Connect with us

Kolom

Spirit Imlek: Kebaikan Ada Dimana-Mana

Published

on

Tradisi Imlek. Foto: ShopBack

NUSANTARANEWS.CO – Syahdan ada raksasa yang suka merusak tanaman dan mengambil hasil tani para petani di Cina. Raksasa itu bernama Ni’an. Raksasa ini juga sering bikin kerusakan bahkan memangsa manusia. Agar selamat dari raksasa Ni’an, orang-orang Cina menyiapkan makanan di depan pintu. Dengan cara ini akhirnya mereka selamat dari sasaran Ni’an. Hingga suatu hari terjadi peristiwa aneh, sang raksasa Ni’an lari terbirit-birit sambil menangis karena takut pada anak kecil yang pakai baju merah.

Atas peristiwa ini, orang-orang Cina bersyukur karena menemukan cara mengusir Ni’an agar hasil panennya selamat dengan hasil yang melimpah dan kehidupannya kembali damai. Cara tersebut adalah berbagi makanan dan memakai baju warna mereah. Kegiatan ini dilakukan para petani Cina setiap selesai panen di bulan purnama sebagai bentuk syukur dan tolak balak. Dari sinilah muncul tradisi perayaan Imlek.

Tak ada informasi jelas sejak kapan tradisi ini mulai muncul hingga akhirnya dijadikan sebagai perayaan tahun baru Cina. Yang jelas ada proses panjang penetapan Imlek sebagai tahun baru Cina.

Berdasarkan data sejarah, penetapan tahun baru Cina ini sudah ada sejak sebelum dinasti Qim sampai dinasti Zhou dengan perhitungan yang berurubah-ubah. Baru pada tahun 104 SM tahun baru Cina ditetapkan oleh kaisar Wu dari dinasti Han. Penetapan awal tahun Cina ini berdasarkan hari kelahiran Kongfuzu (Cofucius). Penetapan inilah yang berlaku sampai sekarang.

Di luar persoalan proses penetapan awal tahun baru Cina dan kaitannya dengan tradisi Imlek sebagai bentuk syukur para petani Cina atas hasil bumi yang melimpah dengan kehidupan yang damai, ada beberapa makna yang bisa dicermati dari tradisi Imlek ini.

Pertama, tradisi ini memiliki makna universal yaitu nilai ketuhanan. Perayaan tradisi Imlek mencerminkan hubungan antara mamusia dengan Tuhannya. Artinya Imlek meski hanya tradisi, bukan ritual, namun dia bisa menjadi sarana berkomunikasi antara manusia dengan Tuhannya. Inilah yang menyebabkan tradisi ini bisa diterima banyak orang, lintas etnis dan geografis. Tradisi yang bermula dari petani China dengan cepat menyebar ke berbagai belahan dunia.

Kedua, dalam tradisi Imlek ada dorongan untuk saling berbagi, diwujudkan dengan pemberian makanan makanan dan pembagian angpao. Selain bertujuan untuk menolak balak (keburukan) tradisi berbagi dalam tradisi imlek ini juga bisa menumbuhkan sikap saling peduli dan empati.

Ketiga, dalam tradisi Imlek ada anjuran agar seseorang segera melunasi hutang hutangnya pada tahun lalu agar tidak menjadi hambatan dalam mencari rejeki di tahum yang akan datang. Hutang ini bisa dalam bentuk meteri (uang atau barang) maupun non materi (hutang jasa maupun hutang budi).

Ketiga, saat merayakan Imlek ada anjuran untuk berkata yang baik dan mengjindari kata-kata kotor, fitnah, hasutan dan caci maki yang bisa melukai hati. Ini artinya Imlek menjadi sarana pembersih diri agar terhindar dari rasa iri, dengki dan benci kepada sesama manusia sehingga hubungan dengan sesama bisa berjala secara damai dan tentram.

Jika dicermati, Imlek mengandung spirit dan nilai-nilai kebaikan yang diajarkan oleh semua agama. Misalnya, nilai keTuhanan, ini menjadi nilai dasar dari setiap agama. Nilai solidaritas dan spirit berbagi pada sesama sebagai sarana menolak balak juga diajarkan semua agama. Di dalam Islam hal ini dinyatakan secara tegas bahwa as shodaqatu tutfa’ul balak (sedekah itu bisa menolak mara bahaya).

Sedangkan tindakan menyegerakan membayar hutang juga cermin kebajikan yang menjadi etika semua agama. Dalam Islam sendiri ada tiga tindakan yang harus disegerakan, salah satunya adalah membayar hutang. Sedangkan dua lainnya adalah menguburkan mayyit dan menikahkan anak gadis yang sudah mencapai umur.

Mengenai anjuran menjaga ucapan baik, ini juga ada di setiap.agama. Di dalam Islam hal ini dinyatakan secara tegas, man kaana yu’minuuna billahi wal yaumil akhir fal yaqul khairan aw liyasmut (barang siapa betiman pada Allah dan hari akhir maka hendaknya berkata baik atau diam.

Jelas di sini terlihat, kebaikan itu ada di mana-mana, lintas agama dan kepercayaan. Ini berbeda dengan agama. Karena agama terkait dengan konsep ketuhanan, system keyakinan, ritual dan sistem hukum (syariah). Atas dasar ini maka kebenaran agama tak bisa dicampur aduk dan disamakan.

Meski demikian, perbedaan ini bukan berarti harus menolak kebaikan yang ada di tempat lain. Sikap menolak kebaikan hanya karena dia berasal dari tempat lain akan menjadikan agama sebagai penghalang atas tumbuhnya kebaikan. Karena jelas-jelas kebaikan itu ada di mana-mana. Padahal kehebatan agama itu justru akan dilihat dari seberapa jauh ummatnya bisa menebar kebaikan pada sesama.

Dalam masyarakat Indonesia yang beragam ini ada baiknya berusaha unt beragama secara baik agar manfaat agama bisa dirasakan secara nyata. Karena sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Dengan cara ini agama akan menjadi sarana merajut perbedaan melalui laku lebaikan, bukan menjadi alat pemecah dan penebar kebencian yang bisa mengancam keberagaman.

Selamat tahun baru 2569 Kongzili
Gong Xi Fa Cai
Semoga tahun ini semakin membawa berkah dan kedamaian bagi kita semua… subur tanahnya, makmur hidupnya.

Penulis: Al-Zastrouw, (Zastrouw Al Ngatawi), penulis merupakan budayawan Indonesia. Pernah menjadi ajudan pribadi Presiden RI ke-4 KH Abdurrahman Wahid. Juga mantan Ketua Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) PBNU periode 2004-2009.

Komentar

Advertisement

Terpopuler