Connect with us

Global

SpaceX Memenangkan Kontrak Senilai US$ 130 Juta Dari Angkatan Udara

Published

on

SpaceX Mendapat Kontrak Senilai US$ 130 Juta Dari Angkatan Udara

Ilustrasi peluncuran roket Falcon SpaceX

NUSANTARANEWS.CO – SpaceX baru-baru ini memenangkan kontrak senilai US$ 130 juta dari Angkatan Udara untuk menggunakan Falcon Heavy meluncurkan satelit militer rahasia. Perusahaan Elon Musk tersebut akan mengirim satelit AFSPC-52 ke orbit di pada musim panas atau musim gugur 2020 dari Kennedy Space Center di Florida .

Kontrak peluncuran oleh Angkatan Udara AS itu dinilai sebagai sebuah langkah besar bagi SpaceX, karena AirForce menunjuk Falcon Heavy untuk menjalankan misi rahasia tersebut – dan sekaligus memberi sertifikasi untuk Falcon walau hanya dengan satu kali uji peluncuran.

Masalah izin tersebut terjadi lantaran SpaceX sempat gagal meluncurkan dua misi militer sebelumnya dengan Falcon 9. Satelit mata-mata Zuma milik Angkatan Udara yang bernilai miliaran dolar hilang. Selain itu, dua roket 9s juga meledak dalam uji coba peluncurannya.

Dalam sebuah pernyataan, President and Chief Operating Officer SpaceX Gwynne Shotwell mengatakan, “SpaceX merasa terhormat telah terpilih oleh Angkatan Udara untuk menggunakan Falcon Heavy guna peluncuran misi AFSPC-52,” katanya.

Kontrak peluncuran ini berhasil dimenangkan oleh SpaceX dengan dengan nilai  Rp1,8 triliun (US$130 juta). Padahal sebelumnya ElonMusk mengungkap bahwa untuk membangun sistem ini, pihaknya setidaknya menghabiskan dana US$500 juta dollar, seperti disebutkan The Verge.

Terpaut jauh dari harga yang ditawarkan kompetitornya Lockheed Martin yang beraliansi dengan United Launch Alliance. Keduanya menawarkan biaya peluncuran menggunakan roket Delta 4 dengan biaya US$350 juta.

Angkatan Udara tidak mengungkapkan mengapa memilih SpaceX untuk menjalankan misi. Namun harga yang kelewat murah inilah yang kemungkinan besar membuat Angkatan Udara AS luluh untuk akhirnya memenangkan Falcon Heavy untuk membawa misi militer tersebut ke orbit.

Pihak Boeing mengatakan bahwa roket SpaceX’s Falcon Heavy ‘terlalu kecil’ untuk menjalankan misi ruang angkasa, tulis Boeing dalam sebuah posting di situ web aerospace-nya ‘Watch US Fly’.

Ini adalah misi kelima Falcon Heavy. Sebelumnya, roket ini juga sudah digunakan untuk mengangkut misi demonstrasi Air Force STP-2 dan satelit Arabsat yang rencananya akan diluncurkan tahun ini.

Beberapa operator satelit lain seperti Intelsat, Viasat and Inmarsat, juga memiliki jadwal peluncuran namun belum menentukan akan menggunakan roket mana untuk peluncuran tersebut. Sepertinya Falcon Heavy masih memiliki peluang untuk meluncurkan beberapa peluncuran lain sebelum menangani misi Angkatan Udara AS. (Aya)

Advertisement

Terpopuler