Hukum  

Tangkap 10 Tokoh, Gerindra: Kontra Produktif Dengan Demokrasi

NUSANTARANEWS.CO – Wakil Ketua Umum (Waketum) Partai Gerindra, Arief Poyuono, mengungkapkan bahwa penangkapan terhadap sejumlah tokoh nasional atas tuduhan makar oleh pihak kepolisian bisa menjadi tindakan yang kontra poduktif dengan proses demokrasi di Indonesia.

“Saya rasa ini bisa jadi kontra produktif ya dengan demokrasi ya,” ungkapnya kepada wartawan di Jakarta, Jum’at (2/12/2016).

Arief mengatakan, jika memang ditangkapnya sejumlah tokoh tersebut atas tuduhan makar, maka hal tersebut haruslah dibuktikan terlebih dahulu oleh pihak kepolisian.

“Ya kalau tuduhannya makar harus dibuktikan dulu, tapi ini kalau dilakukan penangkapan bisa disebut sebagai sebuah kemunduran Demokrasi,” ujarnya.

Penangkapan tersebut, lanjut Arief, justru akan semakin membuat keadaan politik di Indonesia menjadj tidak kondusif ke depannya. “Dan ini bisa berimbas pada perlawanan mirip perlawanan terhadap Soeharto di era orde baru,” katanya.

Arief menilai, para tokoh yang ditangkap polisi tidak memiliki kemampuan dan kekuatan politik untuk menggulingkan Pemerintahan Joko Widodo (Jokowi).

“Saya melihat ini hanya sebagai pengamanan sajalah yang dilakukan Polisi agar mereka tidak ikut dalam aksi 212,” ujarnya.

Untuk itu, Arief pun meminta kepada polisi agar segera melepaskan semua tokoh yang telah ditangkap. “Nah saya harap polisi juga tidak perlulah memproses sebagai sebuah tindakan makar dari mereka. Dan harapan saya Polisi Cepat membebaskan mereka dan saya harap Aksi 212 bukan untuk aksi menurunkan Joko Widodo,” ungkapnya lagi. (Deni)