Connect with us

Puisi

Surat Kepada Erissa VII dan Puisi-puisi karya Zen Kr

Published

on

Sepucuk Surat Untuk Hujan. (Ilustrasi/Istimewa)

Surat Kepada Erissa VII. (Foto: Ilustrasi/Istimewa)

Surat Kepada Erissa VII dan Puisi-puisi karya Zen Kr

 

Surat Kepada Erissa VII

Seperti seorang kernet mobil saat aku hendak pulang
Yang semangatnya ombak berdebur
Aku mencintaimu, Erissa.
Sepenuh kasih ia layani para penumpang
Juga aku takkan letih memberimu kasih sayang.

Namun, setelah sampai ke rumahku
Daun-daun resah berguguran ke hatiku
Sebab tanah yang kupijaki
Sepi dari engkau sang maha puisi.

Batang-batang, 2019

 

Surat Kepada Erissa VIII

Sebab aku mencintaimu, Erissa
Aku lebih senang menjadi musafir
Mengembara di kota rindu
Mencarimu di jalan bercabang dan berliku.
Namun, arah mana yang mesti kupilih, Erissa
Sedang engkau belum memberiku peta
Dimana tempatmu berdiam, memelihara tunas cinta.

Annuqayah, 2019

 

Surat Kepada Erissa IX

Semenjak aku mencintaimu, Erissa
Dadaku laut
Tak henti meriakkan namanu
Dengan gelombang kasih sayang.
Namun, ikan-ikan sengaja tidak kupiara
Agar lautku sepi dari nelayan
Dan hanya kepadamu hendak kupersembahkan
Segala keindahan.

Semenjak aku mencintaimu, Erissa
Mataku malam
Yang agar tak kelam
Aku harus memandangimu selalu meski diam-diam.

Aku ingin kau mengerti, Erissa
Bahwa semenjak aku mencintaimu
Cita-citaku lebih tunggal dari satu
; membangun rumah di hatimu
Lalu kita berteduh berdua tanpa kenal waktu.

Batang-batang, 2019

Malang

Aku kota malang
Sekujur tubuhku malam
Kehilangan lambpu-lampu dan terang.
Kupandangi tak jemu-jemu
Cintamu bulan biru.
Sebab, siang masih tersimpan
Dalam hutan Tuhan.

Sumenep, 2019

 

Disungai Kasihmu, Kucuci Hatiku; TeruntukErissa

Kucuci hati disungai kasihmu
Agar taka ada lumut membalut cinta
Kunikmati airnya yang jernih
Berharap dahagaku segera pulih.

Kekasih, seperti sungai itu tak henti mengalir
Ingin sekali aku jadi muara
Tak apa darimu kutampung segala
Meski keruh dan kerikil bersama di dalamnya
; aku ada terserah kau untuk apa.

Baca Juga:  Mencermati Strategi “Indo-Pasifik” Washington

Annuqayah, 2019

 

Segala Puisi Bagimu

Segala puisi
Yang kerap kuasah seperti belati
Yang terus mengalir di sepanjang sungai hati
Yang seringkali menyajikan puji dalam sunyi
Adalah bagimu, Kasih.

Segala puisi bagimu
Perempuan embun bermata purnama
Sebagai satu-satunya nyala yang kurindu
Dalam kelam hatiku.

Segala puisi bagimu
Meski barangkali diksi-diksiku
Adalah kunang-kunang beterbangan
Mencuri cahaya di kedalaman hatimu.

Segala puisi bagimu
Ratu penguasa kasih dan sayang
Di singgasana cintaku.

Annuqayah, 2019

 

Zen Kr, Santri PP Annuqayah Lubangsa asal Batang-batang yang mulai menyukai puisi sejak berproses di Komunitas Persi. Karyanya pernah dimuat di sejumlah media. Dan saat ini turut aktif di RL community dan Komunitas Ngaji Puisi. Buku antologi bersamanya : Tanah Bandungan (FAM:2017), Perempuan yang Tak Layu Merindu Tunas Baru (FAM:2017), Pekerja Kasar Tanjung Luar (TidarMedia:2017), Yang Berlari dalam Kenangan (PERSI:2019).

Loading...

Terpopuler