Connect with us

Kesehatan

Stunting Sudah Dalam Kondisi Darurat di Indonesia

Published

on

Menurut data Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), ada 9 juta anak Indonesia mengalami stunting atau kekurangan gizi, baik di perdesaan maupun perkotaan. (Foto: YouTube)

Menurut data Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), ada 9 juta anak Indonesia mengalami stunting atau kekurangan gizi, baik di perdesaan maupun perkotaan. (Foto: YouTube)

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Penasehat Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Agama Trisna Willy menjelaskan bahwa Stunting adalah gangguan tumbuh kembang yang menyebabkan anak memiliki postur tubuh pendek, jauh dari rata-rata anak lain di usia sepantaran.

“Tanda-tanda stunting biasanya baru akan terlihat saat anak berusia dua tahun,” urai Willy saat membuka Seminar Pengembangan Program Gerakan Masyarakat Hidup Sehat : Cegah dan Tanggulangi Stunting Bersama DWP, di Jakarta.

Baca Juga:

Kondisi semacam ini, kata Willy, ternyata banyak terjadi di Indonesia. Berdasaekan Laporan Riset Kesehatan Dasar WHO menunjukkan kasus stunting pada anak terus mengalami peningkatan dari tahun 2010 35,6 persen menjadi 37,2 persen pada tahun 2013.

“Indonesia menempati peringkat kelima dunia untuk jumlah anak dengan kondisi stunting terbanyak. Stunting adalah kondisi darurat di Indonesia,” tegas Willy dilakutip dari laman Kemenag.

Willy pun meminta jajarannya untuk dapat turut serta menyebarkan informasi tentang bahaya stunting ini. Untuk itu, maka melalui seminar yang dilakukan, diharapkan anggota DWP memiliki pemahaman yang komprehensif terkait stunting sehingga bisa turut serta menyebarkan informasi tentang bahaya stunting.

“Saya berharap para peserta seminar dapat menyerap semua informasi penting yang disampaikan oleh para narasumber. Dan selanjutnya saudara dapat menularkan kepada kawan atau tetangga di lingkungannya masing-masing,” pesan Willy.

Pewarta: Robi Nirarta
Editor: M. Yahya Suprabana

Advertisement

Terpopuler