Connect with us

Mancanegara

Tembakan 6 Roket Sambut Kunjungan Mattis ke Afghanistan

Published

on

Hamid Karzai International Airport, Kabul, Afghanistan. (Foto: AIRSSIST)

NUSANTARANEWS.CO, Kabul – Sedikitnya enam buah roket mendarat di dekat bandara internasional Kabul pada Rabu (27/9) setelah Menteri Pertahanan Amerika Serikat Jim Mattis beberapa jam tiba di ibukota Afghanistan untuk mengadakan pembicaraan dengan pejabat terkait.

Tembakan roket tersebut menyasar dekat kamp militer di bandara tersebut namun tidak ada korban jiwa. Juru Kementerian Dalam Negeri AS, seperti dikutip Daily Mail, juga mengkonfirmasi belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab atas serangan tak terduga itu.

Aparat keamanan telah menutup area tersebut untuk menemukan lokasi yang tepat dari mana roket tersebut diluncurkan. Namun, penerbangan tidak ada yang dibatalkan dan aktivitas penerbangan tetap berjalan seperti nomalnya.

Serangan roket ini terjadi beberapa jam setelah Mattis tiba di Kabul, sebagai anggota kabinet pertama Presiden Donald Trump yang mengunjungi negara yang dilanda perang tersebut. Afghanistan telah menjadi medan perang terpanjang Amerika Serikat karena Oktober mendatang sudah menginjak usia 16 tahun sejak invasi dimulai pada tahun 2001 silam.

Amerika Serikat berencana tetap melanjutkan perangnya dengan cara mencari strategi baru dalam menghadapi kekuatan Taliban yang masih tersisa setelah 16 tahun diburu. Kabarnya, Taliban semakin kuat dengan perang gerilya yang mereka peragakan.

Kunjungan Mattis ke Afghanistanm dilaporkan tanpa pemberitahuan. Padahal, saat ini pasukan keamanan Afghanistan tengah terkepung dan berjuang keras melawan Taliban yang terus melancarkan serangan mematikan sejak penarikan pasukan tempur NATO pada 2014 silam.

Baca Juga:  Taliban dan Amerika Merajut Damai Bumi Afghanistan

Kali ini, ada kemungkinan pasukan tempur NATO kembali dikerahkan mengingat perlawanan sengit Taliban. Dan kunjungan Mattis kali ini bersama dengan pimpinan NATO Jens Stoltenberg yang dijadwalkan bertemu dengan Presiden Ashraf Ghani serta pejabat tinggi lainnya untuk membahas misi bantuan NATO pimpinan AS yang dirancang untuk memperkuat militer Afghanistan.

“Diskusi berfokus pada kemitraan NATO-Afghanistan, termasuk misi resolusi NATO untuk mendukung pasukan pertahanan dan keamanan Afghanistan,” kata sebuah pernyataan.

Mattis sudah berulang kali menegaskan bahwa situasi di Afghanistan tengah buntu. Meskipun bertahun-tahun pasukan AS bekerjasama dengan pasukan pemerintah Afghanistan yang dibantu juga pasukan koalisi NATO situasi masih belum kondusif bahkan cenderung semakin berbahaya karena ancaman Taliban. Pembiayaan pengerahan pasukan ke Afghanistan sangat besar. Biaya keseluruhan selama pertempuran dan rekonstruksi sudah lebih dari 1 triliun dolar AS.

Pasca pasukan tempur NATO ditarik, Taliban semakin trengginas. Bahkan, Taliban kembali bangkit dan berjanji untuk mengubah Afghanistan menjadi kuburan bagi pasukan asing. Mereka juga telah meningkatkan serangan mematikan karena pertahanan mereka di wilayah selatan cukup kuat dan sukar ditembusi.

Pada Februari lalu, dilaporkan sekitar 60 persen dari 407 kabupaten di Afghanistanberada di bawah kendali pemerintah. Artinya, ada sekitar 40 persen di wilayah-wilayah tersebut masih dikuasai Taliban.

Sementara itu, pemerintahan Trump berencana mengirim lebihd ari 3.000 tentara tambahan ke Afghanistan di mana saat ini sudah ada sekitar 11.000 yang ditempatkan di sana. Sedangan sekutu NATO masih memiliki 5.000 tentara di Afghanistan.

Setelah mengunjungi Kabul, Mattis langsung terbang ke New Delhi India untuk berdiskusi dengan Nirmala Sitharaman. Sayangnya, Nirmala sebelumnya sudah menegaskan bahwa India tidak akan mengerhkan tentara ke Afghanistan sebagai bagian dari strategi baru Trump memerangi Taliban. (ed)

Baca Juga:  Menhan AS Keluarkan Statemen Tajam Terkait Korea Utara

(Editor: Eriec Dieda)

Loading...

Terpopuler