Connect with us

Ekonomi

Taufik Ismail Nilai Pendapatan Cukai Rokok Tak Sebanding Dengan Penyakitnya

Published

on

Taufik Ismail/Foto Ucok/Nusantaranews

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Dalam Nota Keuangan RAPBN 2018, industri hasil tembakau diperkirakan mengalami penurunan produksi sebesar tiga persen dari 331,7 miliar batang menjadi 321,9 miliar batang rokok. Sebelumnya, produksi rokok 2016 turun sebesar 1,8 persen atau setara dengan enam miliar batang, menjadi 342 miliar batang.

Penyair Kawakan, Taufik Ismail mengatakan pendapatan negara melalui cukai rokok tidak berbanding lurus dengan penyakit yang di derita masyarakat. “Buruk sekali, buruk sekali, income cukai yang diperoleh kalau itu besarnya kali maka pengobatan yang diderita oleh masyarakat untuk mengobati yang sakit itu tiga kali. Tiga kali lipat. Dan ini ditutup-tutupi oleh perusahaan rokok,” kata Taufik, Selasa (29/8/2017).

Taufik melanjutkan, melihat dampak yang dihasilkan dari bahaya rokok, mestinya pemerintah membuat aturan rigit mengatur tentang peredaran rokok di pasaran. “Sekian juta keluarga yang kena penyakit gara-gara itu (rokok), dan juga masyarakat bisa mengeluarkan 200-300 juta rupiah. Nah itulah yang kita hadapi di Indonesia sekarang. Amerika dan Eropa sudah lewat, mereka sudah terhindar dari masalah ini. Kita sekarang tetap masih menderita soal itu,” ujanya.

Besarnya pendapatan yang diterima oleh negara dari cukai rokok, tidak dijadikan sebagai alasan untuk pemerintah melakukan pembatasan terhadap peredaran rokok.

Ndak papa, kerugian yang diderita bangsa ini tiga kali lipat lebih besar. Jangan dilihat dari apa yang diterima oleh negara,” kata Taufik.

Menurut Taufik apabila nanti pemerintah melarang peredaran rokok, taufik mengklaim ada solusi untuk petani tembakau agar beralih ketanaman palawija.

“Ada penelitian di ITB itu sekitar 15-20 tahun yang lalu yang sudah memikirkan ini kemudian petani yang biasanya bertani tembakau itu bisa mnegalihkan pertaniannya kepada palawija dan lain-lain. Itu tidak diperdulikan ya udah tinggal melaksanakan saja,” tutup dia.

Baca Juga:  Ke mana Mengalirnya Cukai Rokok Selama Ini?

Pewarta: Syaefuddin A
Editor: Romandhon

Loading...

Terpopuler