Connect with us

Budaya / Seni

Si Aktor Tampan

Published

on

Lukisan: Le Désespéré by Gustave Courbet/Ilustrasi nusantaranews.co)

Lukisan: Le Désespéré by Gustave Courbet/Ilustrasi nusantaranews.co)

Oleh: Yudik Wergiyanto*

NUSANTARANEWS.CO – Beberapa bulan belakangan aktor kita ini memang kerap muncul di layar kaca. Di acara serial teve, infotainment, reality show, komedi hingga iklan komersial. Serial tevenya tengah hangat diperbincangkan kaum remaja, bahkan anak-anak juga. Ketampanan aktor kita inilah yang menyebabkan hampir semua orang menontonnya.

“Ganteng banget!” Begitu para penggemar aktor kita ini acapkali memujinya.  Banyak wanita yang tersihir dengan ketampanan aktor kita ini. Bahkan banyak wanita berkata kalau tak pernah mereka sebelumnya melihat laki-laki setampan dirinya

Ketampanan yang dimiliki aktor kita ini memang telah membuatnya terkenal. Berkat ketampanan itu pula hidupnya yang semual gelap gulita, berubah menjadi terang penuh cahaya kebahagiaan. Aktor kita ini sendiri tidak menyangka bahwa ketampanannya dapat merubah hidupnya. Apalagi ketampanan itu bukanlah karunia Tuhan sejak lahir.

Sebelum terkenal wajah aktor kita ini tidaklah setampan sekarang. Dulunya ia berwajah buruk. Sangat buruk tepatnya. Bagaimana mungkin tak dikatakan buruk, matanya saja tak dapat dibuka sebelah, giginya tonggos, hidungnya bengkok dan kulit wajahnya nyaris sehitam jelaga. Tidak cuma itu saja, badan aktor kita ini pun bongkok. Di punggungnya seperti ada sebuah gundukan besar. Seolah-olah dia tengah memanggul sesuatu

“Kasihan anak itu.” kata orang-orang setiap kali melihat aktor kita ini.

“Iya. Sudah buruk rupa harus menanggung dosa-dosa ibunya pula.”

“Benar. Itulah kenapa di punggungnya muncul gundukan besar.”

“Dasar anak jadah!”

Karena wajah buruknya itu semua orang di sekitarnya tidak menyukai dirinya. Setiap kali orang-orang melihat aktor kita ini lewat, pasti mereka buru-buru menjauh. Seolah-olah dirinya bagai kotoran menjijikkan yang ada di depan mata. Bila ada wanita hamil yang kebetulan melihatnya, pasti mereka lekas-lekas mengelus perut sembari mengucap, “Amit-amit jabang bayi”, takut kelak anaknya terlahir mirip dengannya.

Tidak ada orang yang mau bergaul dengan aktor kita ini. Teman-temannya, tetangganya bahkan saudara-saudaranya meninggalkannya. Dia pun hidup sebatang kara. Terlunta-lunta ke sana ke mari. Mengemis di jalanan tak ada yang memberi. Meminta belas kasihan ke rumah-rumah warga pun tak ada yang peduli. Sampai suatu hari dia tidak tahan lagi dengan beban hidup yang harus ditanggungnya. Aktor kita ini ingin mengakhiri hidupnya. Sebab dia merasa percuma hidup di dunia yang tak menghendaki kehadirannya. Dunia bagi dirinya hanya memberinya penderitaan. Tidak pernah sekali pun dunia berbaik hati padanya. Sepanjang hidupnya hanyalah pilinan antara penderitaan dan penderitaan lain.

“Seseorang bisa menjadi apa saja, memiliki segalanya. Tapi selama hal itu tak membuatnya bahagia, maka sia-sialah semua itu.” Aktor kita ini teringat dengan ucapan ibunya sebelum meninggal dulu.

“Bagaimana mungkin seseorang yang punya segalanya tapi tak bahagia?” tanya aktor kita ini pada ibunya.

“Apa yang kau punya tak semata-mata bisa membuatmu bahagia. Kalau kau tak pandai bersyukur, mereka bisa mencelakaimu,” jawab Ibunya. “Kelak, kau tak perlu menjadi apa-apa. Cukuplah menjadi orang yang bahagia.”

“Lalu, bagaimana cara menjadi bahagia? Susahkah, bu?”

“Tidak. Bahagia tidaklah susah. Bahagia itu sederhana. Cukup terima saja apapun yang telah Tuhan berikan untuk kita.” jawab ibunya sembari mengusap pelan gundukan besar di punggung aktor kita ini.

Tetapi, pada akhirnya aktor kita ini paham bahwa semua yang disampaikan ibunya dulu tidaklah benar. Ibunya telah berbohong padanya. Ibunya hanya mengarang-ngarang cerita. Untuk menjadi bahagia itu tidak mudah. Tidaklah sesederhana yang dikatakan ibunya. Untuk menerima pemberian Tuhan yang tak sesuai degan harapan tidaklah mudah. Dia menyesal telah mempercayai nasihat ibunya itu. Padahal sebetulnya sejak kecil dia tahu bahwa hidupnya memang tak pernah bahagia. Sering berpindah-pindah rumah. Sering ditinggal sendiri oleh ibunya yang gemar pergi dengan laki-laki. Sementara ayahnya? Dia tidak pernah tahu di mana, bahkan siapa ayahnya.

“Bila selama hidup saja tak pernah sekali pun merasakan kebahagiaan, untuk apa pula hidup dipertahankan,” pikir aktor kita ini. “Lebih baik aku mati, Tuhan. Tak ada gunanya aku hidup.”

Ia pergi dan berdiri di tepi sungai dengan tebing curam. Dia berpikir, sekali melompat ke sungai itu maka pasti dia akan langsung mati. Dia pernah mendengar bahwa sangat menyakitkan ketika nyawa hendak dipisahkan dari jasad oleh malaikat maut. Tapi jika dia menjatuhkan diri ke sungai, dipastikan dia akan langsung mati karena di bawah sana bebatuan besar dan keras menunggunya. Aktor kita ini pun mulai memejamkan matanya, bersiap untuk menghempaskan diri. Tiba-tiba saja, ketika ia hampir melayangkan tubuhnya, sebuah suara mengejutkannya.

“Jangan bodoh!”

Ia terperanjat mendengar suara itu dan membuatnya nyaris terjatuh. Beruntung ia mampu menjaga keseimbangan tubuhnya.

Seketika aktor kita ini pun menoleh ke kanan kiri mencari tahu dari mana asal suara itu. Dia melihat ke sekeliling tak ada siapa-siapa. Hanya dia seorang diri yang berdiri di tepian tebing itu. Dia coba mencari di semak belukar, tetapi tak ditemukan apa-apa. Di balik bebatuan juga tak ditemukan apa-apa. Di rimbun pepohonan pun demikian, tidak dia temukan apapun. Lalu, suara itu pun terdengar kembali. Kini dia tahu bahwa suara itu terdengar seperti gema dari langit.

“Apakah itu suara Tuhan?” tanya aktor kita ini dalam hati.

Suara itu kemudian berkata bahwa akan membantu menyelesaikan masalah aktor kita ini. Suara misterius itu berjanji akan memberinya sebuah topeng yang apabila aktor kita ini pakai bisa membuatnya menjadi tampan. Tak lama berselang setelah itu muncullah sebuah topeng hitam di hadapan wajah aktor kita ini. Topeng itu melayang-layang di udara. Di sekeliling topeng itu berpendar cahaya putih terang. Dari kedua matanya terpancar cahaya merah menyilaukan. Dengan tangan gemetar karena ketakutan, aktor kita ini meraih topeng tersebut. Lalu, suara misterius itu memerintahkan topeng itu lekas digunakan. Aktor kita ini menuruti perintah tersebut. Ajaib! Ketika aktor kita ini menaruh topeng itu di wajahnya, seketika topeng tersebut langsung menyatu dengan kulit wajah. Amat sulit untuk dipercaya, parasnya yang semula buruk langsung berubah menjadi tampan. Sangat tampan tepatnya.

Karena penasaran dengan perubahan yang terjadi aktor kita ini mencoba meraba-raba wajahnya sendiri. Mulai dari mata, hidung, bibir hingga gigi. Ia hampir tak percaya bahwa wajah buruknya telah berubah. Kedua matanya sudah dapat melihat dengan sempurna. Hidungnya berubah bangir. Giginya yang tonggos pun menjadi rata dan rapi. Kulit wajahnya juga menjadi putih bersih. Setelah puas meraba-raba wajahnya, aktor kita ini kembali mencari-cari suara misterius itu.

“Hai, suara misterius, siapa kau?” tanya aktor kita ini. “Apa topeng ini selamanya akan melekat di wajahku?”

“Tidak,” jawab suara itu. “Kau bisa membukanya kapan saja kau mau.”

“Baiklah. Tapi jawab dulu, siapa dirimu?”

“Aku temanmu.”

“Temanku?” gumam aktor kita ini.

Meski kebingungan dengan jawaban dari suara misterius itu, namun aktor kita ini tidak memerdulikannya. Baginya siapa pemilik suara misterius itu tidak lagi penting. Dia hanya tahu pemilik suara itu pastilah orang baik. Sebab hanya orang baik yang membantu orang yang kesusahan. Baginya yang terpenting wajahnya sudah tidak lagi buruk.

Setelah peristiwa itu aktor kita ini pun kembali ke tempat asalnya. Menemui orang-orang yang dulu menghinanya. Mereka semua terkejut melihat ketampanan aktor kita ini. Mereka semua terpanah. Semua mata tertuju pada aktor kita ini.

“Siapa dia? Kenapa tampan sekali?” kata salah seorang warga.

“Dia itu malaikat!”

“Malaikat?”

“Ah, bukan. Dia itu jodoh saya.” ucap seorang wanita yang terpesona dengan ketampanannya.

Aktor kita ini pun seketika menjadi buah bibir orang-orang. Semua orang membicarakannya. Banyak wanita ingin menemui aktor kita ini. Berita mengenai dirinya pun dengan cepat sampai ke seluruh penjuru negeri. Hingga pada suatu hari, aktor kita ini didatangi seseorang yang meminta dirinya untuk menjadi seorang artis.

“Kenapa aku harus menjadi artis?” tanya aktor kita ini.

“Karena kau tampan. Dengan menjadi artis kau akan jadi terkenal. Semua orang akan mengidolakanmu.”

Dan sekarang apa yang dikatakan orang tersebut pun benar-benar terjadi. Ketampanan yang dimiliki aktor kita ini membuat semua orang mengidolakannya. Semua stasiun teve menginginkannya. Semua produser meminta agar dia membintangi filmnya. Semua perusahaan ingin dia mengiklankan produknya. Setiap acara yang dibintanginya selalu memperoleh rating teratas. Termasuk acara serial teve remajanya. Serial  teve itu hampir digemari hampir oleh seluruh lapisan masyarakat. Tentu saja semua karena ketampanan aktor kita ini. Begitu pula dengan produk-produk yang diiklankan oleh dirinya. Semuanya laku keras, membuat para pengusaha meraup keuntungan yang melimpah. Tak urung, aktor kita ini pun semakin terkenal. Memanfaatkan hal tersebut, orang yang membuat aktor kita ini menjadi artis, mengajaknya untuk merambah dunia tarik suara.

“Aku tak bisa bernyanyi,” sahut aktor kita ini. “Suaraku jelek.”

“Ah, tak apa. Ketampananmu bisa mengatasi semuanya. Sekarang suara bukan lagi jadi masalah.”

“Tak usah pikirkan itu. Bayangkan saja kau akan semakin terkenal.”

Lagi-lagi apa yang disampaikan oleh orang itu benar. Aktor kita ini benar-benar semakin terkenal dari sebelumnya. Lagu-lagu darinya pun juga turut terkenal. Jadi hits di acara musik maupun radio-radio. Albumnya terjual laris. Semua orang tahu lagunya. Semua orang menyanyikannya. Anak-anak, remaja, bahkan sampai orang tua. Tentu saja semua itu lantaran ketampanan dari aktor kita ini.

Makin lama jumlah penggemar aktor kita ini makin bertambah. Setiap hari pengikutnya di media sosial makin banyak jumlahnya. Kebanyakan dari mereka adalah para gadis. Tapi tak sedikit pula wanita-wanita dewasa yang mengidolakannya. Ibu-ibu pun juga demikian. Para wanita hamil selalu berdoa agar bayi di rahimnya terlahir setampan aktor kita ini.

Untuk menjaga hubungan baik dengan penggemarnya, aktor kita ini sering melakukan pertemuan dengan mereka. Ia akan berkumpul dengan penggemarnya yang jumlahnya mencapai ribuan. Mereka semua akan berteriak histeris saat melihat idolanya berada di depan mata. Meneriakkan nama aktor kita ini. Tak sedikit dari mereka yang sampai meneteskan airmata saking antusiasnya.

Namun ada satu keanehan yang terlihat ketika aktor kita ini berkumpul dengan para penggemarnya. Satu hal yang amat mencolok. Apalagi bila aktor kita ini berada di tengah-tengah mereka. Siapa pun pasti tahu hal aneh tersebut hanya dengan sekali melihatnya dan pasti segera mengerutkan dahi lalu bertanya-tanya.

Dari ribuan penggemarnya itu, tak ada satu pun yang terlihat punya wajah yang sedap dipandang. Semua berwajah buruk. Ada yang tak punya mata, bibirnya sumbing, hidungnya bengkok, giginya tak rata. Semuanya buruk rupa. Tak ayal pemandangan aktor kita ini bersama penggemarnya seperti malaikat berdiri di tengah para iblis.

Anehnya tak ada satu pun yang menyadari akan hal itu. Aktor kita ini tetap jadi idola. Dia tetap muncul di acara-acara teve saban hari. Dia jadi semakin sibuk, berangkat pagi dan pulang malam. Setiap kali pulang dia pasti selalu merasa kelelahan dan biasanya langsung tertidur. Sebelum merebahkan diri, aktor kita ini pasti selalu membuka topengnya terlebih dulu. Dia merasa tak enak juga memakai topeng seharian. Lagi pula tak akan ada orang yang tahu, pikirnya. Dia pun meletakkan jari-jarinya tepat di bawah tulang rahangnya. Lalu, ditariknya secara perlahan dan muncullah topeng hitam itu. Saat topengnya dibuka, terpampanglah kembali wajahnya yang buruk. Topeng itu pun dia letakkan di samping bantalnya.

Dalam kamarnya yang gelap, tiba-tiba mata topeng itu tampak menyala. Ketika aktor kita ini sudah pulas, topeng itu berbisik padanya.

“Tidurlah. Besok akan kuserap untukmu keindahan wajah dari setiap orang yang mengidolakanmu. Tidurlah.”

Tetapi, sesungguhnya, sudah sejak lama aktor kita ini mendengar topeng itu sering berbisik padanya. Dia rasa suara itu mirip suara setan.

Situbondo, 14 Januari 2016

*Yudik Wergiyanto, kelahiran Situbondo, 12 Juli 1993. Baru menamatkan pendidikannya di jurusan Akuntansi Universitas Jember. Saat ini sedang giat menulis fiksi. Tergabung dengan Komunitas Penulis Muda Situbondo.

Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi (berdonasi) karya baik berupa puisi, cerpen, esai, resensi buku/film, maupun catatan kebudayaan serta profil komunitas dapat dikirim langsung ke email: [email protected]

Baca: 10 Hal Yang Harus Diketahui Sebelum Kirim Tulisan ke Nusantaranews.co

Terpopuler