Connect with us

Budaya / Seni

Sosok dan Karya Abdul Hadi WM, Pelopor Sastra Sufi di Indonesia

Published

on

Abdul Hadi WM. (FOTO: Dok. Salihara)

Abdul Hadi WM. (FOTO: Dok. Salihara)

NUSANTARANEWS.CO – Hari ini, 24 Juni 2018 merupakan hari kelahiran pelopor “sastra sufi” di Indonesia, Abdul Hadi WM. Bernama lengkap Abdul Hadi Wiji Muthari, penyair yang kini berstatus sebagai guru besar Falsafah Agama dan Budaya di Universitas Paramadina Jakarta, lahir di Sumenep, Madura, Senin, 24 Juni 1946. Hari ini, usianya genap 72 tahun. Selain dikenal sebagai sastrawan sufistik, Abdul Hadi juga masyhur namanya sebagai seorang budayawan, cendikiawan muslim dan ahli filsafat Indonesia.

Abdul Hadi lahir di lingkungan keluarga muslim yang taat. Ayahnya seorang muslim Tionghoa, saudagar dan guru bahasa Jerman bernama K. Abu Muthar. Sedangkan sang ibu adalah putri keturunan Mangkunegaran (Keraton Surakarta) bernama RA Sumartiyah atau Martiyah. Kedua orang tuanya ini memiliki pesantren di tanah kelahirannya, “Pesantren An-Naba”.

Sejak kecil, Abdul Hadi sudah berkenalan dengan bacaan-bacaan yang berat dari pemikir-pemikir seperti Plato, Sokrates, Imam Ghazali, Rabindranath Tagore, dan Muhammad Iqbal. Sejak kecil pula ia telah mencintai puisi dan dunia tulis menulis. Penulisannya dimatangkan terutama oleh karya-karya Amir Hamzah dan Chairil Anwar.

Dia menempuh pendidikan dasar dan sekolah menengah pertamanya di Sumenep. Di usianya yang masih kanak-kanak ini, Abdul Hadi sudah memiliki kegemaran mendengarkan dongeng dan membaca karya sastra. Tidak mengherankan apabila pada usia 14 tahun Abdul Hadi sudah mampu menulis karya sastra, terutama puisi.

Ketika duduk di bangku sekolah lanjutan pertama, ia sudah terobsesi oleh sajak-sajak Chairil Anwar, terutama sajak “Lagu Siul II” yang mengungkapkan ‘laron pada mati’ dan ‘ketangguhan tokoh Ahasveros menghadapi Eros’. Atas obsesinya pada sajak Chairil Anwar itu—dan juga pengalaman religiusnya mendalami dan mengamalkan Al Quran—kelak lahirlah sajak Abdul Hadi W.M. yang dinilai banyak pakar sastra bersifat sufistik, “Tuhan, Kita Begitu Dekat” (1976).

Loading...

Setelah lulus ia meneruskan ke Sekolah Menengah Atas di Surabaya dan setelah lulus ia melanjutkan studinya ke Fakultas Sastra, Universtas Gadjah Mada. Dia memasuki Jurusan Filologi, Fakultas Sastra hingga mencapai gelar sarjana muda (1965-1967). Kemudian, Abdul Hadi pindah ke Fakultas Filsafat di universitas yang sama hingga mencapai tingkat doktoral (1968-1971).

Baca Juga:  Kisah Teladan Penulis Jenius Yang Tabah dalam Kemelaratan

Kehausan akan ilmu pengetahuan, mendorong Abdul Hadi pindah ke Bandung lalu masuk di jurusan Antoripoogi Budaya, Fakultas Sastra, Universitas Padjadjaran (1971-1973). Selanjutnya, Selama setahun sejak 1973-1974 Hadi bermukim di Iowa, Amerika Serikat untuk mengikuti International Writing Program di Universitas Iowa, lalu di Hamburg, Jerman selama beberapa tahun untuk mendalami sastra dan filsafat.

Ketika ia sudah pindah ke kota Jakarta, di tahun 1991 mendapat tawaran menjadi penulis tamu dan pengajar (dosen) Sastra Islam di Pusat Pengajian Ilmu Kemanusiaan, Universitas Sains Malaysia, Penang. Tahun 1992 ia pun mendapatkan kesempatan studi dan mengambil gelar master dan doktor Filsafat dari Universiti Sains Malaysia di Penang. Beberapa tahun kemudian, tahun 1997 ia memperoleh gelar doktor (Ph.D.) dengan disertasinya “Estetika Sastra Sufistik: Kajian Hermeneutik terhadap Karya-Karya Shaykh Hamzah Fansuri“. Disertasinya ini kemudian diterbitkan dalam bentuk buku dengan judul “Tasawuf yang Tertindas Kajian Hermeneutik terhadap Karya-Karya Hamzah Fansuri” (Paramadina, 2001).

Sekembalinya ke Indonesia, Hadi menerima tawaran dari teman lamanya Nurcholis Madjid untuk mengajar di Universitas Paramadina, Jakarta, universitas yang sama yang mengukuhkannya sebagai Guru Besar Falsafah dan Agama pada tahun 2008.

Sepanjang menempuh pendidikan hingga dikukuhkan sebagai Guru Besar, selama itu pula Abdul Hadi juga terlibat dalam dunia jurnalistik. Sejak awal menjadi mahasiswa, ia aktif dalam kegiatan pers mahasiswa sebagai redaktur Gema Mahasiswa  (1967-1968), redaktur Mahasiswa Indonesia (1969-1974, edisi Jawa Tengah di Yogyakarta). Kemudian, antara tahun 1971-1973, ia menjadi redaktur Mahasiswa Indonesia edisi Jawa Barat di Bandung, Redaktur Pelaksana majalah Budaya Jaya (1977-1978), dan redaktur majalah Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) (1979-1981).

Selanjutnya, sembari mengasuh lembaran kebudayaan “Dialog” Harian Berita Buana (1978-1990), ia juga menjadi redaktur Balai Pustaka (1981-1983) dan redaktur jurnal kebudayaan Ulumul Qur’an. Disamping itu, ia juga diangkat sebagai Staf Ahli Bagian Pernaskahan Perusahaan Negara Balai Pustaka, dan Ketua Harian Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta (1984-1990). Tak hanya itu, dalam kesibukannya, ia pernah diundang untuk menjadi dosen Penulisan Kreatif di Fakultas Sastra Universitas Indonesia dan Institut Kesenian Jakarta (1985-1990), serta dosen tamu Sastra dan Filsafat Islam di Universitas Sains, Malaysia (1991-1997). Sekarang, ia aktif sebagai pengurus Yayasan Hari Puisi Indonesia.

Baca Juga:  Bukan Resesi, Chatib Basri Sebut Indonesia Hanya Lambat Ekonomi

Lalu, tahun 2000 ia dilantik menjadi anggota Lembaga Sensor Film dan sampai saat ini dia menjabat Ketua Dewan Kurator Bayt al-Qur’an dan Museum Istiqlal, Ketua Majlis Kebudayaan Muhammadiyah, anggota Dewan Pakar Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) dan anggota Dewan Penasihat PARMUSI (Persaudaraan Muslimin Indonesia). Keterlibatan Abdul Hadi WM dalam lingkaran aktivis Muslim telah dimulai sejak ia menjadi anggota Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) selama menjadi mahasiswa di UGM, kemudian ikut merintis lahirnya Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) pada tahun 1964. Dari sini ia pun dikenal sebagai cendikiawan muslim yang turut serta menyuarakan tentang pluralisme.

Sebagai pengajar, saat ini tercatat sebagai dosen tetap Fakultas Falsafah Universitas Paramadina, dosen luar biasa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, dan dosen pascasarjana Universitas Muhammadiyah Jakarta dan The Islamic College for Advanced Studies (ICAS) London kampus Jakarta.

Sebagai sastrawan, Hadi bersama sahabat-sahabatnya antara lain Taufik Ismail, Sutardji Calzoum Bachri, Hamid Jabar dan Leon Agusta menggerakkan program Sastrawan Masuk Sekolah (SMS), di bawah naungan Departemen Pendidikan Nasional dan Yayasan Indonesia, dengan sponsor dari The Ford Foundation. Di luar aktifitas gerakan kebudayaannya ini, Abdul Hadi WM terbilang banyak memberikan sumbangsih terhadap sastra Indonesia melalui karya-karya sastra sufistiknya.

Bahkan, sekitar tahun 1970-an, para pengamat menilainya sebagai pencipta puisi sufis. Ia memang menulis tentang kesepian, kematian, dan waktu. Seiring dengan waktu, karya-karyanya kian kuat diwarnai oleh tasawuf Islam. Suatu ketika ia berkata: “Dengan tulisan, saya mengajak orang lain untuk mengalami pengalaman religius yang saya rasakan. Sedang Taufik menekankan sisi moralistisnya,” kata Abdul Hadi menangkis anggapan orang yang menyebut dirinya seperti sastrawan Taufik Ismail terkait bentuk karya-karyanya.

Sebagai penyair sufi, ia telah melahirkan sejumlah buku puisi monumental. Diantaranya adalah Laut Belum Pasang (1971), Cermin, (1975), Potret Panjang Seorang Pengunjung Pantai Sanur (1975), Meditasi (1976), Tergantung pada Angin (1977), dan Anak Laut Anak Angin (1984), Pembawa Matahari (2002), Madura: Luang Prabhang (2006) dan Tuhan, Kita Begitu Dekat (2012). Sedangkan kumpulan puisinya dalam bahasa Inggris berjudul At Last We Meet Again (1987), dan kumpulan sajak bersama Darmanto Yatman dan Sutardji Calzoum Bachri dalam bahasa Inggris diterbitkan di Calcutta, India, 1976, dengan editor Harry Aveling, berjudul Arjuna in Meditation. Sajak-sajak Abdul Hadi W.M. tersebut telah diterjemahkan ke berbagai bahasa asing, antara lain Inggris, Jerman, Prancis, Jepang, Belanda, Cina, Korea, Thailand, Arab, Urdu, Bengali, dan Spanyol.

Baca Juga:  AS-Cina Sepakat Kerjasama Perdagangan

Sampai saat ini ia telah menerbitkan buku-buku esainya seperti Kembali ke Akar Kembali ke Sumber: Esai-Esai Sastra Profetik dan Sufistik (1999), Islam: Cakrawala Estetik dan Budaya (1999), Tasawuf yang Tertindas: Kajian Hermeneutik terhadap Karya-Karya Hamzah Fansuri (2001). Selain itu, ia juga terkenal sebagai editor buku, pengulas, dan penerjemah karya-karya sastra Islam dan karya sastra dunia. Dalam bidang ini telah dihasilkan sejumlah buku antara lain, Sastra Sufi: Sebuah Antologi (1985), Ruba’yat Omar Khayyam (1987), Kumpulan Sajak Iqbal: Pesan kepada Bangsa-Bangsa Timur (1986), Pesan dari Timur: Muhammad Iqbal (1987), Rumi dan Penyair (1987), Faust I (1990), Kaligrafi Islam (1987), Kehancuran dan Kebangunan (1987), dan Hamzah Fansuri: Risalah Tasawuf dan Puisi-puisinya (1995).

Pengamalan penting Abdul Hadi WM yang dalam dunia sastra ialah pernah mengikuti International Writing Program di Universitas Iowa, Iowa City, Amerika Serikat (1973-1974), London Poetry Festival, di London, Inggris (1974), Festival Penyair Internasional di Rotterdam, Belanda (1974), Festival Shiraz, Iran (1976), Konferensi Pengarang Asia Afrika, Manila, Filipina (1976), Mirbad Poetry Festival, Bhagdad (1989), dan masih banyak pertemuan sastra dan festival puisi regional dan internasional yang diikutinya, termasuk di Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, dan daerah-daerah lain di Indonesia.

Atas dedikasi dan kontribusa tersebut, pantas apabila pelopor sastra sufi Indonesia mendapatkan sejumlah pernghargaan prestisius seperti Hadiah Puisi Terbaik II Majalah Sastra Horison (1968), Hadiah Buku Puisi Terbaik Dewan Kesenian Jakarta (1978), Anugerah Seni Pemerintah Republik Indonesia (1979), S.E.A. Write Award, Bangkok, Thailand (1985),  Anugerah Mastera (Majelis Sastra Asia Tenggara) (2003), Penghargaan Satyalancana Kebudayaan Pemerintah Republik Indonesia (2010) serta Habibie Award di bidang sastra dan kebudayaan (2014).

Penulis: Mugi Riskiana

Editor: Achmad S.

Loading...

Terpopuler