Connect with us

Lintas Nusa

Teguhnya Nasionalisme Masyarakat Krayan Meski 75 Tahun Terisolir

Published

on

Teguhnya nasionalisme masyarakat Krayan meski 75 tahun terisolir.

Teguhnya nasionalisme masyarakat Krayan meski 75 tahun terisolir. Aksi masyarakat Krayan saat membentangakan Bendera Merah Putih Raksasa dalam peringatan HUT RI ke 75. Foto tokoh masyarakat Krayan, Gat Kaleb. (dalam box)

NUSANTARANEWS.CO, Nunukan – Teguhnya nasionalisme masyarakat Krayan meski 75 tahun terisolir. Ada yang berbeda dalam perayaan HUT RI ke 75 di wilayah Perbatasan RI-Malaysia tepatnya di Krayan, Nunukan, Kalimantan Utara (Kaltara). Di mana pada peringatan hari kemerdekaan Indonesia kali ini, masyarakat Krayan, TNI-Polri, dan unsur lainya melakukan aksi kebangsaan yang cukup spektakuler yakni membentangkan Bendera Merah Putih berukuran raksasa di Gunung Yuvai Semaring.

Mungkin aksi seperti itu sekilas hanya sebagai aksi Pembentangan Bendera Raksasa seperti di tempat-tempat lainya. Namun jika yang membentangkan Kain Merah Putih berukuran 10 X 12 Meter tersebut adalah masyarakat yang selama Indonesia merdeka berada dalam keterisolasian, hal tersebut tentu sebuah momen langka dan sulit ditemui di negeri ini.

Diketahui, Krayan adalah salah satu daerah pemukiman di Perbatasan  RI-Malaysia di Kabupaten Nunukan. Namun bukan seperti kebanyakan wilayah perbatasan pada umumnya yang penuh fasilitas pelayanan publik, masyarakat dari 5 Kecamatan ini hanya dapat menggunakan pesawat dalam aktfitas transportasinya lantaran hingga kini belum ada akses jalan darat yang tersambung ke wilayah ini.

“Aksi pembentangan bendera merah putih raksasa pada itu, selain memperingati HUT RI ke 75, juga terkandung pesan yang ingin masyatakat Krayan sampaikan kepada seluruh masyarakat Indonesia dan Pemerintah,” tutur Gat Kaleb, tokoh masyarakat Krayan, Selasa (18/8).

Menurut pria yang juga anggota DPRD Kabupaten Nunukan tersebut, bahwa melalui aksi pembentangan Bendera Merah Putih rakasasa itu masyarakat Krayan ingin menyerukan kepada semua masyarakat di Indonesia bahwa kemerdekaan bukan sesuatu yang didapat secara gratis namun dicapai dengan kristalisasi keringat, cucuran air mata dan tumpahnya darah.

Baca Juga:  Tersisa 2 Laga, Chelsea Sudah Juara

“Sehingga atas hal itu kita mengajak agar senantisasa mewarisi semangat juang para pendiri bangsa ini dalam mengisi kemerdekaan melalui kreasi yang positif,” tandasnya. (ES)

Masyarakat Krayan, lanjut Gat, juga ingin menyerukan bahwa nasionalisme adalah salah satu unsur paling penting dalam kedaulatan. Bahwa masyarakat Krayan sejak Indonesia medeka hingga saat ini selalu terisolir dalam derap pembangunan, namun tak berarti luntur nasionalismenya.

“Masyarakat Krayan itu sudah terisolir, godaan disintegrasi didepan mata. Kenapa tidak? Pada saat mendapatkan kebutuhan dan fasilitas pelayanan dari negara sendiri sangat susah, di Malaysia untuk mendapatkanya terbilang sangat mudah. Namun kami tetap setia pada NKRI,” tegasnya.

Gat tak menampik anggapapan berbagai pihak bahwa aksi pembentangan bendera merah putih raksasa itu juga mengandung makna kritikan kepada Pemerintah. Menurutnya, bendera adalah lambang kehormatan sebuah lembaga dan atau negara. Sehingga aksi tersebut juga dapat diartikan, bahwa kehormatan sebuah negara juga terletak pada bagaimana wajah perbatasanya.

“Semoga saja Pemerintah Pusat tanggap dengan pesan moral dari masyatakat Krayan melalui aksi tersebut,” pungkas politisi partai Demokrat itu. (ES)

Loading...

Terpopuler