Connect with us

Budaya / Seni

Surat Buat Erlinda – Puisi Muhammad Alamsyah

Published

on

Surat Cinta (Ilustrasi). Foto: Dok. planetfem.com

Surat Cinta (Ilustrasi). Foto: Dok. planetfem.com

PESAN INI SENGAJA KUTULIS DI PINTU PAGAR

Ketika armatamu jatuh janganlah memungutnya
Biarlah ditimbun tanah, mengubur duka-duka yang telah seabad meraung di bawah langit semesta
Pun kau punguti tak kan jadi berlian melunasi segala hutang beras dan sisa elpiji kemarin

Istriku Vei, belajarlah menanak lumpur dan kerikil untuk makan
Mencampur limbah dan plastik untuk minuman
Mengurai bambu jadi alat makan karena piring-piring kita telah dipecahkan perampok dari negeri seberang

Belajarlah mencari cara baru menjalani hidup
Karena bapak- bapak kitapun telah menggadai warisan-warisan moyang pada tamu yang tak santun.

Jika esok tak ada lagi lahan menanam padi pun cabai, janganlah membunuh anak-anak kita karena tak sanggup menafkahi
Tapi menulislah doa pada debu melekat di lorong gang
Agar malaikat membacanya, mengantarnya pada Tuhan untuk dimulakan
Tentang kita yang sudah tak lagi mempunyai benda di negeri sendiri

Vei istriku, pesan ini sengaja kutulis di pintu pagar
Agar Pak RT tahu dan para demonstran paham tentang sengitnya hidup kita lima tahun ini

Makassar, 30 Juli 2018

MERY

Mery, maafkanlah aku
Yang menjelma sebening halimun pada tawarnya air danau
Menyingkir dari desus gelombang telaga
Tinggalkan bayangmu di cermin pelangi dunia

Bukan berarti gelora telah mati laksana malam senyap
Bukan pula berarti iblis mengutuk rinduku padamu
Tapi karena debu pada tubuhku mendaki ditimpali airmata membadai
Leleh, jatuh
Melumpur kelam di ujung gerbang istanamu
Sebeku lara laksana bebatuan ditumbuhi bunga- bunga liar

Mery, sory
Tak semestinya aku rapuh
Aku malu pada kumbang gigih menculik madu
Haruskah aku seperti itu?
Mencampak bunga dalam gelap membisu?

Baca Juga:  Cerpen: Seorang Gadis yang Tinggal di Negeri Mimpi

Mery, kemarilah
Terakhir waktu kita mengutuk hidup
Melempar kasta dalam lembah nestapa
Rambah kenangan tersimpan di kaki cakrawala
Aku pergi serupa daun-daun kelana
Dampar menjauh membawa luka-luka perih
Terkoyak merah titipan duri reranting bunga-bunga raja

Mery, simpanlah air mata sedalam rindu mengkalbu
Karena mungkin sesekali musim aku kembali
Menatapmu memangku senja di pelataran sepimu

Dan jika zaman kembali pada jahilnya cinta
Tetaplah kau diam
Karena kelak jika runtuh sombongnya langit
Tuhan pasti menjamu kita dalam surga asmaraloka

Makassar, 28 juli 2018

 

SURAT BUAT ERLINDA

Biarkan merpati diskusikan cinta mentuba di malam Tuhan
Sembunyikan kerinduan di rindangnya cemara natal
Kitab –kitab ambigu bertuliskan keinginan ziarahi kesenyapan

Kau oksigen bagi jiwaku yang lelah pada harapan dan impian
Saraf bagi nadiku memutuskan hasrat pada bayang-bayang

Kutulis surat untuk kau Erlinda
Karena jika burung-burung tiada mengantar pesan
Mungkin rinduku akan pulang menuju gelap yang menua

Makassar, 30 November 2017

Muhammad Alamsyah, lahir di Maros, 17 September 1985. Aktif menulis puisi, cerpen dan esai. Aktif dalam kegiatan seni- budaya baik skala lokal maupun nasional. Lelaki yang akrab di sapa Alam, bergabung dalam beberapa sanggar seni dan bengkel teater serta sanggar lukis di Maros, Sulawesi Selatan. Karya-karya puisinya telah banyak terbit pada berbagai media cetak dan media online. Kecintaanya terhadap seni sastra tidak membuat bakatnya dalam seni lukis terlupakan. Giat cipta lukisan -lukisan eksperimental yang abstrak natural.

__________________________________

Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi (berdonasi*) karya baik berupa puisi, cerpen, esai, resensi buku/film, maupun catatan kebudayaan serta profil komunitas dapat dikirim langsung ke email: [email protected] atau [email protected]

Baca Juga:  Prabowo Menilai Ekonomi Indonesia Sudah Lama Salah Arah
Loading...

Terpopuler