Connect with us

Budaya / Seni

Sunarti Soewandi, Wanita di Balik Kebesaran Rendra dan Bengkel Teater

Published

on

Foto Pernikahan Rendra dengan Sunarti Soewandi, 31 Maret 1959. Foto: Dok. Keluarga Sunarti

Penulis: Selendang Sulaiman

“There always the tough woman behind a great man”. Demikian sebuah ungkapan tak pernah lekang itu, yang artinya selalu ada wanita tangguh di balik kehebatan seorang pria. Ungkapan ini pulalah yang pantas untuk memulai tulisan tentang sosok wanita pertama dan utama dalam beberapa babak kehidupan penyair Rendra. Wanita itu bernama Sunarti. Ya, Sunarti sang pembuka mata batin cinta seorang pemuda dengan bakat kepujanggan sejak kecil

Wanita berbudi pekerti dengan sopan santun dalam lingkungan masyarakat Jawa ini lahir dari pasangan musikus Soewandi dengan guru Sekolah Guru Taman Kanak-kanak (SGTK), Johanna Suminem di Yogyakarta pada tahun 1940.

Dari lingkungan keluarga seniman dan guru, Sunarti pun tumbuh sebagai perempuan dengan bakat seniman yang kuat. Terbukti, kelak, sebagai seniman, Sunarti berhasil menjadi Bintang radio RRI pada tahun 1958 dan 1959. Selain itu, Sunarti juga pernah menyabet juara nasional Penyanyi Seriosa.

Pada tahun 1959, setamat Sekolah Kepandaian Puteri (SKP) ia menikah dengan Rendra. Tepat pada hari Selasa, jam 10 pagi, tanggal 31 bulan Maret, Sunarti dan Rendra menikah dalam tradisi kesenimanan Jawa yang juga berarti mengawinkan seni mereka. Sunarti sebagai penyanyi seriosa yang pernah menjadi juara nasional dan Rendra sebagai penyair kawakan tanah air. Dan keduanya kemudian sama-sama aktif dalam dunia teater serta film.

Sunarti, Cinta Pertama dan Utama si Burung Merak

Sunarti adalah wanita tempat labuhan cinta pertama penyair yang senantiasa tampil memukau di atas panggung membacakan sajak. “Jeng Narti”, begitu rendra menyebut bidadari pujaan hatinya yang mengenalkannya kepada cinta yang sebenar-benarnya cinta kepada lawan jenis. Bahkan, kendati pemuda tampan pemikat banyak wanita di masanya ini, mengaku baru merasa cemburu pertama kali, sejak tertaut hatinya terhadap Jeng Narti. Rendra pun mengaku, sejak itu, ketika cemburu, ia sampai menangis. Semacam sebuah insiden perasaan manusia yang tak masuk akal, namun pedihnya terasa benar di dalam hati.

Jeng Narti, wanita penambat hati sang Arjuna ini, ialah wanita yang diidealkan Rendra muda. Kendati Rendra mengaku bahwa gambaran perempuan ideal baginya benyak variasinya, namun ia menitikberatkan pada daya pikir yang melekat pada sosok wanita. Kecantikan tentu saja menjadi penting. Setidaknya cantik dalam berpikir. Dan Jeng Narti, memiliki idealitas wanita yang didambakan Rendra.

Dalam pengakuan Rendra, jelas tergambarkan bahwa wanita calon pendamping hidupnya ialah wanita yang seperti ibunya sendiri, Raden Ayu Catharina Ismadillah. Sebagai anak lelaki, Rendra sangat dekat dengan sang ibu. Sehingga lahirlah sajak-sajak hebat yang terkumpul dalam antologi puisi pertamanya, “Ballada Orang Orang Tercinta”. Itulah buku yang Rendra persembahkan kepada perempuan yang paling mencintainya.

Ternyata, perempuan yang diidealkannya itu, berada dalam sosok Jeng Narti. Dengan puisi berjudul “Surat Kepada Bunda: Tentang Calin Menantunya”, Rendra gambarkan sosok Jeng Narti:

Mama yang tercinta
Akhirnya kutemukan juga jodohku
Seseorang yang bagai kau
Sederhana dalam tingkah dan bicara
Serta sangat menyangiku

Jeng Narti, digambarkan dalam puisi tersebut sebagai wanita berbudi pekerti, tidak bertingkah macam-macam dan sebut saja memiliki sopan santun ketika berbicara. Hal ini senada dengan pengakuan Rendra sendiri, baginya, wanita yang ideal secara kejiwaan ialah wanita yang memiliki pikiran baik.

Rendra tak menyangkal jika setiap orang pada dasarnya baik. Namun ia meyakini, jika pikiran seseorang itu baik, jiwanya juga pasti baik. Sebab, kata dia, pikiran itu bia mengontrol diri seseorang dan mengontrol sikap dan kelakuan orang tersebut. “Bukan soal kecerdasan lho,” tegas Rendra saat wawancara dengan Trijon Aswin dan Amir Husin Daulay.

“Yang jelas ya itu, pikirannya harus dipakai untuk berpendapat, harus dipakai untuk mengontrol dirinya. Saya tidak tertarik kepada wanita yang tidak pernah berpendapat,” tutur Rendra.

Sampai di sini, tentu kita sepakat bahwa, selain berbudi pekerti baik dan memiliki sopan santun, Sunarti adalah wanita yang menggunakan pikiranya dengan baik dan tidak canggung untuk berpendapat. Persis seperti suatu waktu, Rendra berkisah, Sunarti memprotes ayahnya. Gara-garanya, sewaktu Rendra mau “ngapelin” Sunarti (waktu masih pacaran), ayah gadis itu mengatakan bahwa Sunarti tidak ada di rumah. Namun, tanpa disangka sang gadis keluar. Rendra pun menceritakan pada Sunarti apa yang dikatakan sang ayah tadi, Narti pun marah-marah pada sang ayah.

Lantaran Sunarti dinilai memeliki idealitas yang Rendra dambakan, Jeng Narti akhirnya menjadi wanita yang Rendra nikahinya. Hal demikian dipertegas dengan perkembangan kepenyairan Rendra waktu itu, dimana puisi-puisi yang dilahirkan bernas, kuat dan dalam. Bahkan, puisi itu banyak yang langsung ditujukan kepada Jeng Narta, puisi berjudul “Surat Cinta” misalnya. Dan secara khusus, Rendra menulis sejumlah puisi yang tegas dialamatkan buat sang istri dengan sub judul “Nyanyian Dari Jalanan: untuk Dik Narti Istriku, matai sajak-sajakku”. Sungguh, tak ada yang bisa menyangkal, bahwa Sunarti lah itu, wanita pertama dan utama yang mengisi kehidupan Rendra setelah lepas dari lingkungan keluarga.

Seperti yang Rendra akui, wanita bagi dia adalah pelengkap hidup. “Dalam menyatukan diri dengan alam semesta perlu satu pelengkap untuk keseimbangan. Wanitalah yang melengkapi keseimbangan diri,” ujar Rendra.

Barangkali sudah menjadi fitrah diri seorang penyair, dimana wanita yang dicinta dan membalas cinta senantiasa menjadi sumber inspirasi bagi puisi-puisi yang dilahirkannya. Begitu pun dengan penyair Rendra, dalam hidup dan karyanya, keberadaan wanita di dalam hidupnya begitu berarti. Pertama, ialah sang ibu. Dimana kedekatannya dengan sang ibu telah memberikan pengaruh luar biasa terhadap jalan hidup kepenyairannya.

Sewaktu masih tinggal bersama ibunya, pendukung utama bakat kapujanggaan yang melekat dalam diri Rendra tak lain adalah ibunya sendiri. Bagi Rendra, ibunya adalah sumber sekaligus muara segala inspirasi. Bahkan, saking dekatnya, Rendra mengadukan segalanya kepada sang ibu. Hubungan anak dan ibu ini nyaris tak satupun rahasia yang tersembunyi. Begitu pula dengan kehadiran Sunarti dalam memupuk dan mengembangkan bakat kepujanggannya.

Kecintaan Rendra kepada Sunarti pun menjadi sumber mata air deras bagi sajak-sajak yang dicipta. Puisi-puisi Rendra seperti yang terkumpul dalam “Empat Kumpulan Sajak” adalah bukti cinta Rendra kepada Sunarti. Dimana isi puisi-puisi itu melambangkan kecintaan yang dalam. Hebatnya lagi, cinta itu tak hanya melahirkan puisi yang indah. Selain puisi-puisinya menyiratkan pesan sosial, keberadaan Sunarti juga membuat sikap Rendra mengalami banyak perubahan dalam memandang hidup dan kehidupan. Hal itu bisa ditumui dalam penggalan puisi berikut ini:

………
Dan sepatu yang berat serta nakal
Yang dulu biasa menempuh
Jalan-jalan yang mengkhawatirkan
Dalam hidup lelaki yang kasar dan sengsara
Kini telah aku lepaskan
Dan berganti dengan sandal rumah
Yang tenteram, jinak, dan sederhana

………

Harus diakui, jika menilik sekian banyak puisi cinta Rendra, khusunya dalam antologi puisi tersebut di atas, maka akan nampak terlihat Sunarti adalah wanita pertama dan utama di dalam hidup Rendra. Sebab, di masa sebelum itu, Rendra akui jika dirinya adalah remaja pemburu wanita. Meski itu adalah kesenangan yang ia kejar, namun kepada Ajib Rosidi pada April 1957 ia mengaku, dirinya tak ubahnya supermen yang hidup tanpa guna.

Maka, merasa bergunalah Rendra setelah terpaut hati cintanya kepada sosok wanita ideal yang diimpikannya, tak lain adalah Sunarti. Sunarti yang bernas menggunakan pikirannya untuk berpendapat dan/atau beropini. “Sehingga bisa menjadi lawan dialog bagi saya. Jadi, tidak mungkin dengan wanita ang punya kepribadian sama dengan saya,” aku Rendra.

Rendra jatuh cinta untuk yang pertama kepada Sunarti dari pandangan matanya. “Di mata, karena itu lambang pernyataan pengertian. Dan mulutnya karena itu pernyataan kehendak,” tegas Rendra.

Terasa benar, bila Rendra di dalam puisinya, menyebut Sunarti perempuan bermata Indah dan memiliki suara merdu lembut laksana angin laut. Sejak dikahinya Sunarti, Rendra pun membatasi petualangannya dengan gadis-gadis lain. Seperti yang ia ungkapkan kepada Ajip Rosidi, “saya hentikan gila-gilaan saya dengan gadis-gadis, itu saya lakukan dengan kesadaran,” ucap Rendra.

Kurang lebih setahun menikah dengan Sunarti, tepatnya tahun 1960, gairah Rendra bermain teater semakin menjadi. Sejarah menulis, tahun 1960 ialah awal bagi Rendra yang baru bersungguh-sungguh keranjingan main drama. Walaupun sewaktu di SMP Rendra pernah pentas drama dan ketika SMA memainkan sandiwara, namun menurut pengakuannya, ketika itu masih sekedar main-main, sebab ghirah kepenyairannya sangat dominan dalam dirinya. Tentu, dukungan atau diskusi dengan sang istri sedikit banyak memberingan pengaruh. (Bersambung)

Editor: M. Romadhon MK

Loading...

Terpopuler