Connect with us

Puisi

Sepatu Kerja Pemuja Sajak – Puisi Tjahjono Widarmanto

Published

on

Sepatu Kerja Pemuja Sajak (Ilustrasi)/Foto: Dok. Harvard Art Museums
Sepatu Kerja Pemuja Sajak (Ilustrasi)/Foto: Dok. Harvard Art Museums

Memandang Sore

setiap sore melihat pekarangan rumah menjenguk bunga-bunga
atau rumput menguning gugur di bawah bayang-bayang pohon
berserak di sela-sela bekas jemari kuku kaki
aku jadi ingat waktu dan tunas-tunas pisang, ladang-ladang serta tepian sungai
: juga engah nafas memburu saat kita tergesa-gesa berciuman di pelataran candi

menginginkan sihir cinta lebih nyata dari keindahan lukisan
adalah sesuatu yang muskil seperti sejarah yang memudar
walau bisa dicatat sebagai puisi namun tak bisa diharapkan melahirkan keajaiban

setiap kenangan berlalu, malaikat selalu menghibur,
” kau tak perlu sedih kehilangan sebab terlampau banyak yang engkau inginkan.”
maka aku pun menunda meneguk kopi, bergegas ke museum atau situs-situs kraton
menuliskan kembali prasasti dan ingatan
: kehilangan harus selalu dicatat agar tak tumbuh jadi cita-cita palsu

melepas sore di malam hari, selalu saja tersentak bangun
mengingat sejarah yang hilang
televisi yang lupa dimatikan berisik dan berbisik
“tak perlu tersipu dengan kesedihanmu!”
tersentak termangu teringat masa lalu yang berbahaya
semakin tak bisa berkelit: aku-kau dikutuk rindu.

ngawi-klitik

SEPATU KERJA

ia selalu membuatku mabuk serupa pelaut muda diplonco di kapal oleng
memaksaku selalu tergesa dan lupa pulang, lupa pada petang
senyum sekaligus kemarahan istriku selalu kau sembunyikan dalam lubang apekmu
tungkai kakiku selalu goyah diburu kalender dan panik yang mengambang

kau membuatku selalu lupa terpejam
tak memberiku giliran berlama-lama di kamar mandi
menggelembungkan sabun, sambil bersiul lagu-lagu nostalgia.
selalu membuat sisa-sisa sabun mengembun di belakang telinga
handuk dan celana dalam pun selalu lupa tertinggal

kau tak mau aku jadi undur-undur yang berjalan surut ke liang
padahal aku membutuhkan tempat untuk meringkuk bertapa
kau selalu menginginkan aku menjadi kuda nil yang rakus
seperti masa kanak-kanak yang mengulum menelan apa saja
yang lupa membedakan air selokan dan arus sungai
kau pun menolakku jadi kura-kura sebab tak ada lari dalam lamban

Baca Juga:  Yu, 16:20 - Puisi Gustu Sasih

kau selalu membuat terjaga dan bertanya-tanya
“ini jam berapa? ini tanggal berapa?”
lupa akan kantuk dan membuat secangkir kopi selalu tertunda
selalu membawa raung sirene masuk menerobos lamunanku

sungguh, di suatu pagi aku ingin menemukanmu
alasmu mengelupas dan berlubang tak bisa ditambal lagi
: aku pun akan punya argumen logis pada istriku
untuk menghayutkanmu di arus jeram sungai .

(ketintang)

PEMUJA SAJAK

“Gusti, berkahilah nyala api!’” teriak mereka berkali-kali

mencoba sopan, kuajukan pertanyaan
“apa yang bisa menyala dengan sajak?”

merekapun menggoyangkan tangan
“kau bukan golongan kami, tak dapat ambil bagian, juga tak dapat bagian!”

bersikap seperti anak manis yang mengharap diberi gula-gula
kuajukan pertanyaan-pertanyaan yang kususun dengan amat hati-hati
karena ku dengar golongan mereka amat peka dengan kata dan suara
“apa yang menyala dengan sajak: pidato kemenangan atau gemuruh tangan terkepal?”

merekapun melotot, menuding-nuding dan dengan muka sedih bergumam
“kau tak berdarah pujangga. tak paham keindahan adalah api menyalakan apa saja!”

kehilangan kesantunan aku pun melotot dan memaki mereka
“sajak tak membuat rencana apa-apa! sajak bukan api sebab hanya mencatat.
itupun paling-paling hanya catatan kaki yang kau kutip sedikit-sedikit, seperti
saat kau mengupil hidung atau ngorek lubang telingamu.
bagaimana sajakmu bisa jadi api kalau hanya jadi cermin tempat
kau memoles muka dan dengan genit menepuk dada:aku penyair itu.”

(ketintang)

Tjahjono Widarmanto

Tjahjono Widarmanto

*Tjahjono Widarmanto, lahir di Ngawi, 18 April 1969. Meraih gelar sarjananya di IKIP Surabaya (sekarang UNESA) Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, dan saat ini melanjutkan studi di program doctoral di Pascasarjana Unesa. Bukunya yang  telah terbit antara lain Mata Air di Karang Rindu (buku puisi, 2013), Masa Depan Sastra: Mozaik telaah dan Pengajaran Sastra (2013), Nasionalisme Sastra (bunga rampai esai, 2011),   Drama: Pengantar & Penyutradaraannya (2012), Umayi (buku puisi, 2012), Kidung Buat Tanah Tercinta (buku puisi, 2011), Mata Ibu (buku puisi, 2011), Di Pusat Pusaran Angin (buku puisi, 1997), Kubur Penyair (buku puisi: 2002), Kitab Kelahiran (buku puisi, 2003). Penulis pernah menerima Anugerah Penghargaan Seniman dan Budayawan dari Pemprov Jatim (2003), beberapa kali memenangkan sayembara menulis tk. Nasional dan suntuk menghadiri berbagai pertemuan sastra ditingkat nasional dan internasional. Penulis kini menjadi Pembantu Ketua I, Dosen di STKIP PGRI Ngawi dan guru SMA 2 Ngawi. Beralamat di Perumahan Chrisan Hikari B.6 Jl. Teuku Umar Ngawi. E-Mail:  [email protected]

Baca Juga:  Kamu, Cinta, dan Mawar telah Pergi

__________________
Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi karya baik berupa puisi, cerpen, dan esai dapat dikirim langsung ke email: [email protected].

Loading...

Terpopuler