Connect with us

Budaya / Seni

Sepasang Bibir

Published

on

Senyuman Michelle Ziudith (Ilustrasi). Foto: Dok. DetikHot

Sepasang Bibir, Cerpen Agus Hiplunudin

NUSANTARANEWS.CO – Di dalam kamar. Tampak, Dinia duduk di kursi sofa, pasang matanya yang sayu merayu ditatapkan pada cermin besar di hadapannya. Tangan kanannya memegang sebuah pisau kater. Dinia tersenyum, begitu manis senyumnya itu—terpantul di dalam cermin. Perlahan tangan Dinia yang memegang pisau itu bergerak mendekati bibirnya. Tanpa mengaduh sedikitpun. Dinia mulai menyayat-nyayat bibirnya sendiri, darah segar mengaliri bibir yang terluka, tercabik, dan teriris-iris.

Kini, bibir Dinia telah hilang—yang ada hanya gugusan gigi putih berbaris duduk manis di gugusan gusi. Saat ini, senyum Dinia benar-benar telah menghilang, sebagaimana bibirnya yang telah tiada.

***

Gadis itu, bernama Dinia. Ia begitu terkenal karena senyumannya yang kata orang-orang—baik laki maupun perempuan, mereka sepakat saja bahwa senyuman itu begitu manis, begitu indah, begitu menggoda, dan dapat memuaskan lensa mata kaum Adam. Namun, di balik senyuman Dinia terkandung racun yang mematikan, orang begitu mudah percaya dengan kata-katanya, dan itu semua efek dari senyumnya.

Satu tahun yang lalu, ayah Dinia meninggal dunia, adapun kematiannya sangat tragis—lehenya nyaris putus karena sabetan golok. Ayah Dinia korban perampokkan yang berujung pembunuhan yang menggetirkan. “Ayahku itu, seorang saudagar yang sukses. Jualan kain suteranya berkembang dengan pesat, ia bekerja sama dengan para pengusaha dari negri China. Uang ayahku selalu dibawanya kemanapun ia pergi. Uang itu disimpan di dalam sebuah peti besi,” ujar Dinia pada para tetangganya. Dan keesokan harinya ayah Dinia diketemukan tewas, sedangkan peti uangnya telah kosong—digondol para perampok.

Seminggu yang lalu, giliran ibunya Dinia yang meninggal dunia—ia menjadi korban penodongan yang berujung pembunuhan; tampak jelas di lehernya bekas cekikan yang teramat kuat. Hal itu terjadi; setelah Dinia menggembar-gemborkan pada semua orang bahwa ibunya selalu memakai perhiasan emas duapuluh empat karat kemanapun ia pergi.

Bukan main piawainya Dinia memainkan kata-katanya. Bibirnya yang selalu tersenyum manis melontarkan kata-kata yang sangat berbisa dan mematikan. Begitu pula dengan orang-orang betapa mudahnya mempercayai Dinia, mereka sering terkesima melihat pasang bibir Dinia yang menghamburkan kata-kata berbisanya.

Baca Juga:  Para Pembeli Kepala

Kemarin pasangan pengantin baru, bercerai. Pasalnya Dinia bilang pada setiap orang bahwa pasangan pengantin itu telah kehilangan kebahagiaan. Kata Dinia; pengantin laki-laki mulai menghubungi kembali mantannya, begitu pula dengan pengantin perempuan ia diam-diam merajut kembali cinta kasihnya dengan mantannya. Mereka pun bertengkar dengan sengit, hingga berujung perceraian.

Dan orang-orang begitu terpikat melihat bibir manis Dinia yang melontarkan kata-kata; tentunya kata-kata yang berbisa, berbau amis fitnah, gibah, dan kebohongan.

“Aku lihat dengan mata telanjang aku sendiri,” kata Dinia pada suatu pagi disaat kaum ibu membeli sayur-mayur pada abang penjual sayur gerobak. “Lalu?” tanya Ibu Darti memburu, lantaran penasaran.

“Ituh, tapi Ibu Darti harus bersabar ya!” tukas Dinia. Dan ibu-ibu yang lain saling berbisik antara satu dengan yang lainnya. Sedangkan, abang penjual sayur keliling memilih menatap bibir manis Dinia.

“Ia!” desah Ibu Darti.

“Pak Duleh, suaminya Ibu!”

“Ada apa dengan suamiku??”

“Tadi malam, ia menginap di rumah Kirah, janda muda beranak dua itu!”

“Aku tak percaya! Suamiku bukan tipikal lelaki serong!”

“Ya sudah kalau nggak percayamah!”

Pada malam harinya, terdengar teriakan keras dari dalam kamar Ibu Darti dan Pak Duleh. Dan pagi-paginya, tersiar saja kabar; bahwa Ibu Darti menyundat kemaluan suaminya dengan menggunakan pisau dapur berkarat.

Pada suatu sore, Irah menemui Dinia. Maksudnya, hanya sekedar mengobrol.

“Irah, katanya kamu menikah dengan Mas Darto karena dijodohkan yah?” kata Dinia.

“Ia. Namun, lama-kelamaan cinta dan sayangku tubuh juga pada Mas Darto.”

“Coba bayangkan olehmu, seandainya dulu kamu menikah dengan lelaki yang kau cintai, mungkin kau lebih bahagia dari pada sekarang.”

“Ah, belum tentu juga!”

Keesokan harinya, terdengar percekcokan yang begitu sengit antara Irah dan Darto. Seminggu berselang tersiar saja kabar, bahwa Darto menyeraikan Irah.

Setiap Dinia berbicara. Setiap itu pula orang-orang mendengarkannya. Dan, setiap itu pula malapetaka melanda. Kata-kata yang terlontar dari sepasang bibir manis Dinia berbuah bencana. Kata-kata yang terlempar dari pasang bibirnya bagaikan sebuah hujan berbuah banjir bandang yang dapat menghanyutkan rumah-rumah, bagaikan sebuah angin yang melahirkan puting beliung yang dapat merontokkan daun-daun.

Baca Juga:  Sebelum Kehidupan

Namun, belakangan ini, Dinia lebih sering tercenung. Jarang sekali ia berbicara. Bahkan, terdengar suatu kabar bahwa Dinia hendak menjahit sepasang bibirnya. Dan itu membuat penasaran para tetangga.

“Benarkah kau hendak menjahit bibirmu, Dinia?” tanya seorang ibu tambun pada Dinia, ketika pada suatu pagi—kala Dinia sedang menyapu halaman rumahnya.

“Ia betul,” jawab Dinia mengagetkan hati ibu-ibu itu.

“Kenapa?”

“Ibu. Tahukah engkau, bahwa puasa yang paling sulit adalah puasa lisan. Sebab, dari lisanlah terlahir kebohongan, fitnah yang keji. Lisanlah yang membuat celaka hidup kita,” tukasnya lirih.

“Dinia, kau tak usah puasa lisan. Terlalu sulit bagimu jika kau harus menjahit bibirmu sendiri. Kau hanya perlu puasa tersenyum, bila perlu hilangkan saja bibirmu,” kata sang ibu.

Dinia menghentikan menyapunya, ia berdiri mematung. “Ibu, apa yang kau katakan, barangkali benar,” ujar Dinia, namun ibu yang dimaksud telah hilang dari tempatnya semula, Dinia hanya menemukan sebuah pisau kater di bekas berdinya si ibu, barusan.

Kini, pesona bibir Dinia telah menghilang, orang-orang tak lagi tertarik pada senyumnya yang manis. Sebab, pasang bibirnya telah hilang, yang tersisa hanya barisan gigi yang duduk manis di gusi. Dinia benar-benar telah kehilangan senyum manisnya, sebab sepasang bibirnya telah hilang. Dan orang-orang sekampung berceloteh; bahwa mereka memimpikan sepasang bibir Dinia telah berada di suatu tempat yang indah, di antara mereka ada yang berani berkata—bahwa tempat yang dimaksud tak lain adalah surga. Ada juga yang bilang, bahwa tempat yang dimaksud adalah tempat para perempuan peri bersemayam.

Yang jelas, coba kau bayangkan; seandainya kau tak memiliki sepasang bibir. Apa jadinya dengan kata-kata yang terlontar itu? Dan, katanya; kelak diakhirat sana, setiap anggota tubuh kita memberikan kesaksian (mengenai perbuatan amal baik dan amal buruk selama hidup di dunia) di hadapan Tuhan. Namun, hanya satu yang tidak diberikan kesempatan untuk memberikan kesaksian tersebut, yakni; SEPASANG BIBIR. Bibir setiap manusia dikunci oleh Tuhan. Atau barangkali kau hendak mengunci bibirmu sekarang, sebelum Tuhan yang menguncinya?

Baca Juga:  Trilogi Budak Setan

***

Di dalam kamar. Tampak, Dinia duduk di kursi sofa, pasang matanya yang sayu merayu ditatapkan pada cermin besar di hadapannya. Tangan kanannya memegang sebuah pisau kater. Dinia tersenyum, begitu manis senyumnya itu—terpantul di dalam cermin. Perlahan tangan Dinia yang memegang pisau itu bergerak mendekati bibirnya. Tanpa mengaduh sedikitpun. Dinia mulai menyayat-nyayat bibirnya sendiri, darah segar mengaliri bibir yang terluka, tercabik, dan teriris-iris.

Kini, bibir Dinia telah hilang—yang ada hanya gugusan gigi putih berbaris duduk manis di gugusan gusi. Saat ini, senyum Dinia benar-benar telah menghilang, sebagaimana bibirnya yang telah tiada.

Panggarangan, 30 Juni 2017

Agus Hiplunudin, lahir di Lebak-Banten, 1986. Ia lulusan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Serang-Banten, Jurusan ADM Negara sudah lulus dan bergelar S. Sos. Dan, pada April 2016 telah menyelesaikan studi di sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Jurusan Ketahanan Nasional, bergelar M. Sc. Kini bergiat sebagai staf pengajar Mata Kuliah Filsafat Ilmu dan Etika Administrasi Negara di STISIP Stiabudhi Rangkasbitung. Sekaligus sebagai Direktur Eksekutif SAF (Suwaib Amiruddin Foundation) periode 2017-2019. Adapun karya penulis yang telah diterbitkan: yakni: Politik Gender (2017) Politik Identitas dari Zaman Kolonialis Belanda hingga Reformasi (2017), Politik Era Digital (2017), Kebijakan, Birokras, dan Pelayanan Publik (2017), Filsafat Eksistensialisme (2017)—diterbitkan oleh Grahaliterata Yogyakarta. Adapun karya sastra dalam bentuk cerpen yang telah diterbitkan di antaranya: Yang Hina dan Teraniaya (2015 Koran Madura), Perempuan Ros (2015 Jogja Review), Peri Bermata Biru (2015 Majalah Sagang), Audi (2015 SatelitePost) Demi Suap Nasi (2015 Koran Madura), Filosofi Cinta Kakek (2017, Biem.co), Ustadz dan Kupu-kupu Malam (2017, Biem.Co). Aroma Kopi dan Asap Rokok (NusantaraNews, 2017) tercecer pula dalam buku antologi kumcer.

Kini mukim di Perum Persada Banten Blok D, Kelurahan Teritih, RT 06/07 Kecamatan Walantaka, Kota Serang-Banten

___________________________

Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi (berdonasi*) karya baik berupa puisi, cerpen, esai, resensi buku/film, maupun catatan kebudayaan serta profil komunitas dapat dikirim langsung ke email: [email protected] atau [email protected]

Loading...

Terpopuler