Connect with us

Hankam

Sepanjang 2018-2019 TNI Telah Bentuk Tujuh Organisasi Baru

Published

on

latihan tembakan, tembakan terpadu, bantuan tembakan, latihan tempur, prajurit tni, 3 matra tni, situbondo, bidang tempur, panglima tni, ksad, ksal, ksau, nusantaranews, jenderal tni, tni, marsekal hadi tjahjanto

Panglima TNI Marsekal HAdi Tjahjanto menghadiri Latihan bantuan tembakan terpadu di Situbondo melibatkan 3 matra Tentara Nasional Indonesia (TNI) di Situbondo, Jawa Timur. (Foto: Istimewa)

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Di bawah kepemimpinan Marsekal Hadi Tjahjanto, TNI terus membangun postur organisasi kombatan meliputi pembangunan kekuatan, pembinaan kemampuan dan gelar kekuatan TNI.

Diketahui, TNI terus berupaya membangun kekuatan kekuatan pokok minimum atau minimum essential force (MEF). TNI menyadari perkembangan dunia telah menciptakan dimensi dan metode peperangan baru. Kemajuan teknologi ternyata membawa dampak disruptif di berbagai bidang sehingga menjadikan konsep peperangan tidak lagi terbatas dalam suatu batas teritorial. Artinya, peperangan sudah masuk ke berbagai dimensi kehidupan. Sebagai contoh, perang siber yang disertai perang informasi. Meskipun tidak mengancurkan, tapi sangat merusak bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Konsep-konsep peperangan terbaru itu dipandang dapat menguburkan filosofi perang konvensional dengan menggeser dimensi waktu. Sebab, kata dia, perang-perang tersebut terjadi di masa damai. Ditambah lagi potensi bencana alam yang dapat terjadi setiap saat. Ancaman militer dan nir militer berubah, dan TNI harus siap menghadapinya. Guna menghadapi kompleksitas ancaman itu, sangat diperlukan postur TNI ideal yang dibangun sesuai kebijakan pertahanan negara dan disusun dengan memperhatikan kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan.

Baca juga: Kekuatan Baru Pertahanan Indonesia di Timur Negeri

Sejak dilantik pada 8 Desember 2017 menggantikan Jenderal Gatot Nurmantyo, Marsekal Hadi Tjahjanto memiliki sedikitnya 11 program prioritas. Menurutnya, 11 program tersebut dalam rangka pembangunan TNI.

Loading...

Adapun 11 program prioritas Marsekal Hadi sebagai berikut.

1. Revitalisasi program-program di dalam Minimum Essential Force (MEF)

2. Penyempurnaan Doktrin TNI dan Doktrin Angkatan

Baca Juga:  Komandan Seskoal Paparkan Peluang Baru Penyelesaian Sengketa Maritim di Kawasan Indo-Pasifik

3. Penyempurnaan organisasi TNI

4. Pengembangan sistem pengelolaan SDM TNI yang berbasis kompetensi

5. Pembangunan TNI AD menjadi kekuatan terpusat, kewilayahan dan pendukung

6. Pembangunan TNI AL melalui penyusunan Sistem Senjata Armada Terpadu (SSAT) terdiri atas Kapal Perang, Pesawat Udara, Marinir dan Pangkalan

7. Pembangunan TNI AU untuk mencapai air supremacy atau air superiority.

Baca juga: Latihan Gabungan TNI 2019, Menuju Pertempuran Digital

Marsekal TNI Hadi Tjahjanto menuturkan prioritas selanjutnya adalah pembangunan unit khusus yang terdiri dari pasukan-pasukan khusus Tri Matra. Pertama, Pengembangan sistem operasi Tri Matra yang berbasis teknologi yang meliputi Network Centric Warfare, C4ISR dan Cyber Warfare. Kedua, penguatan diplomasi militer dan peningkatan kontribusi dalam rangka memenangkan kepentingan nasional.

Ketiga, mewujudkan sistem pengadaan Alutsista yang berpedoman pada effect based dan interoperabilitas yang dilakukan secara transparan dan akuntabel serta bebas dari KKN. Keempat, transformasi TNI menjadi suatu organisasi pertahanan negara yang profesional, modern dan tangguh yang memiliki kemampuan proyeksi regional serta mampu berkomitmen secara global.

Dalam kurun waktu 2018-2019, sejumlah organisasi baru TNI mulai dibentuk. Di antaranya pembentukan Divisi Infanteri-3/Kostrad, Koarmada III, Koopsau III dan Pasmar-03 Korps Marinir guna menghadapi traouble spot di wilayah Indonesia bagian timur.

Baca juga: Memperkuat Pertahanan di Kalimantan

Kemudian, dibentuk juga Satuan TNI Terintegrasi (STT) Natuna pada 18 Desember 2018. STT dibentuk sebagai pangkalan bagi unsur-unsur TNI yang beroperasi di wilayah utara Indonesia.

Pada 30 Juli 2019, juga dibentuk Komando Operasi Khusus (Koopssus) TNI untuk menyelenggarakan operasi khusus guna menyelamatkan kepentingan nasional di dalam maupun luar wilayah NKRI.

Pada 27 September 2019, Panglima TNI juga membentuk Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Kogabwilhan) yang dibagi menjadi tiga yakni Kogabwilhan I, Kogabwilhan II dan Kogabwilhan III. Tugasnya ialah menyelenggarakan kampanye militer, operasi gabungan dan operasi lainnya dalam rangka melaksanakan tugas pokok TNI.

Baca Juga:  Memoriam Teka-teki "Supersemar" Suharto

Kogabwilhan merupakan salah satu sub organisasi TNI yang diaktifkan kembali dengan pertimbangan pencapaian tugas pokok TNI (reaktivasi). Awalnya Kogabwilhan dibentuk sesuai Strategi Pertahanan Semesta berdasarkan pembagian kompartemen strategis dalam mengimplementasikan strategi itu sendiri. Seiring dengan perjalanan waktu, maka dinamika politik melikuidasi Kogabwilhan dan bahkan mengkonsentrasikan gelar kekuatan TNI di Pulau Jawa (Java Centris). (eda/erk)

Editor: Eriec Dieda

Loading...

Terpopuler