Connect with us

Ekonomi

Stok Beras Surplus, NTB Tolak Beras Impor

Published

on

Panen Padi Seluas 5 Hektar di Mumbulsari, Jember (Foto Istimewa/Nusantaranews)

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Pemerintah Daerah Nusa Tenggara Barat (NTB) menolak masuknya beras impor ke NTB. Penolakan dilakukan lantaran adanya beras impor dinilai akan merugikan petani.

“NTB kini sedang surplus beras dan akan lebih melimpah lagi, saat memasuki masa panen raya bulan maret mendatang. Melimpahnya beras ini bisa didistribusikan untuk memenuhi kebutuhan beras daerah lain,” klaim Wakil Gubernur NTB H. Muh. Amin dalam berita video Antara, Kamis (18/1/2018).

Sebelumnya Kementerian Pertanian merilis bahwa Lombok Barat (Lobar) dan Lombok Timur (Lotim) merupakan dua Kabupaten di Lombok Nusa Tenggara Barat (NTB) terus panen hingga kini. Beberapa Kecamatan di Lobar seperti Narmada, Labuapi, Lingsar, Gunungsari dan di Lotim seperti Sikur, Masbagik, Aekmal, Wanasaba memiliki potensi irigasi sepanjang tahun.

“Karena itu daerah-daerah tersebut memiliki indeks pertanaman 300 alias tanam tiga kali setahun. Karena itu tidak heran bila dua kabupaten tersebut bersaing dalam panen. Suatu persaingan positif mendukung swasembada pangan,” bunyi pernyataan tersebut, Lombok, Senin (15/1/2018) .

Sebagaimana dilaporkan, panen di Lobar telah dilaksanakan oleh Kelompok Tani Pade Girang, Dusun Karang Kates, Desa Mekar Sari, Kecamatan Narmada. Petani daerah ini sangat gembira karena dapat memperoleh produktivitas 7 ton/ha. Saat ini pun harga gabah kering panen Rp4600/kg. Kunci keberhasilan tersebut adalah penggunaan varietas unggul baru (VUB) Inpari 32. Panen dilakukan pada areal 35 ha.

Selain desa Mekar Sari, panen juga Desa Dasan Tereng, Kecamatan Narmada. Panen dilakukan pada Poktan Pancakarya, yang dipimpin oleh Sahardi, pada areal 15 Ha.

“Petani desa ini juga menanam varietas Inpari 32. Meskipun tingkat harga GKP sama dengan Desa Mekar Sari, produktivitas padi Desa Dasan Tereng diperoleh 5 ton/ha. Hal itu disebabkan gangguan Irganisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) hampa penggerek dan penyakit blas. Karena itu agar hasil bisa meningkat diperlukan penggunaan teknologi spesifik lokasi Desa Dasan Tereng,” lanjut biro humas Kementan.

Baca Juga:  Tingkatkan Surplus Ekspor Rambut Palsu, Indonesia Bidik 5 Negara Ini

Penanaman VUB dan penerapan Pengelolaan Hama dan Penyakit Terpadu (HPT) perlu dilakukan melalui dukungan penyuluhan dari Dinas Pertanian dan pendampingan oleh BPTP NTB perlu dilakukan. Karena ketersediaan air baik dari hujan maupun irigasi yang melimpah, membuat para petani yang telah panen setelah menyelesaikan panen dan pemasaran gabahnya, mereka segera mempersiapkan lahan dan pembibitan untuk musim berikutnya.

Pewarta/Editor: Achmad S.

Loading...

Terpopuler