Kreatifitas

Seniman 7 Kota Hadiri Temu Seniman Perempuan di Mataram

NUSANTARANEWS.CO, Lombok – Temu Seniman Perempuan yang berasal dari program Cultural Hotspot Koalisi Seni Indonesia, sedang berlangsung di Hotel Idoop Mataram sejak Rabu (11/5) pagi tadi.

Koalisi Seniman Indonesia mengundang 25 peserta dari 7 Kota di Indonesia Peserta terundang hadir dalam acara yang akan dilaksanakan sampai besok, Kamis (12/5).

“Sedang berlangsung Temu Seniman Perempuan di Mataram. Acara ini akan berlangsung selama 2 hari, yaitu 11-12 Mei 2016. Agenda selanjutnya melibatkan 25 peserta dari Palu, Mataram, Makassar, Kupang, Pekanbaru, Jakarta, dan Yogyakarta!” Tulis panitia di akun twitter resmi Koalisi Seni Indonesia, @KoalosiSeni.

Linda Tagie, 1 dari 10 peserta perwakilan dari Kupang, menunjukkan semangat dan apresiasi tinggi terhadap acara sedang berlangsung di aula hotel Idoop, Mataram, Lombok, NTB.

“Sudah dalam ruangan Temu Seniman Perempuan Indonesia bersama @KoalisiSeni di aula hotel idoop, Mataram, Lombok, NTB,” tweetnya dalam pantauan nusantaranews.co.

Hari pertama ini acara dikemas dalam bentuk forum saling berbagi ide, tantangan, dan informasi dari masing-masing peserta.

Sesi pertama hari pertama, ke 25 peserta saling berbagi cerita mengenai informasi kegiatan masing-masing peserta dan mempresentasikan karya atau kegiatan kesenian yang telah dilakukan mereka dalam waktu maksimal 7 menit.

“Setiap presentasi satu peserta berakhir, peserta lain memberikan satu kata kunci yang akan digunakan dalam diskusi selanjutnya,” Kata Linda Tagie saat dihubungi nusantaranews.co via pesan di twitter, Rabu sore.

Sesi ini merupakan sesi keyword sharing atau tanggapan dari sesi sebelumnya. Selain itu juga sebagai ruang untuk membahas kemungkinan bisa saling berjejaring dan kelanjutan acara.

Acara sesi kedua Temu Seniman Perempuan mendiskusikan solusi dari permasalahan yang dihadapi oleh seniman perempuan Indonesia, khususnya yang hadir dalam acara tersebut. Masalah-masalah yang teridentifikasi dalam pertemuan seniman perempuan ternyata tidak hanya terbatas pada isu gender, menurut Linda Tagie.

“Oh itu misalnya isu terkait ruang (ekspresi seniman perempuan), persoalan berjejaring dengan pegiat seni lain, relasi dengan warga sekitar dalam berkesenian,” tukasnya.

“Selain itu, juga membahas tentang stigma masyarakat terhadap kebebasan berkesenian bagi seniman perempuan. Bahkan kami membahas mengenai pendanaan dan isu pengelolaan program,” tambahnya menceritakan pada nusantaranews.co.

Hadir juga dalam Temu Seniman Perempuan di Mataram, Naomi Srikandi dari Yogyakarta sebagai fasilitator. Naomi mengatakan kepada para peserta bahwa, “perempuan lebih kuat menahan rasa sakit tapi bukan berarti perempuan bebas tuk disakiti,” seperti dikutip oleh @LindaTagie. (Sel)

Related Posts