Standar Ganda AS dan Barat yang Tidak Bermoral

Standar ganda AS dan Barat yang tidak bermoral
Standar ganda AS dan Barat yang tidak bermoral

NUSANTARANEWS.CO – Standar ganda AS dan Barat yang tidak bermoral. Sejak Maret 2015 lalu, ketika pasukan Koalisi Pimpinan Arab Saudi yang didukung barat melancarkan perang untuk menghancurkan negeri Yaman yang kaya sumber daya alam dengan dalih mengembalikan kekuasaan mantan rezim sekutunya yang digulingkan – infrastruktur kehidupan Yaman dihancurkan, ratusan ribu orang tewas, bahkan mengakibatkan krisis kemanusiaan terburuk di abad 21 ini. Dunia diam saja!

Kita mundur ke belakang, ketika Amerika Serikat (AS) membombardir dan membalkanisasi Yugoslavia di Eropa Tenggara diperalihan menuju abad 21, dunia sunyi senyap. Begitu pula ketika AS menginvasi Irak dan Afghanistan lebih dari sekali, dunia tidak marah.

Atau kita mundur lagi jauh ke belakang, ingat ketika AS mengobarkan Perang Vietnam?! Bahkan hingga dibuat serial film bioskop Rambo tanpa malu.

Dunia juga tutup mata ketika AS menempatkan lebih banyak rudal nuklir dekat Rusia. Bukankah itu sebuah ancaman yang jauh lebih besar bagi Rusia – setelah sebagian negara-negara Pakta Warsawa dicaplok NATO.

Ingat Barrack Obama, Sang Pendekar HAM, yang dianugerahi Hadiah Nobel Perdamaian. Menurut Jon Rappoport, Obama telah memerintahkan sepuluh kali lebih banyak serangan drone daripada pendahulunya Bush. Bahkan The Guardian (9 Januari 2017), melaporkan bahwa Obama telah menjatuhkan 26.171 bom pada tahun 2016. Tiga bom setiap jam, 24 jam sehari. Luar biasa.

Juga serangan udara yang terjadi di Suriah dan Irak, bom AS juga menghujani orang-orang di Afghanistan, Libya, Yaman, Somalia, dan Pakistan. Tujuh negara mayoritas Muslim. Mengapa dunia diam?

Hari ini, Rusia yang baru pertama kali melakukan invasi langsung dikecam dunia. Padahal tujuannya adalah menciptakan perdamaian dan stabilitas di kawasan – jangan sampai berkembang menjadi sarang teroris (atas nama patriot) yang dilatih AS dan Israel. Ingat Zionis Israel dengan dukungan AS dan Sekutu punya pengalaman dalam membersihkan bangsa Arab dari Palestina.

Di tengah kesibukan pembicaraan darurat di Dewan Keamanan PBB dunia seakan lupa dengan 2.520 hari pemboman dan blokade tanpa henti yang mematikan rakyat Yaman.

Padahal di saat yang sama, pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi yang didukung AS dan Barat bahkan semakin meningkatkan serangan udara ke Yaman jauh lebih banyak dari pada Rusia di Ukraina.

Di Hajjah, sebuah provinsi yang dikelilingi oleh artileri berat Saudi, pesawat tempur koalisi pimpinan Saudi meluncurkan lebih dari 150 serangan udara di kota-kota Haradh, Heiraan, Abbs, dan Mustab, menewaskan sejumlah warga sipil selama akhir pekan.

Bukan itu saja, pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi tampaknya mengambil keuntungan dari media yang fokus dengan Ukraina – dengan meningkatkan serangan terhadap target-terget sensitif di sepanjang perbatasan Yaman-Saudi.

Sementara UEA, mempercepat proyeknya untuk mengubah demografi di Pulau Socotra yang berharga dengan menggusur penduduk setempat demi pemukim yang lebih selaras dengan kebijakan UEA.

Dunia hari ini tampaknya perlu poros baru yang konsen membela keadilan bukan hanya dengan diplomasi, bila perlu dengan kekuatan senjata. Apabila negara tak mampu, aktor non negara seperti Hizbullah, Hammas, dan Houthi telah membuktikan bahwa mereka mampu menghadapi negara dan kekuatan imperialisme yang lebih kuat – terlepas apapun tentang mereka. (Agus Setiawan)