Connect with us

Global

Status Quo Berubah, Rusia Kirim S-300 Ke Suriah

Published

on

S-300 Rusia

S-300 Rusia

NUSANTARANEWS.CO, Rusia – Menjelang akhir September lalu, Presiden Putin menelpon Presiden Assad, memberitahukan tentang niatnya untuk memasok militer Suriah dengan sistem pertahanan udara S-300 yang canggih dalam waktu dua minggu, gratis. Termasuk menginstal peralatan perang elektronik di sepanjang garis pantai Suriah guna meningkatkan sistem pertahanan militer negara di Timur Tengah itu.

Seperti diketahui Kementerian Pertahanan Rusia sangat marah terkait dengan tertembak jatuhnya pesawat militer IL-20 Rusia yang menewaskan 15 awaknya pada 17 September lalu – apalagi pihak militer Israel menolak bertanggungjawab atas insiden tersebut karena kelalaiannya.

Moskwa juga menyebut bahwa Washington dan mitra NATO-nya menggunakan dalih palsu: memerangi ISIS yang sesungguhnya merupakan teroris dan tentara bayaran yang didukung oleh mereka sendiri sebagai alasan untuk kegiatan militer mereka di Suriah.

Israel sendiri mengklaim bahwa pemboman terornya adalah untuk memerangi ancaman Iran dan Hezbollah. Padahal faktanya tidak pernah ada Iran dan Hizbullah menyerang negara Yahudi itu secara agresif. Bahkan Iran dalam beberapa abad terakhir belum pernah menyerang negara lain – seperti apa yang dilakukan oleh AS (dan sekutunya) serta Israel berulang kali.

Putin mengatakan kepada Netanyahu bahwa meningkatkan kemampuan pertahanan udara Suriah adalah tentang: “mencegah ancaman potensial terhadap keamanan prajurit Rusia yang merupakan kewajibannya sebagai presiden.”

Juru bicara Putin Dmitry Peskov juga menyampaikan bahwa kemampuan pertahanan Suriah yang semakin kuat tidak ditujukan ke AS, Israel, atau negara lain. Hal ini adalah untuk melindungi pasukan Rusia dan personel lainnya di Suriah.

Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Mikhail Bogdanov menyebut memasok militer Suriah dengan S-300 adalah hal yang “benar” untuk dilakukan. Untuk diketahui bahwa kemampuan anti serangan udara S-300 mampu mencegat dan menghancurkan beberapa pesawat musuh sekaligus, termasuk rudal balistik, dan rudal lainnya dengan jarak lebih dari 250 km.

Sementara Penasihat Keamanan Nasional Trump, John Bolton menyebut langkah Rusia sebagai “kesalahan besar”, dan menambahkan ulah Rusia itu akan meningkatkan “eskalasi ketegangan secara signifikan” di Timur Tengah.

Bolton juga mengatakanbahwa kehadiran militer AS di Suriah tidak akan berakhir selama pasukan Iran berada di luar perbatasan Iran – termasuk proxy dan milisi Iran.

Padahal penasihat militer Iran berada di Suriah sah secara hukum karena merupakan permintaan Damaskus, tidak ada pasukan tempur. Pasukan Hezbollah juga beroperasi secara sah di negara itu, diundang oleh Assad untuk memerangi ISIS dan kelompok teroris yang didukung AS dan sekutunya.

Sebaliknya ratusan ribu pasukan tempur AS dikerahkan di sejumlah negara di setiap benua – bersama dengan sejumlah besar kontraktor militer swasta (PMC), yang beroperasi secara tidak bertanggung jawab, belum lagi tentara bayaran dan kelompok teroris yang digunakan sebagai ujung tombak proxy war.

Terlepas dari itu semua, status quo tampaknya kini telah berakhir. Ke depan tampaknya akan menunjukkan sejauh mana gerakan Rusia mengubah dinamika di Suriah. NATO dan Israel yang dipimpin AS memang masih dapat menyerang target di Suriah tetapi tidak akan semudah sebelumnya setelah langkah tegas Rusia dilaksanakan. (Banyu)

 

Advertisement

Terpopuler