Direktur Eksekutif Indonesian Club, Gigih Guntoro. Foto Achmad Hatim/ NUSANTARAnews.co
Direktur Eksekutif Indonesian Club, Gigih Guntoro. Foto Achmad Hatim/ NUSANTARAnews.co

NusantaraNews.co, Jakarta – Indonesia Club menegaskan bahwa, Telkom merupakan perusahaan go publik yang sangat seksi dikalangan pelaku bisnis dan pasar saham. Bahkan tergolong dalam saham blue chip di bursa saham IIndonesia dan bursa saham New York.

Menurut Direktur Eksekutif Indonesia Club, Gigih Guntoro, hal itu terjadi karena perusahaan raksasa telekomunikasi Indonesia ini memiliki market yang besar, dengan jumlah pelanggan mencapai 17 juta.

“Angka ini akan terus berkembang seiring dengan makin terbukanya pasar Tehnologi informasi. Dan bonus demografi dengan jumlah penduduk menempati peringkat ke empat dunia dengan jumlah penduduk 258.316.051 (CIA World Factbook Tahun 2016),” terang Gigih di Jakarta, Senin, 18 September 2017.

Dia menyatakan, pasar Indonesia telah menjadi prospek bisnis yang menjanjikan baik untuk kerjasama investasi maupun dalam teknologi informasi. Kejadian terganggunya satelit Telkom 1 menjadi satu catatan tersendiri bagi pelaku pasar keuangan, pasar saham dan publik.

“Bagi sejumlah kalangan pengakuan Telkom yang berubah-rubah dan cenderung tidak konsisten atas pernyataan tersebut menjadi perhatian khusus bagi pelaku pasar. Beberapa kali direksi Telkom memberikan pernyataan yang cenderung manipulatif dan terkesan melakukan kebohongan publik,” ujar Gigih.

Ada empat kebohongan besar kata Gigih yang kini melekat di perusahaan raksasa telekomunikasi Indonesua itu. Adapun keempat kebohongan tersebut yang Gigih maksud yakni:

Kebohongan Pertama

Satelit produksi Lockheed Martin yang mulanya menjadi alasan Telkom yang diduga untuk menutupi perihal yang sebenarnya telah terjadi ditubuh raksasa Telekomunikasi Indonesia ini. Telkom terus mempersalahkan bahwa kekacauan yang menimbulkan matinya ribuan ATM dan sejumlah kantor kas BCA, Mandiri, BNI, BRI adalah dikarenakan terjadinya kerusakan satelit. Hal ini diperparah dengan pernyataan Telkom yang mengatakan bahwa Satelit sudah tidak dapat digunakan kembali karena sudah selesai masa tugasnya hingga tahun 2015 yang lalu. Bahkan sempat terlontar bahwa satelit Telkom 1 A2100A dinyatakan hancur. Tetapi kemudian pihak Telkom mengatakan satelit Telkom 1 masih dapat dihubungi.

Dalam hal ini menimbulkan spekulasi bagi publik. Sampai saat ini pihak produsen satelit Telkom 1 (Lockheed Martin) belum pernah memberikan pernyataan resmi mengenai klaim PT. Telkom. Klaim PT. Telkom yang menyatakan bahwa masa berlakunya satelit tersebut adalah 15 tahun dirasa masih janggal dengan harga yang tidak murah. Penelusuran Indonesian Club, pihak Lockheed belum pernah memberikan keterangan bahkan mengklarifikasi sebagai bentuk penjelasan atas klaim PT. Telkom. Patut kita ketahui Lockheed Martin merupakan perusahaan raksasa Amerika yang bukan hanya bergerak dibidang satelit. Melainkan memproduksi senjata, pesawat tempur, peluncur rocket dan alat2 pertahanan lainnya. Nama perusahaan ini sangat disegani oleh pelaku pertahanan baik negara maupun perusahaan pertahanan. Kredibilitas mereka saat ini dipertaruhkan dengan tindakan ceroboh para direksi Telkom yang sembarangan mendiskreditkan produk Lockheed Martin dengan mengklaim apa yang terjadi pada satelit produksinya tsb.

Kebohongan Kedua

Persoalan billing system yang mencuat beberapa waktu lalu menjadi perhatian publik dengan berbagai asumsi dan intepretasi publik yang berbeda-beda terhadap PT. Telkom. Migrasi data yang dinyatakan oleh jajaran direksi PT. Telkom seolah menyatakan atas kegagalan atau sudah kadaluwarsanya Satelit A2100A yang harganya US$ 191,4 juta. Migrasi data yang mulanya adalah sebesar 1,2 juta pelanggan diduga menjadi sumber malapetaka kematian ribuan ATM dan kantor kas perbankan. Berdasarkan investigasi yang kami lakukan secara mandiri, salah satunya adalah karena masa berlaku software billing system yang sudah habis pada tahun lalu. Kami menemukan bahwa Telkom memiliki anak perusahaan PT. TS atau disebut PT. SCC. Perusahaan ini memiliki 3 anak perushaan, yaitu:

1. SSI (anak perusahaan TS yang bekerja mengimplementasikan lisensi oracle)
2. SP (merupakan perusahaan yang menyediakan sistem integrasi untuk jaringan perusahaan)
3. SMS (perusahaan yang berfokus pada implementasi dan pemeliharaan lisensi SAP)

Ketiga perusahaan inI terspesialisasi pada sistem pengaplikasian atau penggunaan software-software yang digunakan oleh PT. Telkom. Jadi, TS merupakan perusahaan penyedia layanan teknologi informasi terpadu. Seperti halnya pengembangan perangkat lunak dan system integration. Keberhasilan migrasi data lebih dari 4,2 juta pelanggan Telkom beberapa waktu lalu, diduga tak lepas dari peran TS atau PT. SCC ini. Kemudian kami menelusuri lebih dalam bahwa dibawah direktorat IT yang dipimpin ZA dibentuklah sebuah rencana migrasi data pelanggan tersebut dengan bertepatan “masa berlaku yang telah usai dari satelit Telkom 1 produksi Lockheed Martin” (klaim Telkom) dan dugaan masa berlaku software billing system Orange & Sofrecom. Dibawah kepemimpinan AP, divisi Information System Center (ISC) diduga mengkolaborasikan mekanisme billing system ini.

Kebohongan Ketiga

Dugaan macetnya pembayaran billing system yang sudah out of date tentu tak lepas dari sepengetahuan dirut Telkom Alex J Sinaga. Tindakan migrasi data yang dilakukan diduga menjadi modus untuk menghindari tanggung jawab dan royalty terhadap Lockheed Martin dan Orange & Sofrecom yang menjadi beban bagi Telkom. Disampaikan beberapa waktu lalu dalam sebuah Pers Rilis oleh Indonesian Club bahwa tanggung jawab royalty atas software yang digunakan akan mendapatkan sertifikat (Sertificate Lincense), disinyalir belum didapatkan oleh PT. Telkom. Hal ini dapat mengakibatkan dianggapnya penggunaan software Telkom adalah merupakan tindakan ilegal yang telah berlangsung beberapa tahun belakangan ini. Informasi yang Indonesian Club himpun didapatkan pihak pemerintah Perancis telah mengetahui hal ini. Berbeda dengan perusahaan raksasa Amerika Lockheed Martin yang sangat tertutup. Lockheed Martin nampaknya masih diam dan melihat situasi tertentu. Perancis nampaknya selangkah lebih maju. Informasi yang berhasil kami himpun, mereka telah mempersiapkan segala hal tindakan yang dapat dilakukan untuk melindungi hak dan kewajibannya sebagai mitra puluhan tahun. Alhasil, tak menutup kemungkinan akan terjadinya proses hukum di Arbitrase Internasional bila hal ini terus dibiarkan. Tindakan hukum Perancis akan menjadi titik awal kerobohan saham Telkom. Selanjutnya antisipasi dari pihak Lockheed Martin menjadi pekerjaan rumah Telkom selanjutnya. Hal ini akan sangat disayangkan bila Telkom masih terus menutup-nutupi apa yang sebenarnya terjadi di BUMN raksasa yang kita sayangi ini. Orange, perusahaan BUMN IT raksasa eropa milik Perancis telah bekerjasama dengan PT. Telkom lebih dari 42 tahun lamanya.

Kebohongan Keempat

Berkaitan dengan konsumen atau nasabah perbankan yang telah dirugikan beberapa waktu lalu dapat mengakibatkan blunder bagi pihak Telkom. Pernyataan bahwa sedang memperbaiki kerusakan sistem akibat satelit Telkom 1 telah menimbulkan kerugian besar bagi pelaku keuangan (perbankan) khususnya. Bagi nasabah perbankan, terganggunya sistem ATM dan kantor kas perbankan dapat mengakibatkan kerugian materiil maupun non materiil. Kerugian materiil ini tidak dapat dilakukannya berbagai transaksi keuangan oleh para nasabahnya hingga beberapa waktu lamanya. Walaupun kami mensiyalir bahwa pelaku kuangan (perbankan) mendapatkan kompensasi-kompensasi tertentu. Bahkan dugaan penelusuran kami, pihak bank sendiri terpaksa menggunakan sistemnya yang lama yaitu sistem manual yang dikenal dengan istilah sistem analog.

Satu hal yang menimbulkan cost tersendiri bagi perbankan. Selain itu, nama baik dari pelaku keuangan ini pun menjadi tercoreng karena dianggap melalaikan kewajiban terhadap para pelanggan atau nasabahnya. Jutaan orang sebagai nasabah bank juga mendapat imbas dari gangguan yang terjadi di Telkom. Di kawasan Depok dan sekitar Jabotabek pada tanggal 24 Agustus pun merasakan gangguan Telkom dan perbankan. Berbagai transaksi tidak dapat dilakukan hampir merata di seluruh Indonesia untuk jangka waktu yang tidak sebentar. Bila ada salah satu nasabah yang memprotes terhadap kelalaian pelayanan terhadap pelanggan, maka hal ini adalah suatu kewajaran.

Ketidakwajaran Telkom

Selain empat kehohongan di atas, Indonesia Club juga mencatatat ada ketidak wajaran di dalam internal Telkom.

“Dalam pencermatan kami, migrasi data ini tak terlepas dari modus jajaran petinggi Telkom yang tak menutup kemungkinan dugaan awal kami melibatkan direktur keuangan Telkom sebagai pengelola seluruh keuangan Telkom. Selanjutnya untuk pemigrasian data dilakukan oleh direktorat IT dibawah ZA dengan divisinya ISC dibawah kendali AP,” kata Gigih.

Dia menyebut jia Licensi dan sinkronisasi oleh anak perusahaan TS di bawah kepemimpinan JA. Dugaan perampokan secara sistematis ini, imbuh dia, pastinya akan berdampak signifikan bahwa PT. Telkom adalah perusahaan go publik yang ada di Indonesia dan di luar negeri.

“Perilaku monkey bisnis yang kami duga melekat pada managemen mengakibatkan kerugian PT. Telkom dan negara lebih dari 1,2 triliun rupiah dan tentu tak lepas dari peran sepengetahuan dirut Telkom Alex J Sinaga. Konsekuensi yang sangat besar bagi bangsa Indonesia atas perilaku jajaran direksi Telkom,” cetusnya.

Potensi kerugian ke depan, sambung dia, dapat mencapai belasan bahkan puluhan triliun bila hal ini tidak segera diselesaikan. Imbasnya baik dari segi ekonomi maupun politik bangsa Indonesia yang sedang memperbaiki citranya di internasional sebagai negara yang ramah investasi dan adanya jaminan keamanan dari sisi berbagai sisi dan hukum akan kandas kembali dimata internasional.

“Atas kejadian dan berbagai dugaan kebohongan para direksi Telkom yang terus menerus dilakukannya secara terbuka, Indonesian Club melihat dugaan perampokan yang dilakukan secara sistematis oleh kelompok yang terorganisir dalam jajaran Telkom. Telkom seolah menjadi rumah bagi pemburu rente yang menghisap uang rakyat demi kepentingan kelompoknya,” tandas Gigih Guntoro.

Pewarta/Editor: Ach. Sulaiman

Komentar