Connect with us

Ekonomi

Tekad Pemerintah Capai Pertumbuhan Ekonomi 7 Persen, Pengamat: Hampir Mustahil

Published

on

Pertumbuhan Ekonomi Melambat

Pertumbuhan Ekonomi Melambat/Ilustrasi SS/Nusantaranews.co

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Mantan anggota Tim Asistensi Ekonomi Presiden RI Faisal Basri mengungkap hampir semua indikator makro ekonomi jangka pendek menunjukkan perkembangan yang cukup menggembirakan. Kendati demikian, kestabilan yang terjaga, belum mampu membawa perekonomian tumbuh mengakselerasi. Pertumbuhan ekonomi masih terus mengalami trend melemah, baik dalam jangka panjang maupun jangka menengah.

“Setelah krisis ekonomi 1998, pertumbuhan ekonomi tidak kunjung menembus 7 persen. Pada periode 2007-2012, pertumbuhan ekonomi hampir selalu di atas 6 persen. Namun, sejak 2013 hingga sekarang cuma berkutat di kisaran 5 persen, bahkan pernah di bawah 5 persen pada 2015,” ungkap Faisal seperti dikutip dari lamannya, Rabu (23/8/2017).

Menurut pengamat ekonomi Indonesia ini, tekad pemerintahan di bawah Presiden Joko Widodo untuk meraih pertumbuhan rerata 7 persen selama masa baktinya hampir mustahil tercapai.

“Jangankan 7 persen, untuk mencapai 6 persen saja membutuhkan keajaiban. Realisasi pertumbuhan rerata setahun selama 2015-2019 diperkirakan hanya 5,2 persen,” papar Faisal dalam orasinya yang disampaikan kepada para wisudawan Universitas Palembang, Palembang beberapa waktu lalu.

Simak: Semua Indikator Makroekonomi Jangka Pendek Dinilai Cukup Menggembirakan

Pendiri Partai Amanat Nasional (PAN) ini menyebut ada dua faktor fundamental yang menghadang akselerasi pertumbuhan.

“Pertama, ibarat tubuh manusia, volume “darah” dan fungsi “jantung” dalam perekonomin Indonesia belum optimal. Jika kita kekurangan darah atau menderita anemia, tubuh akan pucat pasi. Jika fungsi jantung terganggu, kemampuan menyedot darah menurun, demikian pula kemampuan memompakan kembali darah ke sekujur tubuh secara merata,” kata Faisal.

Darah dalam perekonomian yang ia maksud adalah uang atau dana yang beredar dalam sistem keuangan. Perekonomian memiliki dua jantung. Jantung pertama dan utama adalah sektor keuangan, khususnya perbankan. Jantung kedua adalah pemerintah.

Baca Juga:  Faisal Basri Sebut Biofuel Tak Bisa Mengatasi Ancaman Defisit Energi

“Kedua jantung berfungsi menyedot dana dari masyarakat dalam bentuk dana pihak ketiga (giro, tabungan, dan deposito) untuk perbankan dan pajak untuk pemerintah. Dana yang disedot dipompakan kembali dalam bentuk kredit (untuk perbankan) serta belanja semasa (current spending) dan belanja modal (capital spending) untuk pemerintah,” jelasnya.

Karena, lanjut dia, hanya 39,1 persen penduduk usia dewasa yang memiliki akses ke perbankan (financial literacy) dan nisbah pajak (tax ratio) relatif rendah dengan kecenderungan menurun, darah yang mampu disedot terbatas. Sebagai akibat, kemampuan memompakan kembali pun terbatas pula.

Padahal, kata Faisal, untuk memacu pertumbuhan berkelanjutan, investasi usaha dan pembangunan infrastruktur harus terus dipacu, baik berupa perluasan kapasitas produksi maupun untuk penggantian dan pembaruan sejalan dengan kemajuan teknologi.

Sedemikian rendah penetrasi kredit terlihat dari kredit yang disalurkan kepada sektor swasta, hanya 39,1 persen dari PDB. Sebagaimana jamaknya, investasi sektor swasta sekitar 90 persen dari investasi total, sedangkan investasi pemerintah hanya 10 persen.

“Bandingkan dengan China, Thailand, Afrika Selatan, Singapura, Malaysia, dan Vietnam yang kredit ke sektor swastanya mengucur kencang hingga di atas 100 persen. Sekedar dengan kamboja, Filipina, dan Bangladesh pun kita tertinggal. Data kredit yang disalurkan oleh sektor keuangan pun menunjukkan kondisi serupa,” cetusnya.

Mirip dengan fungsi jantung utama (sektor keuangan), kata Faisal lagi, fungsi jantung kedua pun bermasalah. Kenaikan pemerimaan pajak lebih lambat dari pertumbuhan ekonomi, sehingga menurunkan nisbah pajak (tax ratio). Niscaya ada penyempitan pembuluh darah ke jantung kedua (pemerintah) yang harus ditangani, karena penurunan nisbah pajak sudah berlangsung cukup lama.

Baca: Perekonomian Tak Lesu, Meski Petani Tanaman Pangan Alami Kemerosotan Tajam

Baca Juga:  Golkar Optimis Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2018 Capai 5,8 Persen

Sebagai akibat, tambah dia, kemampuan pemerintah untuk turut menggenjot pertumbuhan ekonomi sangat terbatas. Kualitas pelayanan pemerintah sulit ditingkatkan, peningkatan kesejahteraan aparatur negara terkendala. Kalau pemerintah memaksakan diri menggenjot pembangunan infrastruktur, pemerintah terpakasa harus lebih banyak berutang. Karena utang pemerintah lebih banyak dalam bentuk Surat Utang Negara (SUN), terjadi efek mendesak (crodwing-out effect).

Dia menjelaskan, pemerintah bersaing dengan perbankan untuk memperebutkan dana masyarakat. Untuk berlomba dengan pemerintah, perbankan akan menaikkan suku bunga sehingga berpotensi menurunkan pertumbuhan kredit dan investasi. Akibatnya, peningkatan belanja modal pemerintah tidak berdampak maksimal terhadap pertumbuhan atau tidak terjadi full multiplier effect.

“Kedua, perekonomian Indonesia cenderung semakin tertutup. Dalam sepakbola bisa diibaratkan dengan klub yang menerapkan strategi bertahan,” kata Faisal. Wujud ekstrem dari taktik bertahan itu, sambungnya, mirip dengan memarkir bus berjejeran di depan gawang seperti beberapa kali diterapkan pelatih Jose Mourinho ketika melatih Chelsea.

Padahal, tegas Faisal, strategi menyerang lebih menjanjikan ketimbang bertahan. Tengok kompetisi sepakbola paling bergensi di dunia, Premier League di Inggris dan LaLiga Santander di Spanyol. Pemenang di kedua liga ialah Chelsea (Liga Inggris) dan Real Madrid (Liga Spanyol). Penyandang gerar juara atau setidaknya runner-up adalah klub yang paling banyak membobolkan gawang lawan, bukan yang paling sedikit kebobolan.

Percaya atau tidak, kenyataan menunjukkan Indonesia adalah satu-satunya negara di dunia yang perekonomiannya semakin tertutup. Dimana, tingkat keterbukaan ekonomi diukur dengan persentase ekspor dan impor barang dan jasa terhadap PDB. Di era globalisasi, seluruh negara terlibat semakin dalam di pasar dunia. Singapura merupakan pengecualian karena negara kecil ini mengekspor dua kali lipat lebih banyak dari yang diproduksi, akrena Singapura aalah negara transhipment (numpang lewat). Jika ekspor negara tetangga turun, ekspor Singapura turut turun. Begitu juga sebaliknya untuk impor.

Baca Juga:  Jika 2018 Pertumbuhan Ekonomi Naik, Upah Dinilai Bisa Naik 620 Ribu

“Terlepas dari perbedaan ideologi, jumlah penduduk, negara kaya atau miskin, kondisi geografis dan faktor musim, semua negara semakin membuka diri. Indonesia justru sebaliknya,” ujarnya.

Sebaliknya dengan Indonesia. Selama 16 tahun terakhir perekonomian Indonesia menunjukkan kecenderungan semakin tertutup. Indonesia telah menyia-nyiakan kesempatan emas untuk mempercepat peningkatan kesejahteraan rakyatnya. Padahal, sejarah panjang Nusantara membuktikan keterbukaanlah yang membuat Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Majapahit berjaya. Bahkan, jauh sebelumnya, pada abad kedua, warga Nusantau (sebelum berubah menjadi Nusantara) telah menjejakkan kaki di benua Afrika dengan menggunakan kapal dan sistem navigasi buatan sendiri.

“Taktik bertahan Indonesia tercermin dari penerapan berbagai macam pembatasan perdagangan dan investasi yang jauh lebih banyak ketimpang di negara-negara tetangga dekat,” tandasnya.

Baca artikel sebelumnya:

Pewarta/Editor: Ach. Sulaiman

Loading...

Terpopuler