Connect with us

Mancanegara

Setelah Kapsul Hayabusa 2 Mendarat Dengan Sampel Asteroid

Published

on

Setelah Kapsul Hayabusa 2 mendarat dengan sampel Asteroid.

Setelah Kapsul Hayabusa 2 mendarat dengan sampel Asteroid/Foto: DW.Com

NUSANTARANEWS.CO, Tokyo – Setelah Kapsul Hayabusa 2 mendarat dengan sampel Asteroid. Sesaat kapsul yang dilindungi oleh perisai panas berubah menjadi bola api ketika meluncur memasuki atmosfir yang berjarak sekitar 120 km dari permukaan Bumi. Tak lama kemudian, pada jarak sekitar 10 km dari permukaan tanah, sebuah parasut mengembang memperlambat kejatuhannya.

Kapsul Hayabusa 2 yang berisi sampel dari asteroid Ryugu berhasil mendarat di Australia. Seperti diketahui, Probe Hayabusa 2 atau Peregrine falcon 2 diluncurkan pada akhir tahun 2014, dan bertemu dengan asteroid dekat Bumi 162173 Ryugu pada 27 Juni 2018. Hayabusa 2 mensurvei asteroid selama satu setengah tahun dan mengambil sampel kemudian meninggalkan asteroid pada November 2019 dan mengembalikan sampel ke Bumi pada 5 Desember 2020.

Para ilmuwan mengatakan bahwa mereka yakin sampel yang diambil dari bawah permukaan asteroid akan berisi data berharga yang tidak terpengaruh oleh radiasi luar angkasa dan faktor lingkungan lainnya. Mereka sangat tertarik untuk menganalisis bahan organik dalam sampel.

Selama pendaratan pertama pada Februari 2019, Hayabusa2 mengumpulkan sampel debu permukaan. Dan dalam misi yang lebih menantang pada Juli, Hayabusa 2 mengumpulkan sampel bawah tanah dari asteroid untuk pertama kalinya dalam sejarah luar angkasa setelah mendarat di kawah yang diledakkan di permukaan asteroid.

Jaxa berharap bisa menemukan petunjuk bagaimana bahan-bahan tersebut didistribusikan di tata surya dan terkait dengan kehidupan di Bumi. Makoto Yoshikawa, manajer misi, mengatakan 0,1 gram debu akan cukup untuk melakukan semua penelitian yang direncanakan.

Ini bukanlah akhir dari misi Hayabusa2 yang dimulai pada tahun 2014. Sekarang wahana sedang menuju asteroid kecil bernama 1998KY26 dalam perjalanan yang dijadwalkan memakan waktu 10 tahun, untuk penelitian yang mungkin termasuk menemukan cara untuk mencegah meteorit menghantam Bumi. (AS)

Baca Juga:  Ingatkan Sejarah Dikalangan Anak Muda, Saatnya Digitalisasi Sejarah di Jatim Diberlakukan

Loading...

Terpopuler