Connect with us

Peristiwa

Stigmatisasi Miring Islam, Picu Penangkalan Terhadap Ustad Somad

Published

on

Ustad Abdul Somad (Foto Istimewa)

NUSANTARANEWS.CO – Kasus penangkalan Ustad Somad oleh pihak imigrasi Hong Kong, seakan kian menegaskan bahwa tantangan umat Islam ke depan semakin berat. Wabah Islam phobia terus menggejala. Penolakan Ustad Somad dinilai merupakan bukti bagaimana pemerintah Hong Kong turut termakan stigmatisasi miring terhadap Islam.

Melalui keterangan tertulisnya, pemilik nama lengkap Abdul Somad ini menjelaskan bahwa pihak imigrasi Hong Kong termakan isu terorisme yang selama ini terus diproduksi. Ditambah ‘stigmatisasi’ pemerintah dalam kurun waktu terakhir tampak tak bersahabat dengan umat Islam.

“Mereka meminta saya buka dompet. Membuka semua kartu-kartu yang ada. Diantara yang lama mereka tanya adalah kartu nama Rabithah Alawiyah (Ikatan Habaib). Saya jelaskan. Di sana saya menduga mereka tertelan isu terorisme. Karena ada logo bintang dan tulisan Arab,” ungkap Ustad Somad, Minggu (24/12/2017).

Sejak disahkannya Perppu Ormas, disadari atau tidak, istilah ‘Islam’ atau ‘Agama’ mendadak menjadi mengerikan, angker dan layak dijauhi. Memang demikianlah yang dirasakan situasinya. Sehingga tak berlebihan jika cendekiawan muslim, Haedar Nashir mengaku turut gelisah dengan situasi tersebut.

Haedar menyebut, saat ini, agama dan umat beragama seolah jadi terdakwa. Agama dianggap sumber benih konflik yang membelah warga bangsa. Hingga di negeri ini mulai tumbuh pandangan kuat, janganlah membawa-bawa agama di ruang publik. Simpanlah agama di ranah domestik.

Loading...

Sementara ranah politik, etnik, kedaerahan, dan segala atribut lain ketika bermasalah dianggap biasa dan bukan sumber kegaduhan. Padahal, karena soal politik rakyat terbelah, gedung dibakar, konflik mengeras, dan kehidupan gaduh. Situasi ini bukan muncul tiba-tiba tetapi sengaja diciptakan.

Sementara itu, menyikapi kasus pencekalan terhadap Ustad Somad, Wakil Ketua Komisi I DPR Hanafi Rais (24/12) menilai bahwa penolakan Hong Kong terhadap dai kondang asal Sumatra Utara itu dinilai sebagai ekses dari persepsi pemerintah terhadap tokoh Islam di Indonesia selama ini.

Baca Juga:  KLHK dan PP Muhammadiyah Tandatangani MoU KHDTK

Hanafi menegaskan, pemerintah dalam hal ini tidak bisa lepas dari stigmatisasi terhadap para ustad yang dikait-kaitkan dengan radikalisme dan anti Pancasila. “Jadinya pihak luar negeri, seperti Hongkong akhirnya juga mengkopi paste perlakuan tidak adil tersebut,” terangnya. (*)

Pewarta: Gendon Wibisono
Editor: Romandhon

Loading...

Terpopuler