Connect with us

Mancanegara

Strategi Angkatan Udara Amerika Menunggu Kehadiran Pembom B-21

Published

on

Strategi Angkatan Udara Amerika

Strategi Angkatan Udara Amerika/Foto: youtube

NUSANTARANEWS.CO – Strategi Angkatan Udara Amerika. Kontraktor persenjataan Angkatan Udara Amerika, kini tengah menyusun rencana jangka panjang yang kompleks untuk memodernisasi armada pembom jarak jauhnya agar dapat beroperasi dua hingga tiga dekade mendatang – menunggu kehadiran pembom jarak jauh baru B-21. Modernisasi pembom ini meliputi penambahan persenjataan, avionik dan teknologi jaringan guna memaksimalkan kinerja pesawat sehingga dapat beradaptasi dalam perang di masa depan.

Jenderal Timothy Ray, Commander of Global Strike Command mengatakan kepada wartawan bahwa, “Sekutu hanya memiliki 156 pembom jarak jauh, dan itu milik kita semua. Oleh karena itu, angkatan udara sedang berupaya menambah 100 pembom B-21 stealth jarak jauh baru,” kata Ray dalam Konferensi Asosiasi Udara, Luar Angkasa, dan Cyber baru-baru ini.

Ray juga menambahkan bahwa sambil menunggu kehadiran B-21 yang belum ditentukan, modernisasi armada pembom yang ada menjadi urgent. Terutama mengoperasikan 75 pembom B-52 Stratofortress hingga 2040-an, dan meningkatkan kemampuan B-1 Lancer dan B-2 Spirit secara besar-besaran, termasuk senjata laser dan rudal hipersonik serta mengintegrasikan sistem jaringan generasi berikutnya,

Konsepnya adalah modernisasi airframe lama B-1, B-2 dan B-52 menjadi platform yang terlihat sebagai pesawat baru sepenuhnya – terutama dengan integrasi Artificial Intelligence (AI) ke dalam platform senjata yang akan benar-benar mengubah fungsi dan kemampuan bertahan pesawat menghadapi serangan.

Sistem jaringan yang terintegrasi dengan AI juga memungkinkan pesawat bekerjasama dengan pesawat tanpa awak secara otonom dalam operasional di lapangan – termasuk komunikasi secara real time guna mengoptimalkan target di medan pertempuran.

Ray juga menyatakan optrimis bahwa upaya saat ini untuk merekayasa ulang B-52 dengan mesin yang lebih modern dan efisien dapat berjalan dengan baik. Struktur teknis dan daya tahan airframe B-52 sangat kuat sehingga mampu terus terbang hingga tahun 2040-an dengan platform terbaru, avionik yang efektif, senjata, dan teknologi mutakhir. Teknologi terbaru yang diintegrasikan ke dalam B-52 adalah Miniature Air Launched Decoy, atau MALD – varian jammer MALD-J sebuah teknologi baru untuk menghindari pelacakan radar musuh.

Baca Juga:  Kunjungan Jokowi Selama 2 Hari di Jawa Timur Berjalan Lancar, Aman dan Kondusif

B-52 memiliki lebar sayap besar 185 kaki, berat sekitar 185.000 pound, dan kemampuan untuk mencapai kecepatan subsonik tinggi dan ketinggian 50.000 kaki. Pesawat sepanjang 159 kaki ini terkenal dengan misi pemboman besar-besaran dalam Perang Vietnam, juga di Afghanistan. B-52 juga terlibat dalam Operasi Badai Gurun.

Sedangkan pembom B-1 kemungkinan juga tidak akan sepenuhnya pensiun sampai tahun 2030-an, kata Ray saat berbicara tentang demo baru-baru ini di mana ruang senjata B1-B dikonfigurasi untuk menembakkan senjata hipersonik.

Para pejabat terkait mengatakan upgrade teknis saat ini adalah yang terbesar dalam sejarah B-1, memberikan pesawat kemampuan senjata yang diperluas bersama dengan avionic baru, teknologi komunikasi dan pembaruan mesin. B-1 juga mendapatkan sistem Pod Penargetan Terintegrasi Penuh ke dalam tampilan kokpit B-1.

Pembom B-1 adalah debutan tempur di Operation Desert Fox pada tahun 1998. B-1 dapat melesat dengan kecepatan Mach 1,25 dengan ketinggian hingga 60.000 kaki, serta dapat melontarkan beragam bom  JDAM: GBU-31, GBU-38 dan GBU-54. (Agus Setiawan)

Terpopuler