Connect with us

Mancanegara

Senjata Pemusnah Masal AS Adalah Ancaman Nyata Bagi Eropa

Published

on

Senjata pemusnah masal AS adalah ancaman nyata

Senjata pemusnah masal AS adalah ancaman nyata bagi Eropa. Ilustrasi ledakan bom nuklir/Foto: motherjones.com

NUSANTARANEWS.CO – Senjata pemusnah masal AS adalah ancaman nyata bagi Eropa. Menurut laporan media Inggris, dan banyak laporan lain yang menguatkan, termasuk oleh badan yang terhubung dengan NATO bahwa Amerika Serikat (AS) memiliki sekitar 150 senjata nuklir yang disimpan di enam lokasi di Eropa. Informasi ini secara dramatis telah mengubah keseimbangan kekuatan global. Dengan kata lain, setiap presiden AS dapat memperoleh akses kendali ke senjata pemusnah masal atas mayoritas benua Eropa, kapan saja.

Ini adalah berita serius bagi 28 negara anggota Uni Eropa plus Turki dan seluruh Eropa. Bahwa benua Eropa tidak berdaya melawan agresor di masa depan. Implikasi dari situasi ini jelas di mana setiap presiden AS yang jahat dapat menjadi ancaman nyata terhadap benua Eropa.

Pengungkapan ini sungguh menggelisahkan Eropa. Hal ini telah mendorong Uni Eropa segera mengadakan KTT Eropa, termasuk Turki, untuk membuat rencana aksi pertahanan Eropa. Sekaligus mendesak AS agar sesegera mungkin menarik WMD dari Benua Eropa. Uni Eropa juga menyerukan agar segera membangun sistem pertahanan independen.

Dengan pemerintahan Presiden Trump saat ini yang dianggap tidak stabil dan tidak dapat diprediksi, dan penuh keberpura-puraan dianggap sangat mengkhawatirkan.

Salah satu fakta yang kasat mata dari “acting” berbahaya Trump adalah sengaja memprovokasi Iran. Menjadikan Iran bagian dari agenda perang berdasarkan distorsi dan kebohongan. Presiden Trump yang baru terpilih saat itu, telah menarik AS dari kesepakatan nuklir Iran 2015 (JCPOA) yang ditandangani oleh enam negara: AS, Inggris, Perancis, Rusia, Cina, Jerman, serta Iran. Trump bahkan terang-terangan menyebut perjanjian multilateral itu “berbau busuk.

Baca Juga:  Forum Masyarakat Peduli BUMN PLN: Kami Tetap Butuh PLN Walau Listrik Sempat Padam

Bukan itu saja, AS kemudian memberlakukan sanksi maksimum terhadap Iran dan mengancam negara-negara yang masih berhubungan dengan Iran akan dikenakan sanksi pula. Dengan kata lain, Presiden Trump telah mengancam lawan dan kawan yang tidak patuh dengan kebijakan global AS akan dijadikan musuh.

AS tampaknya ingin tetap mempertahankan dominasi globalnya, terutama kontrol terhadap minyak dan hegemoni keuangannya. Seiring dengan itu, ancaman perang yang dikobarkan AS – telah mendorong industri pertahanan AS menjadi pengekspor senjata terbesar di dunia. (Baca: Dibalik Diplomasi Perang AS Yang Mengglobal). Para diplomat tampaknya kini telah bekerja sampingan sebagai penjual senjata untuk industri pertahanan.

Dalam konteks ini, provokasi pemerintahan Presiden Trump terhadap Iran menjadi relevan sebagai bukti kebohongan yang sengaja dilakukan untuk memancing perang dengan Iran. Tekanan sanksi maksimum AS terhadap program nuklir Iran jelas absurd. Iran bukanlah ancaman bagi AS. Tapi pendistorsian program nuklir Iran telah menjadi bagian agenda perang dengan tujuan yang berbeda. (Agus Setiawan)

Loading...

Terpopuler