Pianis dan komponis, Ananda Sukarlan. Foto: Dok. Pribadi/Istimewa
Pianis dan komponis, Ananda Sukarlan. Foto: Dok. Pribadi/Istimewa

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Nama alumnus Kolese Kanisius, Ananda Sukarlan kini tengah naik daun karena menjadi buah bibir publik negeri. Pianis dan komponis berusia 49 tahun ini mendadak jadi perbincangan dan menjadi target cyberbullies akibat sikap sinis dan sentimennya terhadap Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan yang tengah berpidato di acara peringatan 90 tahun berdirinya Kolese Kanisius di JIExpo Kemayoran, Sabtu (11/11) lalu. Ananda walkout hanya karena tidak suka terhadap Anies yang berhasil menumbangkan Ahok di Pilgub DKI Jakarta.

Sebagian kalangan menilai, sikap Ananda adalah contoh nyata dari perilaku seorang pecundang sejati. Selain itu, perilaku Ananda juga dinilai tidak etis, kasar, menghina dan ofensif. Celakanya, ratusan alumni dan hadirin juga malah mengikuti langkah Ananda.

“Dari sisi sopan santun tradisi rakyat Indonesia, jelas sikap mereka tidak pantas. Dasar berpikir mereka apriori dan tidak siap berdemokrasi sekaligus mungkin masih tak beradab dalam perilaku politik. Suatu acara kultural dan komunitas pendidikan, disikapi dengan politik kekuasaan,” ujar pengamat politik Muchtar Effendi Harahap kepada NusantaraNews.co, Jakarta, Selasa (14/11/2017).

Pasca kekalahan Ahok di Pilgub DKI Jakarta, para pendukungnya seperti terus menunjukkan sikap tak terima dengan hasil Pilgub yang berlangsung demokratis. Seolah-olah tidak ada sosok lain yang berhak untuk duduk di kursi DKI Satu kecuali hanya Ahok semata. Pada akhirnya, kecintaan berlebihan kepada Ahok, sadar atau tidak telah membuat gelap mata sebagian pendukungnya.

“Pikiran politik kekuasaan yakni kemenangan Anies dalam Pilkada DKI masih dinilai subyektif dan tidak faktual sebagai kemenangan tidak jujur. Secara politik, sikap Ananda dkk ini menunjukkan tidak siap berdemokrasi. Ada baiknya sebagai pendidikan politik rakyat Indonesia, kasus itu diteruskan ke pengadilan sebagai sarana untuk menentukan secara hukum apakah sikap Ananda dkk itu salah atau tidak,” papar peneliti senior ini.

Ia melanjutkan, jalur pengadilan ini penting diambil agar rakyat paham perilaku semacam itu boleh atau tidak diambil sejak hubungan rakyat dan penyelenggara negara di alam demokrasi.

“Juga untuk menghindarkan terjadinya konflik manifest antara pendukung Anies dan penentang Anies hanya karena kalah Pasangan Calon mereka dalam Pilkada. Siap kalah dan siap menang harus menjadi prinsip ditegakkan bijaksana bagi Pasangan Calon, tetapi juga oleh segmen pendukung atau relawan,” jelasnya. (red)

Editor: Eriec Dieda/NusantaraNews

Komentar