Budaya / SeniCerpen

Tahun Baru, Sebelum dan Sesudah Airin

Cerpen: Fajar Martha

Iskandar menyadari bahwa, barangkali, yang membuatnya tertarik menambatkan cinta pada Airin bukan sekadar hasrat, nafsu, atau kerinduannya pada aroma dan sentuhan perempuan.

Is, panggilan akrabnya, meyakini: perempuan inilah si pembawa satu tulang rusuknya yang hilang.

Spekulasi ini hadir sekonyong-konyong ketika ia baru saja membenamkan pantat di atas kursi Metromini, yang ia andalkan untuk membawanya ke Blok M guna berburu buku-buku bekas, di hari pertama tahun yang anyar, tatkala kota tak sesunyi libur Lebaran. Seperti supir dan kondektur bus ini, Is paham: pergantian tahun hanya mempercepat umur; peristiwa itu tak memperpendek deretan bon dan tunggakan yang selalu merengek dilunasi.

Is menilai peristiwa pergantian tahun sebagai hal yang perlu disikapi secara enteng. Saat masih mahasiswa, Is tiga kali melewati pergantian tahun dengan terlelap sendiri di kamar kos, dengan kondisi lampu mati dan pintu terkunci. Bersama Airin, tahun baru dirayakan sambil menyumbat telinga masing-masing dengan earbud peredam suara.

Tak ada bir dan keripik. Minus soda pula kacang kulit. Tanpa airmata, terompet, apalagi kembang api. Ketika jarum pendek bergeser ke angka tiga, Is dan Airin membuka earbud lalu berbincang tentang banyak hal. Peristiwa ini, perayaan intim atas kesunyian, terjadi sembilan tahun silam, saat cinta mereka masih merangkak belia.

“Tahi lalat di tubuhmu ada sembilan belas,” kata Airin.

“Terima kasih telah sudi melakukan apa yang bahkan tak pernah dilakukan ibu atau bapakku.”

“Sama-sama.”

“Tanda lahirmu yang di paha kiri itu kalau kuperhatikan seperti sepasang ceri.”

“Nggak ada hal lain yang bisa kamu ungkapkan selain berusaha memuji?”

“Entahlah. Terpikir begitu saja. Sekonyong-konyong.”

Is menganggap tanda lahir itu sebagai ornamen kecantikan nan garib. Airin begitu tak peduli memamerkan sesuatu yang tak mungkin dipamerkan perempuan lain. Ia tak ragu berbikini dengan kondisi paha ternoda seperti itu.

“Nggak tahun baruan, Bang?” kondektur telah duduk di samping Is, membuyarkan lamunannya. Sudah lama Is tak merasakan keakraban dari seorang kondektur bus.

Seperti senja dan Persija, yang identik dengan warna jingga, Metromini terancam punah dari kota ini. Kita tak lagi dimandikan cahaya senja karena angkasa semakin tertutup gedung-gedung jangkung nan kelabu; Persija Jakarta telah lama tak memiliki stadion sendiri, suporternya pun lebih banyak yang tinggal di kota-kota satelit. Senja, ipso facto, adalah lambang kemuraman kota.

“Enggak, nih,” jawab Is setelah tertegun, “orang kayak kita nggak usahlah mikir tahun baruan di mana.” Is merogoh selembar uang kumal dari kantong celana.

“Kembaliannya ambil saja.”

***

Cinta Is pada Airin, pula sebaiknya, adalah cinta yang egois: cinta yang mengada karena hasrat individualistis. Airin menanam gagasan itu ketika ia menceritakan komentar Pierre Bourdieu—filsuf Prancis yang murtad menjadi sosiolog—perihal cinta dan pernikahan.

Baca Juga:  Filsafat dan Perannya dalam Kerjasama dan Pembangunan Berkelanjutan Antar Negara BRICS

“Ketika kita mencintai, sampai suatu titik tertentu, kita sedang mencintai seseorang sebagai cara lain untuk memenuhi takdir sosial kita sendiri.”

“Kok egois amat. Masa iya?”

“Coba saja kamu renungkan riwayat hidupmu. Pacar-pacarmu yang dulu, cara ibu-bapakmu merawatmu, sahabat-sahabat terbaikmu, cita-citamu: nanti akan kamu temukan suatu pola yang melandasi hubungan kita.”

“Dan tentu kamu nggak memberitahunya sekarang kan?”

“Tentu saja! Lagipula, yang mengerti dan menjalani hidupmu kan cuma kamu. Psikolog menyebutnya inner nature. Orang-orang beriman secara gegabah menyebutnya sebagai takdir.”

“Sinis amat kamu,” pungkas Is seraya mengelus anak-anak rambut yang mengalir di pipi Airin. Lalu mereka pun memejamkan mata. Di dada Is ada perasaan yang menjalar begitu hangat.

Memori dan asumsi berkondensasi dalam kepala Is. Betapa ia mengakui: Airin benar.

Airin mengingatkan Is pada pacar pertamanya, Sarah, yang sulit Is lupakan—meski tahu yang ia hasrati adalah persona masa lalu Sarah: persona gadis cilik yang belum akil baligh.

Rambut Airin yang pendek, serta sorot matanya yang tajam tapi rapuh (mungkin karena mata itu sedemikian beningnya!), menjadi pengingat betapa dulu ia sangat mengagumi Winona Ryder dan Demi Moore, dua aktris yang menjadi manifestasi paripurna konsep perempuan cantik-tapi-rapuh milik Is.

Cara Airin memaki dan memarahi Is tanpa tedeng aling-aling adalah cermin dari tabiat Joni Keple, salah satu sahabat terbaiknya; yang tak pernah ragu untuk mengkritik dan berterus terang di depan Is, kapan pun ia bertindak tolol dan gegabah.

Tak pelak, Airin adalah sosok ideal belahan hati bagi Is. Gadis itu menyimpan luka—dan hubungannya dengan Is berawal dari usaha membasuh luka itu. Begitu pun yang sebaliknya dilakukan Is pada Airin. Mereka berdua bertemu ketika sama-sama lelah berkelahi dengan cinta.

Saat kita bertemu dengan orang-orang pilihan—seperti pertemuan kedua orang ini, maka kita tak pernah terlalu keras mengupayakan kebahagiaan bagi orang tersebut. Kita telah sama-sama kalah. Kekalahan tidak perlu dirayakan, dan perlu waktu untuk mulai bertempur memperjuangkan cinta.

Beberapa orang menyebutnya pelarian; sebagian yang lain bilang bahwa yang mereka alami merupakan pemuasan nafsu belaka. Itu tidak salah! Yang mereka tidak ketahui: mereka tidak benar-benar bertemu dengan partner seimbang, sebagaimana Is menemukan Airin.

Ketika keduanya bertemu umur Is 25, Airin 21. Gadis itu sedang melarikan diri dari rumah. Tidak sepenuhnya lari. Tidak ada yang mengejar Airin: baik keluarga, atau teman-temannya. Airin adalah satu dari sekian ribu anak manusia yang eksistensinya hanya berada di atas catatan-catatan sipil. Juga tidak benar jika kau menganggapnya anak broken home. Ia tumbuh menjadi gadis penuh tanggung jawab, dan dalam kondisi mental yang baik-baik saja. Airin hanya lari dari hubungan keluarga yang hambar dan ia sedang tidak mencari perhatian mereka.

Baca Juga:  Filsafat dan Perannya dalam Kerjasama dan Pembangunan Berkelanjutan Antar Negara BRICS

Laju bus jingga yang oyong menjemput Is dari momen Proustian-nya. Sebentar lagi Terminal Blok M. Ia tak sabar untuk menghabiskan seperempat gaji untuk berbelanja buku, lalu menemui Airin di Jakarta Pusat.

***

“Eh, Neng Tiwi lagi. Enggak tahun baruan, Neng?” sapa Ujang, lelaki 54 tahun yang begitu semringah melihat kedatangan sang tamu.

“Yah, Mang Ujang. Memangnya kalau kita nggak berlibur keluar kota nggak bisa dibilang tahun baruan? He-he-he. Ini, Mang, tadi saya sempatkan beli ini untuk Mang Ujang.”

Lalu pria itu melakukan gerakan khas manusia negeri ini ketika disuguhi pemberian: malu-malu tapi mau; sungkan tapi enggan menolak rezeki. Maka ia pun mengurut dada seraya melafalkan nama Tuhan. Tiwi tersenyum.

“Memang belum selesai laporannya, Neng? Kok lama amat?” kata Ujang sambil mempersilakan sang gadis duduk. Tiwi bekerja sebagai kru salah satu stasiun TV yang pernah menjadikan Ujang informan.

“Sebenarnya sih sudah. Mang kan lihat sendiri tayangannya di TV. Saya jadi tertarik mendalami pekerjaan dan situasi tempat kerja Mang Ujang. Aduh, gimana yah jelasinnya. Soalnya saya bakal sering datang ke sini, lo. Itu pun kalau Mang Ujang nggak keberatan.”

“Ya Allah, Neng. Lelaki macam apa yang tega menolak kehadiran Neng di tempat seperti ini. Tapi Neng tahu, kan, Mang Ujang SMA saja nggak sampai kelar. Mang nggak bisa jawab kalau pertanyaan Neng Tiwi terlalu sulit, he-he-he. Memangnya buat apa lagi, Neng?”

“Dimakan dulu Mang Ujang, bingkisan dari saya. Mumpung masih hangat,” Tiwi meminta, “soto Betawi sama es kolding. Saya kebetulan tadi sudah duluan.” Ujang pun masuk ke dalam rumah sembari tersenyum malu.

Tak lama berselang, Tiwi kembali berdiri. Ia rapikan kemeja yang telah kusut, lalu menyalakan rokok yang bertengger di telinga kirinya.

Langit senja itu monokrom, menambah kesan angker. Disenandungkannya “Cemetery Gates” milik the Smiths. Sayang, tidak seperti kisah di lagu itu, bersama Mang Ujang ia tak bisa membicarakan John Keats, W.B. Yeats, atau Oscar Wilde.

Ia menghidu bau rumput kering yang berpadu dengan bebungaan yang baru disiram. Pemakaman telah menjadi oase di kota ini. Mata Tiwi memindai seluruh penjuru: para bocah yang sedang riang bermain sepak bola, muda-mudi yang memadu kasih di segala sudut, serta ibu-ibu yang merumpi sambil menyuapi anak-anak mereka.

Baca Juga:  Filsafat dan Perannya dalam Kerjasama dan Pembangunan Berkelanjutan Antar Negara BRICS

Di kejauhan, Tiwi melihat satu pemandangan ganjil, yang lalu menyita empati dan perhatiannya. Bukan tidak mungkin bila tempat ini juga menjadi nirwana bagi orang gila, pikir gadis itu.

***

“Dia tiap tahun baru pasti ke sini, Neng Tiwi,” kata Ujang yang telah kembali dengan semangkuk soto di tangan.

“Maaf, Mang. Ngg… Agak begini, ya?” tanya Tiwi sambil menyilangkan telunjuk di dahi. Tiwi sedikit ragu. Orang itu terlalu normal untuk disebut gila. Tapi jika gila, itu akan menjadi amunisi untuk proyek menulis novel yang sedang ia kerjakan.

“Oh, enggak, Neng. Enggak. Saya kenal dia. Kenal banget. Dia berkunjung paling tidak tiga bulan sekali. Tapi tiap tahun baru, tiap tanggal satu, pasti di sini. Dari sore sampai malam. Terkadang membacakan sesuatu untuk mendiang pacarnya. Terkadang ngajak almarhum bercakap-cakap.

“Barangkali cinta sejati ya Neng, Mamang juga kurang paham. Waktu istri pertama Mang Ujang baru sebulan meninggal, kok, Mamang gampang saja cari istri baru. Orangnya baik, Neng. Setengah tahun yang lalu dia membelikan sepeda dan sepatu bola buat si bontot, he-he-he. Saya berani jamin dia nggak gila.”

Ujang menyeruput teh panas dan menyeka mulutnya yang berminyak dengan khidmat, seperti ingin memberi efek jeda. Tiwi gelisah menanti mulut Ujang kembali berbicara. Diisapnya rokok lekas-lekas, seperti pembunuh bayaran yang hendak menumpas mangsanya.

“Selain mendoakan keluarga atau sahabat, ada pengunjung yang ke sini untuk menziarahi makam Pram atau Chairil Anwar. Tapi Neng kan pernah saya kasih tahu, ada juga orang-orang yang berkunjung untuk alasan-alasan aneh seperti pesugihan.

“Namanya Iskandar, Neng. Itu makam pacarnya, yang tertabrak kereta 3 Januari tujuh tahun lalu—“

“Mang Ujang bisa mengenalkan saya ke dia?” Tiwi buru-buru menukas.

“Oh, pasti bisa untuk Neng Tiwi, mah. Pasti bisa, he-he-he.”

Baca Juga:

Simak di sini: Puisi Indonesia

Halim, Januari 2018

Fajar Martha, Pengarang esai dan cerpen. Cerpen-cerpennya antara lain pernah terbit di Majalah Kartini, Pikiran Rakyat, dan Radar Surabaya. Mukim di Jl. Kejaksaan no. 21 RT/RW: 04/05 Pondok Bambu Jakarta Timur.

__________________________________

Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi (berdonasi*) karya baik berupa puisi, cerpen, esai, resensi buku/film, maupun catatan kebudayaan serta profil komunitas dapat dikirim langsung ke email: [email protected] atau [email protected]

Related Posts

1 of 44