Connect with us

Budaya / Seni

Seonggok Hati di Meja Makan

Published

on

Lukisan Roby Dwi Antono. (FOTO: Brainly)

Lukisan Roby Dwi Antono. (FOTO: Brainly)

Puisi Mufti Wibowo

Seonggok Hati di Meja Makan

di meja makan
menu makan malam kita
adalah seonggok hati
yang telah jadi dingin
ada banyak bekas jejak kaki lalat
setelah lilin lama padam

ada luka tampak menganga
di sana
matamu berkilat warna bata
dan bibir menguncup melati
sebelum malam pertama

kutabur garam dan bubuk merica
asap berhambur seketika

matamu memerah
air mata mendesak
mengucurinya

aku tertawa karna tingkahmu
bukankah,
air mata dilaruti garam
yang melawan dingin

kau menabok pipiku
lalu menembelkan bibimu di bekasnya
yang memerah

kau, masihkah takut dengan luka
setelah kita menertawakannya

Pembicaraan Lalat Muda dan Seekor Domba

Lalat-lalat muda terbang untuk pertama kali
dari apel yang masak
yang dibiarkan menggantung
setelah digigit sebagian
oleh kelelawar

lalatlalat kecil itu tak tahu
sepasang sayap mereka yang tipis
cukup kuat untuk merobohkan pohon apel

juga belum tahu
kepak sayapnya yang mungil
cukup untuk mengubah kebun apel menjadi lautan darah

Alkisah
apel yang ranum dan wangi
tak pernah tersentuh binatang apapun
jatuh dari dahannya yang gemuk
sebelum terjerembap ke lembah
lalu air hujan mendorongnya ke sungai

sampailah ia kepada pemuda yang kelaparan
setelah pelajaran-pelajaran melelahkan
dimakanlah ia dengan menyebut nama tuhan

pemuda itu bahagia sebentar saja
sebab rasa kenyang justru memaksanya
berjalan kepada empunya pohon apel

ia minta ampunan kepada lelaki tua
beranak gadis yang matanya
memancarkan cahaya kesalehan
bukan gadis buta, seperti sangka-sangka
yang memberati langkah kakinya

Salah satu lalat memisahkan diri
dari kawanan yang sedang sibuk belajar
ia risau setelah mendengar kisah
buah apel dan seorang pemuda

dengan syap-sayap tipis
dan mungil
ia kembali ke kebun apel
menunggu pemiliknya datang

setelah dua minggu menjengkelkan
datang wanita bermata berlian biru ke kebun
lalat muda bertanya
kaukah pemilik kebun apel ini?
tanpa menghentikan pekerjaannya
wanita itu menjawab
tentu saja bukan, aku hanya penjaga kebun ini
lalat muda bertanya lagi
apa tugasmu?
kali ini wanita itu tersenyum
bukan sebab pertanyaan yang harus dijawab
melainkan karena ia melihat
sebuah apel masak
yang sebagian dimakan kelelawar
dan sisanya menjadi tempat tinggal larva
yang telah pergi setelah menjadi lalat
lalu ia menjawab
tugasku menanam dan merawat saja
lalatmuda tak percaya dan berbuntuttanya
siapa yang akan memanen?
wanita itu malah terkekeh lalu menjawab sambil lalu
bukankah itu tugas yang bisa kamu kerjakan

lalat muda dengan wajah yang masygul
pergi mencari kawanannya
tapi dia kehilangan jejak
mereka yang memilih pergi dari kebun apel
menuju negeri-negeri yang menyengat bau
bangkai manusia terbengkalai
di temat-tempat umum

lalat yang sesat hinggap di hidung domba
yang digembal dikebun apel
dan tentu suka memakan buahnya yang jatuh karena masak
yang mula-mula berkisah buah apel dan seorang pemuda

lalat bercerita perihal pembicaraannya
dengan seorang wanita di kebun apel

domba itu tersenyum, dan berkata
katahuilah lalat muda. wanita bertamata berlian biru itu. anak dari pemilik pohon apel yang aku ceritakan kepadamu. diayang ditugasi ayahnya menggembalakan aku di kebun ini. dan pemuda pemakan buah apel itu adalah aku

 

Mufti Wibowo lahir di purbalingga. Saat ini tercacat sebagai guru swasta di Purwokerto.

__________________________________

Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi (berdonasi*) karya baik berupa puisi, cerpen, esai, resensi buku/film, maupun catatan kebudayaan serta profil komunitas dapat dikirim langsung ke email: [email protected] atau [email protected]

Loading...

Terpopuler