Connect with us

Ekonomi

Siapa Menikmati Perang Dagang AS-Cina?

Published

on

Perang Dagang

NUSANTARANEWS.CO – Ketika sebagian besar pengamat pasar sepakat akan ada dampak buruk terhadap ekonomi dunia akibat Perang Dagang AS-Cina, beberapa negara justru menikmati keuntungan dari perang dagang tersebut. Pada gilirannya, perang dagang tersebut ternyata membuka celah potensi pasar baru bagi negara lain untuk memperbesar ekspornya. Sesuai dengan pepatah lama, “Ketika dua pihak bertengkar, pihak ketiga bersukacita.”

Dengan kata lain, jika dua negara besar melakukan perang dagang saling meningkatkan tarif satu sama lain – maka pihak ketiga akan mendapat keuntungan. Jadi, seharusnya negara-negara lain menyambut gembira Perang Dagang AS-Cina yang mulai efektif berjalan.

Bila perdagangan AS dan Cina dialihkan ke pasar Eropa, Jepang, Asia dan Amerika Latin – Uni Eropa kemungkinan termasuk yang akan meraup untung besar, karena tetap menjadi salah satu mitra dagang terbesar AS dan Cina, selain itu produsen Eropa sering menjadi pesaing terdekat perusahaan AS.

Sampai saat ini, AS telah memaksakan tarif 10% pada barang-barang Cina dengan nilai lebih dari US$ 200 miliar. Tahun depan, tarif dapat dinaikkan menjadi 25% (sepuluh kali tarif rata-rata AS untuk impor dari negara lain) dan diperluas untuk mencakup impor yang lebih luas. Hal ini menyiratkan bahwa pengalihan perdagangan menjadi lebih substansial.

Yang pasti, integrasi tingkat tinggi ekonomi transatlantik dapat bertindak sebagai faktor mitigasi. Sebagai contoh, Airbus mungkin menggantikan Boeing di pasar Cina yang luas, tetapi lebih dari sepertiga nilai tambah pesawat Airbus dikontribusikan oleh AS. Ini adalah salah satu alasan mengapa Trump mungkin memilih untuk memperpanjang gencatan senjata dengan Uni Eropa yang disepakati pada bulan Juli.

Pada akhirnya, konfrontasi Sino-Amerika akan menggeser perdagangan global secara signifikan. Ini mungkin menguntungkan sebagian besar ekonomi dunia, tetapi juga memiliki konsekuensi serius bagi AS dan Cina, di mana konsumen dan perusahaan yang bergantung pada mesin impor harus membayar lebih mahal.

Perang dagang ini tampaknya cenderung merugikan AS – karena impor Cina dari AS sebagian besar adalah komoditas pertanian yang pemasoknya relatif mudah ditemukan. Misalnya, Cina dapat mengimpor kedelai dari Brasil, Argentina, Uruguay dan Paraguay.

Namun secara keseluruhan, perang dagang Sino-AS dapat merugikan Cina, tetapi kerugian tersebut kemungkinan akan tertutupi oleh biaya yang dikeluarkan oleh AS sendiri. Sementara, seluruh dunia mungkin berharap kedua belah pihak terus melanjutkan konflik. Bagaimana dengan Indonesia?

Jika perang dagang ini lebih panjang, Cina tentu akan meningkatkan investasi langsung ke sektor pertanian, logam dan energi di negara-negara berkembang sebagai diversifikasi komoditi dari AS. (Agus Setiawan)

Terpopuler