Connect with us

Budaya / Seni

Sentop dan Hujan Ular – Cerpen Ruly R

Published

on

Ular. (FOTO: zefirka)

Ular. (FOTO: zefirka)

Cerpen Ruly R

NUSANTARANEWS.CO – Hari baru saja menyambut malam. Saat itu hujan mulai berderai turun. Aroma tanah dirasakan Sentop sebagai sebuah kegairahan dan panggilan akan bayang saat dia masih kanak-kanak. Sentop duduk di kursi beranda rumah, wajahnya ditimpa rinai tempias-tempias hujan yang lembut. Tangan Sentop sesekali mengusap mukanya sendiri. Tapi yang turun dari langit seketika berubah. Bukan lagi air, melainkan ular. Jelas saja Sentop terkejut. Berbagai jenis ular dilihat Sentop di situ.

Wajah Sentop seketika menjadi cemas. Setelah rasa hatinya dirumbai dengan aroma tanah yang dia rasa menggairahkan, kini rasa takut hinggap dan memenuhi setiap celah hatinya. Sentop mengucek matanya, masih tak percaya bahwa ular-ular itu benar-benar nyata. Tapi dikucek berkali-kali tetap sama. Ular-ular itu memang nyata adanya.

***

“Jangan dibunuh. Ayo pergi saja. Kalau kamu nekat nanti kualat,” ucap seorang tetangga sekaligus kawan Sentop ketika Sentop sudah bersiap dengan balok kayu di tangan kanannya.

“Takhayul itu,” yakin Sentop dan segera menggebuk ular yang sudah terpojok di salah satu sudut rumahnya.

Dipegang erat tangan Sentop dan kawan itu coba mencegah agar Sentop tak memukul Ular itu. Tapi upaya itu menemukan hasil yang nihil. Ular yang panjangnya kira-kira tak lebih dari 70 centimeter itu akhirnya berkelojot dan melingkarkan tubuhnya yang berwarna hitam. Dari kepala ular itu menguar darah yang segar. Darah itu terus keluar seiring dengan kelojotan hewan itu. Jika ular itu merasakan sakit yang tak terperikan, pemandangan yang berbeda justru datang dari wajah Sentop. Dia merasa girang bukan main setelah berhasil mengabisi ular itu.

“Buang pakai plastik, Top!” perintah kawannya itu kepada Sentop meski Sentop pun tak menghiraukannya.

“Aku ada ide,” ujar Sentop dengan senyum yang mengembang.

“Buang! Buang! Jangan main-main! Itu binatang yang berbahaya.” Saran kawan Sentop setelah tadi usahanya untuk mencegah Sentop membunuh ular gagal.

“Di tanganku tidak ada yang berbahaya. Semuanya beres, termasuk ular. Aku kan hebat. Kau tenang saja.” Kepercayaan diri Sentop mengembang tak ubah dengan senyum yang dia miliki.

Saat itu angin berkesiur lembut, matahari masih menawarkan teriknya. Kawan Sentop bergegas pulang dan tidak mau terlibat urusan tentang ular. Dia yang sudah mengenal Sentop cukup lama sudah hapal akan karakter Sentop yang memang susah dinasehati.

Sentop memegang kepala ular yang sudah mati. Dimainkannya ular itu layaknya bocah kecil yang mendapat sebuah mainan baru. Itulah pengalaman pertama Sentop membunuh ular, dan itu terjadi tujuh belas tahun yang lalu.

Biasanya para penduduk desa yang mayoritas berprofesi petani sangat akrab dengan ular dan tidak takut perihal binatang melata itu. Tapi tidak dengan desa tempat tinggal Sentop. Mereka menganggap ular itu sebagai binatang yang sangat menyeramkan dan ketika bulan beranjak, tahun pun begitu. Roda waktu terus berputar. Sentop hampir menginjak usia lima puluh tahun. Seiring bertambahnya usia, Sentop semakin keranjingan perihal ular. Dia dijuluki pawang ular oleh sebagian orang di desanya. Lebih dari itu, orang-orang di desanya juga menganggap Sentop punya kekuatan sakti. Tubuh Sentop konon kebal dari gigitan ular jenis apapun. Tak mengherankan bila ada warga desa yang punya urusan perihal binatang melata itu, tanpa pikir lama langsung menghubungi Sentop, dan urusan ular pasti beres di tangan Sentop. Baginya ular tak ubahnya mainan belaka.

Biasanya setelah Sentop puas bermain dengan ular yang sudah dihabisinya. Dia langsung memasak dan memakan daging hewan itu. Warga desa mensinyalir bahwa kesaktian Sentop didapatkannya dari hal seperti itu.

Kabar terus dihembus angin, merambat dari telinga ke telinga hingga sampai kepada seorang pemuda desa bernama Totok. Dia yang mendengar perihal kesaktian Sentop juga penasaran dan ingin mengetahui kebenaran kabar itu. Meniru Sentop, Totok tak memedulikan rasa takutnya, dia mencoba memberi pengertian lain dan membenarkan bahwa jika ingin punya kesaktian seperti Sentop memang harus memakan daging ular yang dibunuh dengan tangannya sendiri.

Beda orang, beda nasib dan ceritanya. Bukan kesaktian yang didapat Totok namun maut justru yang menjemputnya. Totok ditemukan warga desa meninggal di dekat pematang sawah. Tubuh Totok membiru, di lengan kanan mayat itu ada bekas gigitan ular. Sentop yang mendengar hal itu girang bukan kepalang. Sentop meyakini, di antara semua warga desa hanya dia yang mempunyai kekuatan untuk menaklukan ular.

Setelah peristiwa itu banyak warga yang semakin segan atau takut kepada Sentop. Namun bak sebuah peribahasa, lain air lain pula minyak. Jika setiap warga demikian tentu berbeda dengan para ular. Kesombongan Sentop membuat para ular semakin dendam kepadanya. Namun tidak semua ular seiya-sekata. Ada juga ular-ular yang terus berkompromi dengan Sentop. Pura-pura menggigit tubuh Sentop di depan warga, tapi ular-ular itu tak berbisa. Sebagian warga desa awam perihal itu, yang mereka tahu bahwa semua ular berbahaya, namun ada juga yang tahu itu hanyalah ular yang tidak berbisa dan tidak berbahaya. Jenis ular seperti itu tak ubah seperti Sentop juga.

Sebenarnya, Sentop juga takut dengan beberapa ular dan pastinya itu jenis yang berbisa. Tapi karena Sentop tergolong dalam jenis manusia yang berpikir cerdik, dia tinggal memilih ular lain untuk bertarung dengan ular yang ditakutinya. Seperti yang dikatakannya, bahwa di tangannya semua pasti beres.

***

Hujan ular semakin lama semakin deras. Sentop coba mengusir ular-ular itu dengan kata-kata. Tapi ular-ular seakan tak peduli dengan apa yang keluar dari mulut Sentop. Kini dia sudah tak duduk lagi di kursi melainkan jongkok di atas kursi. Mulut Sentop berkomat-kamit tapi hujan ular justru semakin deras. Pikiran Sentop berkelindan dengan masa lalunya yang suka mempermainkan ular. Seberkas ingatan yang ada dalam kepalanya menumbuk ingatan lain yang ada. Dirasakan Sentop hujan ular ibarat sebuah karma, bukan sebagai pembalasan apa yang telah dilakukannya di masa lalu, namun sebagai pengingat terhadap itu. Memainkan ular bak sebuah menentukan kehidupannya sendiri.

Rasa takut dan cemas yang dirasakan Sentop tak ubahnya dengan jumlah ular yang ada di beranda, semakin berlipat ganda. Ular-ular terus melata mendekati kursi yang diduduki Sentop, tapi anehnya ular itu tak ada yang melata ke kursi yang diduduki Sentop.

Sentop hanya memejamkan matanya meski takutnya tak lantas hilang ketika dia melakukan itu. Dia terus menahan matanya untuk tetap tertutup. Tentu tak ada hal selain gelap yang didapat Sentop, dan hal itu pula membuatnya bertanya dalam pikiranya, akankah kematian adalah hal yang demikian gelap. Pikirannya terus berkelindan dengan tanya. Perlahan Sentop membuka matanya. Seekor ular yang besar tepat di hadapannya, berdesis tentang Sentop dan siap memangsanya. Sementara hujan ular tak juga berhenti. Tak ada hal lain yang dirasakan Sentop, selain gelap yang semakin pekat.

Baca Juga:

Simak di sini: Puisi Indonesia

Ruly R, tinggal di Karanganyar, Jawa Tengah. Bergiat di Komunitas Kamar Kata Karanganyar (K4) dan Litersi Kemuning. Kumcernya yang akan baru saja terbit berjudul Cakrawala Gelap dan Novel pertamanya yang akan segera terbit berjudul Tidak Ada Kartu Merah. Surat menyurat: [email protected]

__________________________________

Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi (berdonasi*) karya baik berupa puisi, cerpen, esai, resensi buku/film, maupun catatan kebudayaan serta profil komunitas dapat dikirim langsung ke email: [email protected] atau [email protected]

Terpopuler