Connect with us

Hukum

Target Utama Teroris Adalah Kau dan Aku

Published

on

definisi terorisme, definisi terorisme belum final, tindakan terorisme, melawan terorisme, kelompok teroris, daftar teroris, label terorisme, teroris palsu, terorisme negara, pemerintah otoriter, kofi anan, hukum internasional, non state actor

Ilustrasi target teroris. (Foto: IST)

NUSANTARANEWS.CO – Tulisan lalu telah menunjukkan bahwa, betapa kita membutuhkan sebuah definisi terorisme yang berlaku umum, dan disepakati oleh level yang lebih tinggi, yakni kepala negara atau pemerintahan. Tujuan utamanya ialah agar kita bisa menjalin kerjasama antar negara dalam menghadapi terorisme. Mulai dari tukar menukar informasi sampai ekstradisi. Jadi lebih kepada tindak pencegahan.

Tidak adanya suatu definisi umum tentang terorisme, jelas buruk. Apalagi fenomena terorisme sangat beragam elemennya. Bisa saja terorisme menjadi instrumen dan taktik kelompok-kelompok tertentu, baik non state actor, atau state actor itu sendiri untuk mencapai tujuan tertentu. Kadang-kadang sukar dipahami apa yang sesungguhnya diinginkan teroris, bisa saja kekerasan itu sendiri menjadi metode dan tujuannya. Misal kasus pembantaian di sebuah klub gay Orlando baru baru ini, apakah bisa digolongkan sebagai sebuah aksi terorisme? Atau aksi kekerasan itu sendiri yang menjadi tujuannya? Kita akan bahas di lain waktu.

Baca: Sebuah Upaya Mendefinisikan Terorisme

Takut. Ya, menyebarkan ketakutan. Inti dari terorisme lebih kepada menyebarkan ketakutan, bukan kematian. Jadi bukan tentang jumlah korban meninggal, tapi berapa banyak yang ketakutan? Teroris kadang-kadang berhasil melakukan dengan cara yang sangat terbatas, terutama bila dilakukan di negara-negara yang jarang menghadapi terorisme.

Misal situasi negeri Belanda sekitar tahun 2005-2006, menurut sebuah polling opini publik menunjukkan bahwa 40% masyarakat Belanda menganggap terorisme sebagai satu dari dua masalah penting yang dihadapi negeri kincir angin itu. Masyarakat Belanda menjadi ketakutan setelah insiden Madrid yang membunuh 200 orang dan bom London yang menewaskan 50 orang. (Baca juga: Potret 200 Tahun Fenomena Terorisme)

Baca Juga:  Polisi: Waspada Teror Jelang Peringatan Hari Kemerdekaan
Loading...

Menurut Brian Jenkins (1975), terorisme itu tidak melulu tentang membunuh orang. Teroris itu ingin disaksikan oleh banyak orang. Nah, dalam konteks Belanda, pernyataan Jenkins tentu masih relevan, karena aksi terorisme berhasil menimbulkan ketakutan ditengah publik. Paling tidak elemen ketakutan itu telah menyebar, menjelma menjadi sebuah pesan yang bersifat umum.

Elemen penting lainnya adalah target tidak langsung, karena jarang teroris menyerang langsung kepada ke target utama. Misal serangan 9/11, dimana 3.000 orang korban tewas. Teroris tidak perlu membunuh banyak orang, tapi mereka ingin mencari perhatian banyak orang. Sasarannya adalah mereka yang menyaksikan dan menonton peristiwa tersebut. Termasuk anda tentunya.

Jadi, target tidak langsung lebih sering digunakan oleh teroris dibanding ke target utama. Kekerasan atau serangan brutal peristiwa 9/11 di New York, Washington, dan Pennsylvania bukan ditujukan kepada korban, tapi kepada mereka yang hidup, dan menyaksikan.

Target utama teroris adalah kita. Kau dan aku. Strategi teroris adalah membunuh satu atau beberapa orang untuk menakut-nakuti milyaran orang. Mereka ingin agar kita bereaksi berlebihan, dan biasanya berhasil. Disini peran media sangat besar dalam menyebarkan ketakutan. Boleh dikatakan kita dibawa “Nonton bareng aksi teroris”.

Dampak terorisme bisa sangat besar dan menjadi ancaman nyata yang serius. Bukan dalam hal fisik, tapi lebih kepada hubungan antar personal di kalangan masyarakat, yang pada gilirannya bisa saja berdampak terhadap stabilitas politik dan perekonomian suatu negara.

Nah, beberapa catatan penting yang mungkin bisa dijadikan kesepakatan bahwa terorisme adalah instrumen, alat, dan mekanisme, untuk menyebarkan ketakutan dengan cara menggunakan kekerasan dalam rangka mempengaruhi publik dan politik.

Tidak bisa dipungkiri bahwa publik dan politisi lebih bereaksi setelah insiden teroris terjadi, hal ini boleh dibilang sangat membantu kepentingan para teroris. (Agus Setiawan/Diolah dari berbagai sumber)

Baca Juga:  Menjaga NKRI dari Potensi Kehancuran dan Terpecah-belah di Era Teknologi Informasi
Loading...

Terpopuler