Connect with us

Politik

Setelah Kampanye Ad Hominem, Para Buzzer Kini Dinilai Tengah Sibuk Sebarkan Istilah Fearmongering dan Scaremongering

Published

on

scaremongering, fearmongering ad hominem, buzzer, buzzer politik, buzzer media sosial, buzzer digital, kampanye ketakutan, kampanye keresahan, nusantaranews, pemilu gembira, nusantara news

Buzzer media sosial. (Foto: Ilustrasi/blogspotisme)

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Para buzzer dinilai tengah mengkampanyekan istilah baru yakni fearmongering dan scaremongering setelah sebelumnya ‘sukses’ menyebarluaskan istilah Ad Hominem yang bertujuan untuk menimbulkan ketakutan dan keresahan. Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno disebut sebagai pihak yang menjadi target kampanye tersebut.

“Prabowo Subianto dituduhkan sebar ketakutan dan keresahan melalui pidatonya yang bergemuruh menyemangati rakyat agar terus berjuang bersama menjaga NKRI. Juga framing terhadap Sandiaga Uno yang dengan gaya santun funky millennials membuka problem riil negara dan rakyat kekinian,” ujar jubir jaringan ’98, Ricky Tamba, Jakarta, Senin (21/1/2019).

Menurutnya, tuduhan tersebut merupakan hal yang mustahil di era digital. Pasalnya, semua rekam jejak dan pencitraan palsu akan mudah dilacak dan dibongkar. “Saya nggak mau masuk wilayah data statistik, karena bukan lembaga survei pabrik meme plintiran, ekonom handal tapi suka puja puji penguasa, politisi papan atas demagog parasit APBN, apalagi bagian dari taipan konglomerasi busuk penindas rakyat,” cetusnya.

Baca juga: Kubu Prabowo-Sandi Duga Ada Irisan Pendukung Jokowi Pembuat Skandal Sandiaga

Baca juga: Poster ‘Raja Jokowi’ dan Terbongkarnya Skenario Politik Playing Victim

Baca juga: Akun Robot Pendukung Jokowi Diduga Jadi Sumber Hoax

Menurut Ricky, yang menimbulkan ketakutan itu sebenarnya kalau uang negara terus menerus dikorupsi elite akibat hukum tajam ke bawah tumpul ke atas. “Saya takut bila triliunan kekayaan bangsa terus lari ke luar negeri akibat permainan modal asing dampak berbagai kebijakan nekolim ultraliberalistik, terlebih di era digitalisasi finansialisasi yang bisa menyesatkan,” kata dia.

Selain itu, lebih menakutkan lagi, kata dia, kebijakan impor pangan yang dibuka selebar-lebarnya yang mengakibatkan kematian hasil produksi petani lokal. “Yang ujungnya merusak kedaulatan negara akibat ketergantungan akut,” ucapnya.

“Yang paling menakutkan lagi, bila gara-gara tulisan-tulisan dan komentar-komentar kritis saya, bisa disasar dikriminalisasi seperti dugaan dan rumours yang berkembang menimpa ratusan ulama habaib dan kaum aktivis dalam beberapa tahun terakhir ini,” sambung Ricky.

Dia mengutip sebuah pernyataan Paul Joseph Goebbels, seorang Menteri Penerangan dan Propaganda Nazi, bahwa kebohongan yang dikampanyekan secara terus-menerus dan sistematis akan berubah menjadi (seolah-olah) kenyataan. Sedangkan kebohongan sempurna, adalah kebenaran yang dipelintir sedikit saja.

“Mengerikan sekali bila pemilu sebagai mekanisme konstitusional dipenuhi kampanye politisi dan elite plus para cecunguknya dengan menggunakan metode hoaks fitnah demi kepentingan pragmatisme sempit pemenangan junjungannya,” urainya.

“Pemilu itu riang gembira, bukan suka fitnah dan hoaks. Berani jujur itu hebat. Damai itu indah,” pungkasnya.

(eda/bya)

Editor: Almeiji Santoso

Terpopuler