Connect with us

Politik

Temu Raya Almisbat: Dukung Jokowi Untuk Memperkuat Nilai-Nilai Kepemimpinan Baru

Published

on

Anggota Watimpres Sidarto Danusubroto saat membuka Temu Raya Nasional Almisbat ke 2 di Wisma Kinasih,Depok,Jawa Barat, Selasa (28/8/2018). (FOTO: NUSANTARANEWS.CO/Eddy Santri)

Anggota Watimpres Sidarto Danusubroto saat membuka Temu Raya Nasional Almisbat ke 2 di Wisma Kinasih,Depok,Jawa Barat, Selasa (28/8/2018). (FOTO: NUSANTARANEWS.CO/Eddy Santri)

NUSANTARANEWS.CO, Depok – Sedikitanya 200 aktivis dan kaum inteletual pendukung Presiden Joko Widodo yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Sipil untuk Indonesia Hebat (ALMISBAT) menggelar Temu Raya Nasional / Konggres ke 2 di Wisma Kinasih Depok, Jawa Barat, Selasa (28/9/2018). Acara yang diikuti perwakilan dari 60 Kabupaten/Kota se Indonesia tersebut diagendakan berlangsung selama 3 hingga 30 Agustus 2018.

Ketua Umum Almisbat Teddy Wibisana disela-sela acara mengungkapkan bahwa pertemuan tersebut akan menjadi momentum dalam upaya penyegaran organisasi, penyusunan program kerja organisasi dan memenangkan pasangang Jokowi-Ma’ruf di Pilpres 2019 mendatang.

“Pertemuan ini juga menjadi evaluasi dalam konsolidasi kami karena perjuangan untuk memenangkan Jokowi di periode ke dua lebih berat dibandingkan dengan perjuangan di periode pertama,” ujar Teddy, Selasa (28/82/2018).

Hal tersebut menjadi alasan Alimsbat karena menurut Teddy bukan soal adanya pameo bahwa “mempertahankan lebih berat dibandingkan dengan merebut”. Tapi ,lanjut Teddy, menyangkut kemarahan dan resistensi para elite, yang merasa bahwa nilai-nilai lama mereka harus dicabut dan digantikan dengan nilai-nilai baru

Seperti nilai tentang kepemimpinan,kata Teddy, oang yang tidak menginginkan kemenangan Jokowi-Ma’ruf menganggap bahwa pemimpin harus datang dari kelompok mereka, kelompok elite, kelompok the have atau yang merasa the have. “Sehingga mereka sulit menerima jika ada pemimpin yang datang dari masyarakat biasa,” imbuh Teddy.

Loading...

Mereka,ungkap Teddy tidak bisa menerima jika nilai kepemimpinan dimanivestasikan dalam kerja untuk mewujudkan gagasan. Karena menurut Teddy, justru terbiasa dengan kegenitan pencarian gagasan dan bermain-main dengan wacana, tetapi malas dalam mewujudkannya.

Baca Juga:  Kata-Kata Itu Telah Mati

“Dan jika ingin mewujudkannya, Ciri khas mereka selalu mengandalkan orang lain atau bawahannya,” uapnya.

Bahkan secara lugas Teddy menuturka bahwa sebagian kalangan yang antipati kepada Pemerintahan Jokowi karena ingin mempertahankan priviledge mereka sebagai elite untuk terus menerima “upeti”. Sehingga dalam pandangan Teddy, mereka terganggu gaya hidupnya saat nilai baru yang menjaga jarak dengan KKN tumbuh.

Teddy menganggap, merasa terancam takut nilai-nilai mereka punah. Rasa terancam itu kata Teddy sudah dirasakan saat pihaknya memenangkan Jokowi di periode pertama. Dan menuju periode ke 2, rasa terancam mereka akan semakin besar, karena setelah lebih dari 4 tahun nilai-nilai kepemimpinan yang baru, yang menganut kesetaraan, kerja keras dalam mewujudkan gagasan, dan menjaga jarak dengan KKN, mendapat tempat besar di masyarakat.

“Maka sangat jelas, bahwa ini bukan hanya soal memenangkan pemimpin dengan mengadu program dan gagasan, tapi memenangkan pertarungan melawan orang yang putus asa sehingga menghalalkan fitnah/hoax, SARA dan ujaran kebencian,” paparnya.

Untuk itu Teddy menegaskan bahwa pihaknya tidak pernah takut dengan adu program dan gagasan. Karena selama 4 tahun ini kualitas oposisi kita baru terbatas Pokrol Bambu, berdebat hanya untuk berdebat.

“Kami tak pernah takut terkait adu program untuk apalagi adu gaasan. Karena sekali lagi kami tegaskan, bahwa yang kami hadapi ada tiga hal yakni,Hoax, SARA dan Ujaran Kebencian. Karena ke tiga hal tersebut bisa merobek persatuan bangsa,” pungkas Teddy.

Pewarta: Eddy Santri
Editor: Achmad S.

Loading...

Terpopuler