Hankam  

Takdir Geopolitik Meniscayakan Bangsa Indonesia Takkan Pernah Anti Asing

Peta gepolitik bangsa Indonesia. (Foto: Istimewa)
Peta gepolitik bangsa Indonesia. (Foto: Istimewa)

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Pemerhati geopolitik M Arief Pranoto mengatakan Indonesia tidak akan pernah anti terhadap asing maupun aseng, sampai kapanpun. Pasalnya, sejarah nusantara, termasuk kisah Atlantik, serta takdir geopolitik Indonesia meniscayakan hal itu di mana faktor geoposisi silang dan karunia kekaya

an sumber daya, Indonesia selalu didatangi banyak bangsa di dunia dengan berbagai kepentingan baik karena kepentingan ekonomi perdagangan, atau faktor kebudayaan, pariwisata, penyebaran agama, ataupun ingin berasimilasi, berdomisili dan lain-lain.

“Dari dulu, kita ini bangsa toleran, santun dan ramah terhadap pendatang, bukan bangsa beringas, bukannya warga intoleran, apalagi masuk kategori radikalis dan sebagainya. Bagaimana tidak toleran, sumber daya ekonomi dikuasai segelintir elit dan etnis kita nrimo (menerima) saja,” katanya dikutip dari keterangannya, Jakarta, Rabu (9/5/2018).

Jika merujuk tesis prof Arysio Santos, kata dia, Indonesia adalah nenek moyang bangsa-bangsa di dunia. Sehingga, menjadi wajar dan pantas bila siapapun bangsa asing yang berkunjung ke Indonesia bakal betah dan merasa nyaman tinggal di republik ini.

“Mengapa demikian, selain faktor musim, biaya hidup relatif murah, warganya ramah, tepo seliro dan lain-lain juga alasan faktor psikologis tadi. Mereka seperti pulang kembali ke rumah nenek moyangnya,” ujarnya.

Jadi, ketika ada stigma bahwa ada kelompok tertentu di Indonesia anti terhadap asing dan aseng, itu hoax yang dieksploitasi, atau semacam fiksi yang diciptakan dipolitisir dan/atau isu imajiner belaka. Menurutnya, akibat framing media, seolah-olah isu itu ada (being), nyata (reality) dan berada (existance), padahal cuma rekaan semata.

“Gendang inilah yang kini ditabuh oleh kaum kolonialisme di bumi pertiwi. Dan dinamika politik digaduhkan pada tataran hilir agar bangsa ini lupa akan jati diri sebagai bangsa super kaya, abai terhadap realitas geopolitik yang maha dahsyat,” jelas Arief.

Baca Juga:  PBNU Turut Berduka Atas Gempa Lombok

Tentang geoposisi misalnya, Iran itu cuma punya satu selat -Selat Hormuz- ketika dulu sempat memanas situasi geopolitik antara Iran-Amerika (AS), Iran baru berencana menutup Selat Hormuz saja harga minyak sudah melambung, sehingga tensi terpaksa diredakan kembali. Bayangkan, Indonesia itu punya empat selat strategis dari tujuh selat yang ada di dunia.

“Seandainya kita tutup Selat Lombok dan Selat Sunda, apa tidak menjerit dunia? Itu salah satu contoh dari satu kedahsyatan geopolitik Indonesia. Belum soal pasar atau demografi, belum lagi perihal sumber raw material, atau ladang investasi, dan lain-lain. Agaknya, kesadaran geopolitik seperti inilah yang sepertinya terus didangkalkan, digerus bahkan hendak dilenyapkan dari bumi pertiwi,” papar peneliti senior Global Future Institute ini.

Arief menegaskan bahwa paradox Indonesia itu nyata. Yaitu negeri kaya namun rakyatnya miskin. Termiskinkan oleh sistem yang ada. Di satu sisi, upaya menggugat atas ketidakadilan tersebut malah dicap intoleransi, radikal, distigma anti asing dan lain-lain, sedang di sisi lain, mayoritas bangsa ini mudah dialihkan perhatiannya dengan isu-isu kacangan. Hanyut. Menari-nari dalam gendang yang ditabuh oleh kaum kolonial. Ditebar isu Syiah-Sunni, larut.

“Dilempar isu korupsi, gaduh, gaduh dan gaduh dan seterusnya. Betapa canggihnya mesin mereka mempeta dan memicu titik kritis atas kebhinekaan yang relatif lestari. Inilah yang kini berlangsung,” sebutnya.

“Semakin ke sana, para elit dan segenap anak bangsa yang tercerahkan kian lupa, bahwa metode kolonialisme telah tertancap kuat pada sistem konstitusi kita. Silent invasion. Tanpa letusan peluru, kekayaan dan kedaulatan (serta kemandirian) bangsa ini telah tergadai dan digadaikan keluar. Kudeta konstitusi. Sunyi. Justru sistemlah yang menciptakan perilaku koruptif. Naked invasion. Tanpa bau mesiu, impor beras diperluas tatkala masa panen raya padi di depan mata,” papar Arief lagi.

Baca Juga:  Harga Cabai Anjlok, DPRD Jatim Dorong Pemprov Contoh Pemerintah DKI Jakarta

Sekali lagi, tegasnya, bangsa ini tidak akan pernah anti asing, sampai kapanpun. Sebab, asing adalah keniscayaan sejarah dan takdir geopolitik bagi Indonesia. Upaya-upaya menjauhkan Indonesia dari asing justru melawan kodrat geopolitik itu sendiri. “Bisa kualat bila melawan kodrat, nanti bisa seperti kampret -anak kalong-berpikirnya terbalik. Angka enam dikira sembilan. Penjahat dianggap pejabat,” ujarnya.

Menurut Arief, permasalahan pokoknya adalah ketika kepentingan negara asing (Kenara) justru sangat dominan dalam sistem konstitusi Indonesia ketimbang kepentingan nasional Republik Indonesia (Kenari). “Itulah hal substansi yang mutlak diluruskan,” pungkasnya. (red)

Editor: Eriec Dieda