Connect with us

Budaya / Seni

Taman di Belakang Jalan Raya – Cerpen Julia Hartini

Published

on

2016 New Arrival Fallout Cuadros Painting Collage Psychedelic Art Urban Life Style 4 Sizes Home Decoration Canvas Poster Print(China (Mainland))/Foto: aliexpress.com
2016 New Arrival Fallout Cuadros Painting Collage Psychedelic Art Urban Life Style 4 Sizes Home Decoration Canvas Poster Print(China (Mainland))/Foto: aliexpress.com

NUSANTARANEWS.CO – Berjalan ke neraka. Begitulah orang-orang berkata. Ada gegas langkah sekaligus ketakutan saat mereka melewati tempat itu. Semua warga percaya para dedemit menunggu di balik pohon-pohon besar yang sudah merontokkan daun-daun hingga hanya ada gersang paling abadi. Tanah-tanah di sini masih juga retak sekalipun guyur hujan singgah. Kendati demikian, saya selalu meyakini bahwa taman tersebut adalah bagian dari apa yang saya miliki.

Menjelang petang, saya akan datang dengan melangkahkan sisa kaki kanan saya yang cukup tangguh untuk menopang badan ringkih ini. Dengan tongkat yang tak pernah diganti dari puluhan tahun yang lalu, saya akan menyusuri jalan yang sedikit demi sedikit mulai diaspal. Hanya ada beberapa kendaraan yang lewat. Itu pun truk-truk besar yang mengangkut semen dan bahan bangunan.

Dari rumah, saya akan berjalan lurus ke selatan sampai menemui sebuah jalan raya. Jika sudah berada di sebuah warung bambu, saya belok kanan dan mengikuti satu jalan kecil yang dipinggirnya hanya ada kebun singkong, tanah yang dipenuhi ilalang tinggi, dan sampailah pada sebuah taman yang tak menyisakan satu keindahan sedikit pun. Setidaknya, mereka berkata begitu.

Orang-orang jarang melewati taman ini. Adapun yang lewat lantaran terpaksa karena jalan utama ditutup saat ada hajat pernikahan atau khitan. Mereka akan berlari sangat kencang daripada menikmati taman mati yang dipenuhi cerita-cerita pembunuhan dan gaib. Memandang ke segala penjuru, tak ada air yang menetes.

Tempat ini telah dikutuk dewa-dewa.

Loading...

Waktu itu, saat saya masih memiliki kaki yang lengkap, jangankan manusia, para hewan pun bersetia pulang pada pohon-pohon yang hijau dengan nyanyian burung-burung. Orang-orang bernapas lega sambil membaringkan tubuh mereka ke tanah basah yang ditutupi rerumput. Memejamkan mata karena angin terlampau sepoi sehingga memberikan kantuk berlebihan. Saya pun demikian.

Setelah menjual bunga di pasar, bersama kawan-kawan yang lain, saya akan datang ke tempat rindang ini. Membicarakan gadis kampung yang juga teman kami. Rata-rata mereka sudah dipersunting lelaki yang umurnya terpaut jauh. Kami pun harus menelan ludah ketika gadis incaran sudah dimiliki lelaki lain yang selama ini sudah kami anggap sebagai guru.

Baca Juga:  Genesis - Cerpen Royyan Julian

“Kau patah hati melihat Reni menikah dengan Mas Sawon?” mereka diam-diam  penasaran juga dengan kisah cintaku dengan Reni.

“Saya hanya penjual bunga. Tak pantas mendampingi Reni. Itu hanya masa lalu. Dia akan bahagia dengan guru ngaji,” saya berusaha bijak menjawab pertanyaan kawan saya. Walaupun, harus diakui bahwa saya belum ikhlas  menyerahkan Reni kepadanya.

“Kudengar, Reni masih mengirim surat cinta lewat Irwan, adikmu,” salah seorang teman saya menimpali dengan cukup antusias.

Saya hanya menggeleng. Saya memang mendapat surat-surat itu melalui Irwan. Namun, jangankan membalas, membacanya pun tak pernah. Memang ada keinginan untuk membaca surat-surat tersebut, tetapi niat itu buru-buru saya kandaskan karena tak baik berhubungan dengan seseorang yang sudah memiliki pasangan. Lalu, saya akan merobek kertas-kertas tersebut hingga tiada lagi padu. Saya tak ingin ada kesempatan untuk merangkai potongan surat tersebut. Karena itu, saya memotongnya kecil-kecil seperti serbuk gergaji kayu.

Dulu, saya mengenal perempuan itu di taman ini. Sebuah taman tanpa nama. Orang-orang menyebutnya taman di belakang jalan raya. Hanya itu yang bisa menjadi tanda keberadaan. Orang-orang yang lelah akan sengaja memarkirkan truk-truk di jalan raya dan berjalan kaki demi mengistirahatkan pantat dan punggung yang pegal.

Kepala desa sengaja membuat taman ini sebagai tempat untuk menerima tamu yang datang. Namun, karena sudah memiliki pendopo yang baru, pemerintah tingkat desa tak lagi menggunakan sehingga masyarakat bebas menggunakan siang dan malam.

Dulu, Reni datang ke tempat ini dengan lengan yang memar. Dia tak henti menangis. Saya memerhatikan dari jauh. Saya menjadi ragu untuk menghampirinya atau membiarkannya seorang diri menangis. Rupanya, saya tak setega itu.

“Kenapa menangis?” saya memberanikan diri duduk di sampingnya. Dia sedikit menggeser letak duduknya dengan menjauhi saya.
“Tidak apa-apa. Apa urusanmu melihatku menangis?”

Mendengar jawaban yang seperti itu. Tahulah saya bahwa keberadaan raga ini hanya bagian dari gangguan. Saya pun berdiri. Lalu, memutuskan untuk pergi saja. Apa gunanya berada di sampingnya.

Baca Juga:  Buah Jatuh (Tidak) Jauh Dari Pohon

“Heh, mau kemana? Kamu tak ingin menemaniku sebentar? Setidaknya, sampai aku berhenti menangis,” pintanya.

Saya kemudian ragu untuk meninggalkan. Ternyata, dia butuh teman. Dari sana, dia bercerita banyak bahwa dirinya baru saja dipukul oleh bapak di rumah karena menolak membelikan sebatang rokok. Gadis yang malang, batin saya.

Dari pertemuan tersebut, saya tahu perempuan itu seumuran dengan saya dan sekolah di desa sebelah. Kehidupan kami cukup berbeda. Dia hanya diharuskan belajar dan mengurus adik-adiknya, sedangkan saya harus sekolah dan menjual bunga di pasar. Sejak mengenalnya, tak jarang, saya mengambil satu bunga yang akan dijual untuk kuberikan kepada dia. Beruntungnya, bunga-bunga itu tumbuh pula di hatinya. Bahkan, semakin semarak dan bermekaran.

Kami saling mengenal dan berkasih sayang selama lima tahun. Waktu yang cukup untuk saling mengenal. Namun, dua tahun setelah dia lulus, peristiwa yang tak pernah saya bayangkan harus terjadi.

“Aku akan menikah,” baru saja saya duduk di sebelahnya, dia menjawab salam saya dengan berita yang tak mengenakkan.

“Dengan?”

“Mas Sawon.”

“Guru mengajimu di musala?”

“Ya.”

“Kapan?”

“Dua minggu lagi.”

“Secepat itu?”

“Bapak yang minta.”

Saya tahu bila dia menolak, artinya, perempuan yang saya sayangi akan dihabisi tanpa ampun oleh bapaknya. Karena itu, saya diam. Tak ingin melawan, apalagi menantang. Bagi saya, semuanya telah berakhir, tetapi tidak bagi dia.

Setelah menikah, dia selalu meminta untuk bertemu. Tentu saya menolak. Penolakan itu tak membuatnya kehabisan akal, dia lalu mengirimi surat-surat tersebut. Hingga suaminya mengendus adanya ketidaksetiaan.

Setelah Reni menikah, saya memang sering datang malam-malam ke taman ini seorang diri. Menikmati udara dingin dan bulan yang sesekali ditutup gemawan. Suara jangkring-jangkrik yang menjawab semua gulana yang saya miliki. Siapa yang tak sedih hatinya saat ditinggal kekasih?

Saat suara syahdu hampir mengatupkan mata saya. Samar suara teriakan terdengar. Meski ragu, saya tahu suara siapa itu. Saya bangkit dan melihat ke belakang, ada Reni dan suaminya. Ada kilat dalam mata lelaki itu.

Baca Juga:  Cerpen Shari Cinintya Lestari

“Sejak kapan kau berselingkuh dengan perempuan ini dan mengajaknya ke taman ini untuk berbuat dosa?” tanyanya penuh amarah sambil menunjuk perempuan yang tak lagi memperlihatkan raut kebahagiaan yang pernah dirinya miliki saat bersama saya.

“Demi Tuhan, saya tak pernah memiliki hubungan apa pun dengannya setelah kalian menikah.”

“Untuk apa kau di taman laknat ini seorang diri. Kau sedang menunggu perempuan ini bukan?”  belum sempat saya membela diri, lelaki itu mengayunkan parangnya ke kaki kiri saya dengan sangat cepat. Saya melihat kaki saya tergeletak begitu saja sekitar setengah meter dari jarak laki-laki itu berdiri.

“Tempat ini juga akan mati karena kau sudah menuduh macam-macam,” kataku yang langsung tak sadarkan diri.
Sejak kejadian tersebut, orang-orang hanya tahu aku menjadi korban perampokan. Cerita-cerita lain yang lebih menyeramkan berseliweran tanpa ada yang tahu siapa yang kali pertama mencetuskan. Hingga akhirnya, orang-orang enggan menginjak taman yang celaka ini.

Sementara itu, seluruh kisah yang terjadi kepada saya di taman belakang jalan raya telah saya simpan. Tak ada yang boleh tahu, kecuali Anda.

Ruang semesta, Oktober 2016

Junia Hartini

Junia Hartini

Julia Hartini, lahir di Bandung, 19 Juli 1992. Alumnus Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Pernah berkegiatan di Arena Studi Apresiasi Sastra UPI dan Unit Pers Mahasiswa ISOLAPOS UPI. Tulisannya mendarat di floressastra.com, sastranesia.com, buruan.co, isolapos.com,  Harian Umum Sumut Pos, Tribun Bali, Jawa Pos, Mata Banua, Galamedia, Koran Madura, Banjarmasin Post, Republika, Inilah Koran, Pikiran Rakyat, Metro Riau, dan Radar Banten. Selain itu, tulisan-tulisannya tergabung dalam beberapa antologi bersama, baik yang diterbitkan dewan kesenian kota/kabupaten maupun komunitas. Saat ini tengah mengelola blog pribadinya di www.akujulia.tumblr.com agar karya yang lahir bisa diapresiasi pembaca.

_____________________________

Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi karya baik berupa puisi, cerpen, dan esai dapat dikirim langsung ke email: redaksi@nusantaranews.co atau selendang14@gmail.com.

Loading...

Terpopuler