Ekonomi

Soal Daya Beli Masyarakat, Faisal Basri: Perekonomian Indonesia Tidak Menunjukkan Kelesuan

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Pakar ekonomi, Faisal Basri mengamini bahwa belakangan ini muncul bangak nada pesimisme yang menggeleti perekonomian Indonesia. Hal itu ia kemukakan dalam pembuka orasinya yang akan disampaikan kepada para wisudawan Universitas Palembang.

“Gemuruh yang menyatakan terjadi kemerosotan daya beli masyarakat ibarat awan pekat pertanda akan terjadi hujan disertai petir. Sejumlah pelaku usaha dan asosiasi bisnis mengeluhkan penurunan omzet penjualan. Penurunan penjualan terjadi di pusat-pusat perbelanjaan modern, antara lain menohok penjualan makanan, pakaian, dan elektronik. Demikian pula dengan penjualan semen. Pemakaian listrik juga dilaporkan turun,” kata Faisal seperti dikutip dari lamannya, Sabtu (19/8/2017).

Faisal mempertanyakan, apakah dengan begitu memang telah terjadi penurunan daya beli masyarakat yang mencerminkan perekonomian melesu? Data pertumbuhan ekonomi terbaru yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) bulan Agustus ini, paparnya, menunjukkan perekonomian Indonesia pada triwulan II-2017 tumbuh 5,01 persen, persis sama dengan pertumbuhan triwulan I-2017.

“Berarti perekonomian tetap tumbuh—tidak merosot atau melesu—sekalipun tidak mengalami akselerasi atau percepatan pertumbuhan,” hemat mantan anggota Tim Asistensi Ekonomi Presiden RI itu.

Baca Juga:  Mengingatkan Bahaya Laten OTB-Komunis Terkait Masuknya Perusahaan Cina Usai Soeharto Lengser

Menurut dia, konsumsi rumahtangga pada triwulan II-2017 justru mengalami kenaikan pertumbuhan dibandingkan triwulan sebelumnya walaupun sangat tipis, dari 4,94 persen menjadi 4,95 persen. Memang dalam lima tahun terakhir, pertumbuhan konsumsi masyarakat menunjukkan kecenderungan menurun. Kecenderungan itu sejalan dengan trend jangka panjang.

“Tatkala pendapatan masyarakat masih rendah dan perekonomian baru pada tahapan awal membangun, porsi konsumsi masyarakat sangat dominan. Pada tahun 1960-65, konsumsi masyarakat rata-rata setahun mencapai 89 persen. Bandingkan dengan sekarang yang hanya 56 persen. Trend penurunan sempat terhenti akibat krisis ekonomi tahun 1998,” terangnya.

Jadi, lanjut Faisal, perlu dibedakan antara konsumsi masyarakat yang peningkatannya melambat dengan konsumsi masyarakat yang menurun atau merosot. Yang pertama nyata-nyata pertumbuhannya positif, sedangkan yang kedua pertumbuhannya negatif.

Selain itu, Faisal menyatakan bahwa, perekonomian Indonesia tidak menunjukkan kelesuan. Dimana, kata dia, dunia usaha dan pemerintah terus menambah investasi sehingga pembentukan modal terus berlangsung yang meningkatkan kapasitas produksi perekonomian. Pada triwulan II-2017, pertumbuhan investasi (pembentukan modal tetap domestik bruto) bahkan lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya, masing-masing 5,35 persen dan 4,78 persen. Lambat laun peranan investasi dalam PDB meningkat (berkebalikan dengan peranan konsumsi rumahtangga), dari hanya 8,1 persen rata-rata setahun pada periode 1960-65 menjadi 31,5 persen pada semester I-2017.

Baca Juga:  Bupati Jembrana Beri Diskon PBB-P2 75 Persen untuk Masyarakat

“Peranan konsumsi rumahtangga dalam perekonomian (produk domestik bruto) pada semester I-2017 sebesar 56,3 persen, sedangkan investasi 31,5 persen. Mengingat tiga komponen PDB lainnya tidak banyak berubah, maka komponen konsumsi rumahtangga dan investasi—menyumbang hampir 88 persen terhadap perekonomian—paling menentukan jatuh-bangunnya perekonomian,” urai Faisal.

Sementara dari sisi produksi, sambung Faisal, pada triwulan II-2017, hanya dua sektor yang menderita kemerosotan atau pertumbuhan negatif, yaitu sektor listrik dan gas serta sektor pemerintahan atau sektor publik. Delapan sektor menikmati pertumbuhan di atas rata-rata atau di atas pertumbuhan PDB. Selebihnya tumbuh walaupun lebih rendah dari pertumbuhan PDB.

Bandingkan dengan Artikel terdahulu:Faisal Basri: Perekonomian Indonesia Mengalami Tekanan Cukup Berat

“Perlu dicermati, semua sektor yang tumbuh relatif tinggi adalah sektor jasa (non-tradable). Sebaliknya, sektor barang atau sektor tradable (pertanian, pertambangan, dan industri manufaktur) tumbuh relatif rendah. Pola pertumbuhan antara sektor tradable dan sektor non-tradable yang kembali semakin timpang tentu saja menimbulkan berbagai konsekuensi terhadap perekonomian dan kehidupan masyarakat. Transformasi struktural yang terjadi, terutama setelah krisis 1998, membawa Indonesia lebih cepat menjelma sebagai perekonomian jasa tanpa melalui pematangan proses industrialisasi dan penuntasan transformasi di sektor pertanian,” tegas Pendiri Partai Amanat Nasional (PAN) itu.

Baca Juga:  Perlu Kaji Ulang, Gus Fawait Sebut Proyek Kompor Listrik Membingungkan

Pewarta/Editor: Ach. Sulaiman

Ikuti berita terkini dari Nusantaranews di Google News, klik di sini.

Related Posts

1 of 11