Connect with us

Budaya / Seni

Tidur Siang – Cerpen Linda A. Lestari

Published

on

Sleeping Men. Foto/Lukisan: Saatchi Art Artist Didem Ünlü

NUSANTARANEWS.CO – Banyak orang di kampung itu mengatakan, hanya hidup Muh saja yang  paling enak di antara tetangganya yang lain. Meski sama-sama disiksa kemelaratan, Muh tidak perlu bekerja, dan  hampir seluruh waktunya digunakan untuk tidur. Sudah lima bulan ini dia menganggur. Bos proyek memecatnya karena Muh ketahuan sering tertidur di jam kerja. Untuk makan dan keperluan dapur, dia hanya mengandalkan sesuap nasi dari hasil jerih payah istrinya berdagang kopi dan gorengan di tepi jalan. Dari malam menuju pagi, Muh hanya bangun untuk menikmati sarapan pisang goreng dan teh manis yang disuguhi istrinya di warung. Menjelang pukul sepuluh pagi, Muh akan kembali ke rumah, menggelar tikar dan kasur kapuknya di lantai, lalu ngorok seharian hingga petang tiba, dan akan begitu terus berulang-ulang.

Muh mengabaikan undangan tahlil dari para tetangga yang baru saja ditinggal mati keluarganya. Dia juga mulai tidak menunaikan salat Jumat. Padahal, namanya adalah Muhammad, nama seorang nabi. Tapi lidah orang-orang di kampungnya memangkas ammad pada Muhammad, sehingga hanya butuh satu tiupan kecil untuk memanggil namanya. Muh lebih memilih untuk memperbanyak tidur, maka tak kurang dari tiga puluh hari, Muh mulai dijauhi oleh tetangganya yang sama-sama miskin.

Muh merasa lebih bebas ketika dia tidur. Karena di dalam tidurnya, dia akan dapat bermimpi yang indah-indah; pergi ke suatu tempat yang penuh dengan pepohonan, laut, gunung, air mancur; dia tak pernah mengunjungi tempat yang indah-indah selama hidupnya. Biaya untuk beli beras sudah cukup mengoyak sakunya, apalagi untuk pergi ke tempat yang banyak pohon dan gunung dengan harga tiket masuk yang akan mengagetkan jantungnya. Di dalam mimpinya, dia juga pernah mengobrol dengan banyak orang. Kebanyakan dari mereka adalah orang asing, tak hanya mereka yang berambut hitam, tetapi Muh juga bertemu dengan mereka yang rambutnya berwarna gurun, mereka yang memakai sorban, wanita yang bercadar, bahkan Muh juga berbicara dalam bahasa mereka di mimpinya.

Bahkan dia pernah bermimpi bertemu dengan wanita selingkuhannya sepuluh tahun silam. Wanita itu bernama Suhartini, tapi Muh lebih senang memanggilnya Ati. Muh bahagia karena di dalam mimpi itu Ati tampak jauh lebih cantik dari waktu ketika Muh menjemputnya di bandara selepas kepulangannya dari negeri petrodolar. Muh merangkul Ati dan menjinjing koper wanita itu, senyumnya merekah, lalu setibanya di hotel, mereka bercinta sampai lemas.

Baca Juga:  Story About Psycogirl

Siang itu, setelah rutinitas nge-teh dan makan pisang goreng buatan istrinya di warung, Muh kembali ke rumah, menggelar kasur kapuknya di lantai, dan menyalakan televisi. Biasanya, televisi itu akan dibiarkannya terus menyala selama dirinya tertidur. Sambil menunggu matanya kantuk akibat rasa kenyang, dia melihat jam dinding yang menunjukkan pukul sebelas siang. Lagi pula mengapa dia perlu melihat jam, padahal Muh tak pernah mengenal waktu untuk bangun dan tidur.

Pukul sebelas lewat sebelas menit, ketika Muh mendapat dengkurannya yang kesembilan, dia mulai bermimpi. Di mimpi itu, Muh berada di suatu tempat yang tampak seperti kebon kosong ketika dia melihat gundukan tanah setinggi pohon pisang. Tak ada apa pun, selain dirinya dan gundukan setinggi pohon pisang itu. Muh menemukan sebuah cangkul yang terletak di sisi kiri gundukan, dan mulai mencangkuli gundukan tanah di depannya. Mula-mula, dia menggunakan gagang cangkul untuk merobohkan bagian atas gundukan tanah itu. Setelah sedikit demi sedikit gundukan itu roboh, dia mulai menggali gundukan yang telah rata itu.

Muh mulai mencangkul. Cangkul itu cukup kuat untuk mengeruk tanah lebih dalam, hingga keluar air. Muh tidak sadar bahwa dirinya telah menggali sebegitu dalamnya. Ketika air tampak mengalir dari dalam tanah, Muh berhenti untuk istirahat, dan tertidur di sisi bekas gundukan. Di dalam tidurnya, Muh bermimpi dia masuk ke dalam gundukan itu. Secara tiba-tiba, tanah yang telah lengket oleh air itu menelannya bulat-bulat. Muh tidak kuasa melawan, dan akhirnya dia tenggelam di dasar tanah bersama cacing yang gemuk-gemuk. Berhari-hari Muh terjebak di dalam gundukan tanah yang digalinya sendiri.

Tiba waktunya ketika dia merasa lapar. Waktu ini adalah waktu di mana dia harus makan malam dengan nasi goreng yang dibuat Ningsih, anak sulungnya. Tetapi tak ada makanan. Tak ada air untuk membasahi rongkongnya yang mengering. Yang ada hanya cacing tanah dan jenis basil yang ada di dalam bumi. Tak ada pilihan; Muh menelan cacing-cacing yang gemuk itu. Satu cacing gemuk cukup membuatnya kenyang. Beberapa saat setelah cacing itu berada di dalam lambungnya, dia merasa perutnya agak sedikit membuncit; perut yang sama persis dilihatnya ketika Asih, istrinya, hamil lima bulan anak pertamanya; Ningsih.

Baca Juga:  72 Jam yang Lalu, Cerpen Nasrul M Rizal

Muh tidak terlalu peduli. Dia hanya berpikir bahwa cacing itu memang diciptakan untuk mengenyangkan perutnya. Dia sedang berpikir bagaimana cara membawa cacing-cacing itu ke rumah untuk dijadikan pangan bagi ayam jago peliharaannya, agar dia tidak mencuri uang di kotak dagangan istrinya setiap hari untuk membeli pur. Hari kedua, Muh masih terjebak di dalam gundukan tanah yang digalinya sendiri, dan dia mulai mengutuki dirinya. Dia lapar, haus. Dia rindu pisang goreng dan teh manis yang selalu dihidangkan Asih setiap pagi, atau nasi goreng yang dimasak setiap malam dengan menggunakan minyak jelantah oleh Ningsih. Tak ada pilihan lain; cacing gemuk.

Maka berhari-hari Muh memakan cacing gemuk hingga perutnya membuncit. Kini perutnya lebih tampak seperti ketika istrinya dilarikan ke puskesmas sambil ngeden mengeluarkan anaknya yang kedua, Agus. Tiba hari ketujuh, ketika Muh tak dapat berpikir lagi mengenai jumlah cacing gemuk yang telah berada di lambungya, Muh merasa perutnya mulas. Dia merasa ingin buang hajat. Meski pun hidup mengutuknya dengan kemiskinan, tapi perihal buang hajat, tak pernah ia lakukan di kali. Ketika istrinya menyampaikan rencananya untuk membuka warung kopi di tepi jalan, Muh meminjam sejumlah uang dari bank harian dan menggunakan uang tersebut untuk membeli bambu, dan menyulapnya menjadi sebuah gubuk kecil yang saat ini menjadi sumber penghidupan bagi dapurnya yang mengepul. Sisa uang itu ia belikan kakus, karena dari dulu ia bercita-cita buang hajat di kakus rumahnya sendiri.

Perut Muh semakin membuncit. Rasa mulasnya berbeda dengan mulas ingin buang hajat. Ia hafal betul bagaimana rasanya mulas-buang-hajat, tetapi mulas yang ini lain. Bulir-bulir kecil di dahi Muh mulai bercucuran. Tak hanya di dahi; seluruh tubuhnya mulai dibanjiri keringat. Ia menggunakan momen itu untuk membasahi tenggorokannya yang kerontang selama tujuh hari, maka ia jilati lengannya sendiri. Asin! Kutuknya dalam hati. Selang beberapa waktu setelah ia meminum keringatnya sendiri, ia merasa ada sesuatu yang bergerak di selangkangannya. Sesuatu yang menggelitik pahanya. Rasanya sama seperti ketika bulu kemaluan Asih yang tak pernah dicukur itu menempel di pahanya. Ah, ia jadi mendadak rindu bercinta dengan istrinya.

Bayangan tentang percintaannya dengan Asih lenyap, ketika dia menyadari pahanya menempel pada suatu benda yang lembek, basah, dan lengket. Muh terbelalak ketika ia melihat sebongkah daging segar berwarna merah hati menggeliat-geliat di selangkangannya. Benda itu memiliki mata, bibir, hidung, dan dagu. Ketika Muh tengah dikecam rasa takut, benda itu menunjukkan seringainya.

Baca Juga:  Padang Suci : Sebuah Kisah Daripada Po A

Muh terbangun dari mimpi keparat itu. Ketika ia bangun, ia masih pada posisi terbaring sambil mengangkang di dekat bekas gundukan tanah yang telah ia gali. Muh segera mengambil cangkul yang berada tak jauh darinya, dan mulai menutup galian itu kembali, persis seperti semula. Semakin ia menutup galian itu, semakin bertambah tinggi gundukannya. Namun Muh tak sadar bahwa dirinya ikut terperangkap di dalam gundukan yang tengah dibangunnya kembali. Muh berteriak memanggil istrinya, “Asih, Asih….” tetapi Asih tengah sibuk di warung sambil cekikikan dengan petugas bank harian yang telah memberinya modal usaha.

Kecewa karena Asih tak mendengar teriakannya, Muh mulai meneriaki anak-anaknya. “Ningsih, Agus…! Tolong Bapak, Gus….”

***

Menjelang petang, Ningsih melihat Bapaknya tidur dengan posisi yang sama sedari siang, yakni miring ke kanan dengan kedua tangan terlipat di dada; seperti orang yang tengah kedinginan. Ningsih mondar-mandir mencari minyak jelantah untuk masak nasi goreng buat makan bapak nanti malam. Kalau Bapak bangun sebelum nasi gorengku matang, habislah aku disewoti Bapak, batin Ningsih. “Tidurlah yang nyenyak, ya, Pak. Jangan bangun dulu.” Dia mulai berbicara sendiri.

Di dapur, Ningsih masih belum menemukan minyak jelantah yang disimpannya dalam kaleng biskuit bekas lebaran lalu.

SELESAI

Linda A. Lestari lahir di Indramayu, 10 Oktober 1994. Karena suka minta dibelikan majalah Bobo setiap minggu, maka ia mulai menulis sastra sejak usia Sekolah Dasar. Pecinta motif leopard (macan tutul), pembelajar bahasa Spanyol, dan suka nonton film drama percintaan yang kedua tokohnya tidak dapat hidup bersama. Bercita-cita menjadi pengajar BIPA (Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing), ia gemari puisi-puisi Goenawan Mohamad dan Pablo Neruda. Tulisan pertamanya yang dimuat di media massa adalah cerpen yang berjudul Aku dan Dia (KaWanku Magazine edisi April 2012).

__________________________________

Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi (berdonasi*) karya baik berupa puisi, cerpen, esai, resensi buku/film, maupun catatan kebudayaan serta profil komunitas dapat dikirim langsung ke email: redaksi@nusantaranews.co atau selendang14@gmail.com

Loading...

Terpopuler