Connect with us

Rubrika

Stop Menyoal ‘Nalar Fiksi’ Rocky Gerung

Published

on

Stop Menyoal 'Nalar Fiksi' Rocky Gerung

NUSANTARANEWS.CO – Nama Rocky Gerung makin populer. Selalu jadi maha bintang di acara ILC. Menyaingi Karni Ilyas. Sang presenter yang khas suaranya. Basah-basah serak. ILC makin hidup sejak Rocky Gerung (RG) dihadirkan. Sosok akademisi ini bicaranya lugas. Ceplas ceplos. Tak tedeng aling-aling. Apa adanya. Pilihan katanya menarik dan mudah dipahami. Setengah mengejek, atau malah suka mengejek. Tapi tak membuat sakit hati orang lain. Punya bobot humor yang tak norak. Bukan humor murahan seperti yang ada di tv-tv. Humor yang ditonton untuk sekadar melepas penat dan melupakan beban hidup yang semakin berat. Mikirin semua barang yang semakin mahal dan susah dibeli.

Rocky Gerung tak punya beban. Dia bukan politisi, bukan juga pengurus partai. Sandera politik tak berlaku baginya. Kritik Rocky Gerung tajam dan langsung mengena sasaran. Menjebol jantung pertahanan. Apalagi ketika kritik ditujukan ke penghuni istana. Mulai dari naik motor cooper sampai soal pidato yang menggebu-gebu. Terasa menelanjangi.

Bicara Rocky Gerung tentang istana membuat publik senang. Sesekali terkesima, sambil ketawa. Hanya satu kata publik mengomentarinya: “berani benar orang ini!”. Di tengah banyak politisi-partai yang tersandera, dan rakyat yang ketakutan, keberanian Rocky Gerung seperti air di tengah kehausan padang pasir. Di musim kemarau lagi. Teringat Sri Bintang Pamungkas dan Amin Rais ketika mengekspresikan nyalinya di masa Orde Baru. Meski tak mirip-mirip amat. Karena Rocky Gerung tak punya partai dan massa. Tapi, ia adalah aset rakyat. Lidahnya merepresentasikan jutaan rakyat.

Selasa malam lalu, Rocky Gerung bicara agak serius. Ia mulai bicara dengan konsep fiksi. Datang protes ketika istilah fiksi ini dihubungkan dengan kitab suci. Kitab suci itu fiksi bukan? Tanyanya. Kitab suci yang mana? Protes seorang politisi. Ternyata, sensitif juga. Rocky Gerung tersenyum sambil melirik politisi yang menyinggung soal kitab suci.

Baca Juga:  Danyonarmed: GEO, Berpikir Global, Bertindak Lokal

Kata ‘fiksi’ lalu jadi sensitif. Rocky Gerung diuber oleh sejumlah politisi untuk menjelaskan kata fiksi ketika dikaitkan dengan kitab suci. Para politisi mulai sensi ketika bersinggungan soal agama. Tampak melibatkan emosi beraroma ideologis. Tak biasanya. Selama ini, agama dan ideologi sering jadi kerangka dan bungkus belaka. Untuk apa? Kepentingan pragmatis dan jangka pendek. Kali ini, sepertinya agak serius. Lihat kerut di wajah mereka. Semoga bukan pencitraan.

Rocky Gerung menjelaskan apa itu fiksi. Melalui konsep ‘negatif’ maupun ‘positif’. Fiksi itu bukan fiktif. Bukan ‘bohong-bohongan’. Itu konsep negatifnya. Fiksi itu narasi yang mengaktifkan imajinasi. Itu definisi positifnya. Para politisi belum paham juga. Lah kok? Mungkin bahasa Rocky Gerung yang terlalu filosofis dan akademis, atau nalar politisi yang sudah kehilangan kemampuan imajinasi. Atau dua-duanya!

Lalu, orang mulai bertanya-tanya: Rocky Gerung agamanya apa? Dengan tahu agama, jadi tahu apa kitab sucinya. Perdebatan akademik bergeser ke perdebatan agama. Pembicaranya para politisi. Makin nggak nyambung. Apakah para politisi nggak boleh bicara agama? Lah…lah…. kok ke situ logikanya. Bicara agama, atau disiplin apapun, mesti punya kompetensi. Supaya nggak dituduh ‘disclaimer’. Kasihan tuh Akbar Faeial, semua datanya tidak didengar karena dianggap ‘disclaimer‘.

Jika fiksi itu didefinisikan sebagai narasi yang ‘men-drive‘ imajinasi untuk tujuan lahirnya realitas masa depan, maka penjelasan Rocky Gerung bisa dipahami. Lalu, bukankah kitab suci, termasuk Taurat (Old Testement), Injil (New Testement) dan al-Qur’an itu bicara tentang fakta-fakta masa lalu? Bahkan juga realitas kekinian? Seratus persen betul. Lalu, fakta-fakta itu untuk apa ditaruh di dalam kitab suci? Hanya sebagai informasi? Atau sekadar cerita? Di sinilah konsep ontologis dan aksiologis sebagai kajian filsafat ilmu mendapat tempat untuk menjadi basis analisis.

Baca Juga:  Kolonel Inf Sudaryanto: TNI Tidak Boleh Berseberangan dengan Rakyat, di Mana Ada Rakyat di Situ Ada TNI

Secara ontologis, fakta-fakta dalam kitab suci bisa dibuktikan dan dijelaskan substansinya. Karena kitab suci punya sifat eskatalogis, ia mesti dipahami aksiologinya. Tinggi amat bahasanya. Hehehe. Sederhananya: punya tujuan moral. Meminjam istilahnya Fazlur Rahman, ada ide moralnya. Dan tujuan/ide moral inilah yang mungkin dimaksud Rocky Gerung menjadi imajinasi untuk menciptakan realitas masa depan berbasis pembelajaran pada fakta-fakta dalam kitab suci. Inilah yang membedakan fakta-fakta dalam kitab suci itu dengan data-data yang umumnya ditulis manusia. Terutama dari sisi pilihan, akurasi dan kualitas. Apalagi kalau manusianya menggunakan metode kompilasi. Masih nggak paham?

Supaya paham, kita buat contoh. Al-Qur’an misalnya, bicara tentang sejarah Nabi Musa dan Khaidir. Khaidir melubangi perahu nelayan yang berencana berlayar. Kenapa Khaidir melakukan itu? Khaidir ingin menyelamatkan nelayan itu dari rezim (raja) yang mau merampas semua perahu nelayan. Apa pesan/ide moralnya? Nelayan adalah profesi yang seringkali menjadi korban dari kebijakan rezim.

Reklamasi di teluk Jakarta adalah contoh yang mirip. Maka, perlu ada Khaidir-Khaidir di sepanjang sejarah untuk menyelamatkan para nelayan itu. Tidakkah ini imajinatif? Secara ontologis, fakta sejarahnya bisa dibuktikan, tapi secara aksiologis, punya tujuan menggerakkan imajinasi pembaca untuk menciptakan realitas yang bermoral dan bermartabat. Gitu aja kok repot!

Contoh lain, kenapa al-Qur’an menceritakan Nabi Daud dengan kemampuannya membuat peralatan perang dari besi. Pesannya adalah di manapun negara yang memiliki alat perang (alutsista) paling canggih, ia akan menguasai dunia.

Begitu juga cerita tentang Nabi sulaiman lengkap dengan Ratu Balqis, jin, Hud-hud dan semut. Seorang penguasa (termasuk politisi) godaannya perempuan (Balqis). Hati-hati. Dan Nabi Sulaiman punya rakyat jin. Selalu mengintai rahasia dan berpotensi menyandera. Jin tak diberi kesempatan mendapatkan info, sampai Nabi Sulaiman wafat. Ada burung Hud-hud, terbang semaunya. Pandai berkelit dan mnghindar. Nabi Sulaiman tegas kepada rakyat macam Hud-hud. Rakyat yang suka lepas, dan tak mudah tersentuh hukum. Ada juga semut, sebuah gambaran rakyat kecil yang sering tertindas, mesti dilindungi oleh mereka yang diberi amanah memimpin. Imajinatif bukan? Inilah fiksi yang mungkin dimaksud Rocky Gerung. Bukan fiktif. Rocky Gerung fokus pada penggunaan pendekatan aksiologis. Nggak paham? Ampun deh!

Baca Juga:  Puisi-Puisi Cinta untuk Melanie Tiara

Bagaimana dengan Taurat dan Injil? Biarlah orang Yahudi dan Kristen yang bicara. Jangan nanya saya dong. Nanti dibilang disclaimer!.

Stop menyoal ‘nalar fiksi’ Rocky Gerung. Tak perlu keseret jauh keluar konteks yang tak perlu. Buang-buang energi. Tetap dukung Rocky Gerung selama ia berkata jujur dan punya keberanian mengungkapkan kejujuran itu. Jangan gara-gara ‘nalar fiksi’-nya, ia kehilangan kesempatan untuk merepresentasikan kritik rakyat kepada penguasa.

Oleh: Tony Rosyid, Dewan Pembina APPERTI (Aliansi Penyelenggara Perguruan Tinggi Indonesia)

Loading...

Terpopuler