaki menyerang beberapa jemaat dan seorang pendeta di Gereja Santa Lidwina Sleman Yogyakarta.

Pada Sabtu (9/2), sebuah video penolakan seorang biksu di Legok Tangerang, Banten, menyebar massal di media sosial. Biksu itu bernama Mulyanto Nurhalim. Oleh sebagian warga ia dituduh menyalahgunakan tempat tinggal dengan menggelar bakti sosial.

Akhir Januari, KH Umar Basri, Pengasuh Pesantren Al Hidayah, Cicalengka, Jawa Barat, mengalami penganiayaan dari seorang lelaki paruh baya.

Baca: Bukan Kebetulan, Penganiaya Ulama dan Ustadz di Jawa Barat Diklaim Sakit Jiwa

Setelah itu, Komandan Brigade Persatuan Islam (Persis), Ustadz Prawoto juga menjadi korban tindakan kekerasan yang membuat nyawanya tak terselamatkan.

Menyikapi sejumlah peristiwa ini, Yenny mengatakan Wahid Foundation mengutuk setiap tindakan kekerasan dan intimidasi kepada siapapun dan atas dasar apapun. Kekerasan semacam ini harus dinyatakan bukanlah kondisi yang mewakili wajah masyarakat umum Indonesia.

Baca Juga:  Insiden Anak Kepalanya Robek Saat Bermain di Zone 2000 Ramayana Cianjur

“Mendorong Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah melakukan kajian sekaligus penerapan langkah sistem deteksi dini (early warning system) agar kasus-kasus serupa berkurang dan dapat dilakukan langkah-langkah antisipasitif. Langkah ini dapat dilakuan melaui deteksi dini kasus-kasus intoleransi, termasuk ujaran kebencian, yang kemungkinan bakal meningkat jelang dan selama masa-masa pemilihan kepala daerah serentak di Indonesia,” kata Yenny dikutip dari keterangan persnya, Jakarta, Senin (12/2/2018).

Lebih lanjut, kata dia, Wahid Foudation mendukung Kepolisian Republik Indonesia melakukan proses hukum terhadap para pelaku penyerangan dan penganiayaan KH Umar Basri dan Penyerangan Gereja Santa Lidwina Sleman Yogyakarta dan Biksu Mulyanto di Legok Tangerang Banten.

Selanjutnya, ia juga mengapresiasi kesigapan ormas-ormas keagamaan yang kompak menyerukan kepada masing-masing umatnya untuk tidak terprovokasi dan justru mendorong agar proses hukum dikedepankan. Ini bukti bahwa masyarakat Indonesia makin dewasa dan matang dalam menyikapi kasus-kasus kekerasan.

Terakhir Wahid Foundation mendorong Kemenkominfo dan perusahaan-perusahaan media sosial seperti Facebook, Youtube, dan Twitter, memantau kasus-kasus hoax dan berita palsu atas tiga kasus tersebut yang sengaja ditujukan untuk dapat memanaskan situasi di masyarakat. (red)

Baca Juga:  Terungkap Korban Anak Kepala Robek di Zone 2000 Ramayana Cianjur Ternyata Ditolong oleh Pedagang Asongan ke Rumah Sakit

Editor: Eriec Dieda

Related Posts

1 of 16