Connect with us

Hankam

Tentang Indonesia, Gatot: Bangkit Berubah, Atau Negara Kita Punah

Published

on

Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo Seusai Mengisi Acara Halal Bihalal Purnawirawan TNI Polri di Masjid At Tin, Jakarta. (Foto Dok. NUSANTARANEWS.CO).

Tentang Indonesia, Gatot: Bangkit Berubah, Atau Negara Kita Punah. Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo Seusai Mengisi Acara Halal Bihalal Purnawirawan TNI Polri di Masjid At Tin, Jakarta. (Foto Dok. NUSANTARANEWS.CO).

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Tentang situasi bangsa Indonesia saat ini, menurut mantan Panglima TNI era Presiden Joko Widodo, Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo hanya ada satu pilihan yakni bangkit berubah atau Negara Indonesia punah.

Hal itu disampaikan Gatot Nurmantyo saat memberikan sambutan di acara halal bihal purnawirawan TNI dan Polri di Masjid At Tin, Jakarta pada 25 Juni 2019 lalu.

“Nah sekarang ini saya menyampaikan apa yang disampaikan para sesepuh. Intinya adalah dalam situasi sekarang ini, bangkit berubah, atau negara kita punah,” kata Gatot dengan lantang dalam pidatonya.

Seketika para tamu undangan yang terdiri dari para purnawirawan tingkat tamtama, bintara hingga perwira dari seluruh Indonesia itu menyambut penuh gemuruh dengan pekikan teriakan, “Betul..”.

Gatot menjelaskan apa yang ia sampaikan itu merupakan pesan dari para senior senior mereka di TNI. Dirinya menjelaskan sebelum menghadiri acara halal bihalal, ia terlebih dahulu menyambangi para seniornya.

Loading...

“Sebelum saya kesini saya ketemu dengan beberapa senior. Sehingga materi yang saya sampaikan ini adalah akumulasi dari senior senior yang menyampaikannya. Saya hanya sebagai penyampai,” ungkap Gatot.

Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo Saat Pidato Pada Acara Halal Bihalal Purnawirawan TNI Polri di Masjid At Tin Jakarta. (Foto Dok. NUSANTARANEWS.CO)

Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo Saat Pidato Pada Acara Halal Bihalal Purnawirawan TNI Polri di Masjid At Tin Jakarta. (Foto Dok. NUSANTARANEWS.CO)

Gatot menjelaskan di dalam Undang Undang Dasar 1945, khususnya pada pembukaanya dibuat sebagai pentuk proteksi. Dimana saat itu Indonesia kondisinya masih baru merdeka. Masyarakatnya juga masih miskin, namun memiliki kekayaan akan sumber daya alam yang melimpah.

Baca Juga:  Disebut Negara yang Rentan Krisis, HIPMI: Perlu Solidaritas Hadapi Krisis

“Maka pembukaannya adalah merupakan tujuan nasional. Melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia. Ini merupakan proteksi, mengamankan. Karena kita miskin, sumber daya manusianya masih kurang, sumberdaya alamnya banyak, maka dibuatlah itu. Dilindungi semuanya, sumber daya alamnya. Seluruh tumpah darah Indonesia. Tidak mudah diberikan kepada siapapun juga,” tegasnya.

Selain itu di pembukaan UUD 1945 juga jelas, bahwa Negara harus ikut memajukan kesejahteraan umum serta mencerdaskan kehidupan bangsa. Dan ikut melaksanakan ketertiban dunia. Namun pasca reformasi, ruh di pembukaan UUD 1945 itu hilang.

“Setelah reformasi ruh dari Undang Undang Dasar 1945, ruhnya mulai hilang. Sehingga kita lihat ada jutaan hektar tanah kita dikuasai oleh asing. Ini karena melupakan pembukaan Undang Undang Dasar 1945. Para founding father kita sudah mewaspadai ini. Maka di pembukaannya dibuatlah seperti itu,” jelasnya.

Baca Juga: Juru Bicara Purnawirawan: “Halalbihalal Purnawirawan ‘ABRI, TNI dan Polri’ Murni Silaturahmi”

Bahkan pada pasal 33 ayat 3, bumi air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar besarnya kemakmuran rakyat. “Undang undang mengatakan seperti itu. Tapi ketika diganti, ya jadi seperti ini. Ini yang perlu saya ingatkan,” kata dia.

Gatot menjelaskan bahwa situasi kerjasama ekonomi dewasa ini memang merupakan suatu keniscayaan dan harus dilakukan. Tetapi yang harus diingat adalah ruang hidup bangsa Indonesia jangan ikut diserahkan juga.

“Kalau ruang hidup kita diserahkan, mau hidup kemana kita? Ini yang harus diwaspadai,” ungkapnya.

“Saya pernah mengatakan bahwa kalau kita waspada, (kita tidak akan) seperti suku Indian dulu di Amerika hilang, Aborigin Australia hilang, Melayu Singapur udah ke pinggir. Ini yang perlu diwaspadai. Siapa lagi kalau bukan kita? Kita harus peduli,” tegasnya.

Baca Juga:  Di SMAN 1 Pacitan, Ibas Puji Kebijakan Pendidikan Era SBY

Dirinya juga menjelaskan mengenai industrialisasi. Menurut dia, industrialisasi global yang tadinya padat karya sekarang berubah digantikan robot sehingga memicu pengangguran meningkat. “Nah pengangguran ini disalurkan ke Indonesia masuknya. Padahal kita belum siap bersaing tenaga kerja kita dengan yang di luar. Bukan kita buruk, tidak!” ujar dia.

Pun demikian dengan kebijakan bebas visa pemerintah, dimana penduduk dunia bisa tinggal dimanapun asal mendapatkan izin. “Inilah yang saya katakan bisa menyingkirkan kita, kalau kita tidak waspada,” ujarnya.

Karena menurut Gatot, mereka hijrah ke suatu Negara sudah berbekal, skill yang sudah disiapkan. Apalagi kita sekarang menerapkan bebas visa di beberapa Negara. Tujuannya bagus untuk mendatangkan wisatawan. Tetapi harus benar benar diperketat lagi.

“Saya ingatkan, kewaspadaan adalah harga sebuah kemerdekaan. Kita jangan sampai lengah. Kita jangan sampai acuh. Karena invasi sekarang dilakukan dengan tidak terang terangan. Tapi dengan cara diam diam. Maka kita harus waspada. Tanpa waspada, pertaruhan kita adalah kemerdekaan kita. Untuk itu purnawirawan harus bangkit atau bangsa ini akan punah,” tandasnya.

Pewarta: Romandhon

Loading...

Terpopuler