Connect with us

Berita Utama

Tiga Tenant ITB Juarai Swiss Innovation Challenge 2017

Published

on

ITB

NUSANTARANEWS.CO, Bandung – Tiga Tenant Lembaga Pengembangan Inovasi dan Kewirausahaan (LPIK) Institut Teknologi Bandung (ITB) keluar sebagai juara kompetisi Swiss Innovation Challenge 2017. Di antaranya, Tesla Daya Elektrik, SVARA dan BIOPS Agrotekno.

Kompetisi tersebut diselenggarakan atas kerjasama antara SBM-ITB dengan School of Business at University of Applied Sciences and Arts Northwestern Switzerland.

Menurut Kepala Subdirektorat Publikasi dan Humas ITB Fivien Nur Savitri, Tesla Daya Elektrika merupakan start-up yang mengembangkan sistem proteksi petir bernama I-GSW High Voltage.

“Di mana alat tersebut diguanakan untuk perlindungan pada tower transmisi tegangan tinggi dan I-GSW Medium Voltage,” kata Fivien kepada wartawan, Selasa (3/10/2017).

Dikatakannya, alat tersebut berguna untuk perlindungan pada tower distribusi tegangan menengah. Konsep yang diaplikasikan pada produk ini merupakan hasil temuan Djoko Darwanto selaku KK Teknik Ketenagalistrikan.

Dia menjelaskan, pada 2016 konsep ini telah dikenalkan pada PT PLN sebagai target market utama. Selain itu, dalam dua tahun terakhir ini telah mendapatkan bantuan pendanaan dari Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi untuk pengembangan produk.

Sedangkan alat lainnya, SVARA adalah produk hasil implementasi blockchain pada platform industri musik. Alat tersebut menerapkan blockchain pada aplikasi streaming musik, transparansi untuk kerjasama antara musisi dan penyedia layanan dapat terjamin. Hingga saat ini, SVARA telah mendapatkan dukungan dari Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia (PRSSNI) dan Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) untuk secara bersama-sama mengembangan industri musik dan industri radio.

“Di mana masing-masing pihak menyimpan basis data bersama yang identik, dan segala royalti direkam dalam basis data tersebut,” jelasnya.

Juara ketiga ditempati oleh BIOPS dengan produk Encomotion. Alat tersebut merupakan sistem terintegrasi yang dapat digunakan untuk memonitor dan mengontrol kondisi lingkungan pertanian dalam greenhouse.

“Alat tersebut adaalah era baru pertanian Indonesia dengan melalui promosi sistem cerdas yang didukung oleh produk teknologi,” ucapnya.

Saat ini, Encomotion sudah diterapkan pada salah satu greenhouse milik Balai Besar Pelatihan Pertanian (BPPP) Lembang, dan terbukti berhasil meningkatkan produktivitas hingga 40% dibandingkan dengan pertanian konvensional.

Pewarta: Nita Nurdiani Putri / Editor: Eriec Dieda

Advertisement

Terpopuler