Connect with us

Budaya / Seni

Surat Sepi – Puisi Wisnu Maulana Yusuf

Published

on

Surat Cinta (Ilustrasi). Foto: Dok. planetfem.com

Surat Cinta (Ilustrasi). Foto: Dok. planetfem.com

Surat Sepi

/Pertama/

Al, ingatkah masa kecil kita saat bermain di pesisir hutan? Permainan terakhir yang membuat jurang pertemuan antara kita? Ketika itu, kau mencari tempat persembunyian. Sedangkan kedua mataku tertutup sembari menyairkan hitungan sepuluh sampai satu. Kita bermain petak umpat, Al.

Sebenarnya aku berbohong padamu, Al. Aku mengintip, kau berlari menuju hutan. Tetapi pada hitungan terakhir, kau lenyap dari mataku. Kau sembunyi di mana, Al? Sudah sepuluh tahun berlalu dan aku masih mencarimu.

Magnolia, 2018

/Kedua/

Al, sudah lama kita tak bertemu.

Ingatkah? Ketika ketiadaan menyapa setiap jengkal pertemuan kita? Kau dan aku duduk di altar kebisuan yang mencekik lantai-lantai tempat kita berpijak. Istana yang kita bangun di atas kepala, menjadi buah kesunyian yang terus saja melahirkan sepi sejak dinding-dindingnya berlumut kematian.

Magnolia, 2018

/Ketiga/

Aku berharap bisa keluar dari hari-hari. Tapi, ternyata tidak, Al. Seluruh hari-hari mengurungku. Senin tak mengucapkan selamat datang, hingga Minggu pun tak mengucapkan selamat tinggal. Aku terjebak antara datang dan pergi, Al.

Aku kesepian. Kenapa aku tidak bisa datang padamu dan kau tak bisa tinggal bersamaku, Al?

Magnolia, 2018

/Keempat/

Aku yakin batas kita bukan jarak, Al. Melainkan waktu, ia memisahkan masaku dan masamu. Aku tahu kau membenci waktu, Al. Tapi mengapa kau beri aku waktu untuk mencarimu? Apakah itu adil, Al? Aku pun tak menyukai waktu. Ia seperti ruang-ruang hampa dalam rahim kepala yang melahirkan bayi-bayi setan seperti katamu. Aku benci waktu, Al. Karena waktu, ia membuatku terus untuk menunggu.

Magnolia, 2018

/Kelima/

Baca Juga:  Gladi Posko I Memasuki Hari Kedua

Banyak yang bilang, aku aneh saat mereka tahu aku kenal denganmu, Al.

Mungkin menurutku yang aneh itu mereka, yang terus saja meng-aneh-kan kita.

Tetapi biarlah, tak usah didengarkan. Aku lebih suka menikmati kenangan saat kita bermain di pematang sawah, memandang pantulan sinar rembulan dari bola matamu dan merasakan belaian semilir angin lembut yang menerpa daun telinga kita.

Magnolia, 2018

/Terakhir/

Jarak adalah sinonim dari rindu. Sedangkan waktu adalah sinonim dari kisah kita. Sebagaimana jarak telah membuatku rindu, waktu pun mampu meciptakan benci dalam dadaku. Seperti pada suratku sebelumnya, waktu membuatku terus menunggu.

Baiklah, ini adalah surat terakhirku untukmu, Al. Aku akan menceritakan semua kisah perjalanan sepiku nanti, ketika aku datang padamu melalui jalan kematianku.

Magnolia, 2018

Wisnu Maulana Yusuf kelahiran Banjar, 18 Juni 1999. Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga jurusan Perbankan Syariah yang menyukai baca, tulis dan diskusi. Kumpulan puisinya terangkum dalam buku Kabar Dusta dari Surga (CBK, 2018). Saat ini, ia bergiat di Community Pena Terbang (Competer), Sastrawiji, Ayo Menulis dan Klub Buku Basabasi. Mukim di Jalan Tamansiswa, Nyutran MG II/1422, RT/RW 55/17, Wirogunan, Mergangsan, Yogyakarta.

__________________________________

Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi (berdonasi*) karya baik berupa puisi, cerpen, esai, resensi buku/film, maupun catatan kebudayaan serta profil komunitas dapat dikirim langsung ke email: [email protected] atau [email protected]

Loading...

Terpopuler