Connect with us

Budaya / Seni

Semangat Menulis di Media Sosial

Published

on

Semangat Menulis di Media Sosial

Semangat menulis di media sosial. Ilustrasi gambar: makeawebsitehub.com/

Semangat Menulis di Media Sosial

Menulis kata-kata yang baik, bijak, dan bermanfaat pada media sosial seperti status Whatsapp, Facebook, Twitter Instagram, Path, Line, Blog, dll merupakan kebiasaan banyak orang di era millenial.
Oleh: Riri Isthafa Najmi

Bahkan satu kata disertai sebuah foto sudah cukup menjadi tulisan yang bisa membuat orang lain menerka maknanya dan sudah memahami dari isi tujuan dari apa yang dituliskan.

Dewasa ini, ada juga yang punya kebiasaan untuk meneruskan tulisan di grup-grup whatsapp. Tulisan yang kadangkala kita tidak tahu entah dari mana sumbernya. Tapi ada juga menyadur (Copas) tanpa diketahui oleh si pemilik tulisan tersebut.

Ada yang berupa motivasi, nasehat, peristiwa, artikel atau berita. Ada juga yang hanya cerita lucu, cerita sedih atau sebaliknya. Ada yang menuliskan dengan kemasan berbeda, ada juga yang belum tentu membacanya, hanya meneruskan saja. Belum tentu ia menyerap makna dari suatu tulisan dan hanya menekan tombol share.

Sudah lumrah di era milenial seperti sekarang, menulis sudah menjadi alat kebutuhan dan komunikasi utama yang penting. Perkembangan teknologi internet dan sosial media adalah pemicu bagi banyak orang untuk semangat menulis banyak hal.

Kita bisa dengan mudah mengakses, membaca, dan menyaksikan kegiatan atau aktifitas seseorang di sosial media. Ya, hal itu semua kita ketahui karena tulisan di media sosial. Ini sangat menggembirakan.

Dunia literasi pun menjadi semakin marak dan ramai. Dalam batas tertentu orang memerlukan untuk membaca dan menulis walaupun itu hanya sebatas di status di media sosial.

Yang pasti hal tersebut sangat berbeda jika dibandingkan ketika media sosial belum lagi ada di muka bumi ini dan belum seramai dan semarak sekarang. Tempo dulu, banyak orang membaca atau menulis hanya di kertas, baik dalam bentuk buku maupun bentuk tulisan lainnya. Media yang secara fisik telah terinderai.

Baca Juga:  Yang Harumnya Nyemerbak, Puisi Toni Kahar

Bicara media fisik tentu saja kita tidak akan terlepas dari yang namanya ruang dan waktu. Ada dimensi pembatas. Tetapi di dunia internet dan media sosial telah mengambil alih peran media fisik komunikasi tersebut.

Batasan ruang dan waktu pun sudah tidak ada artinya lagi. Ruang dan waktu tereliminasi ke peradaban konvensional. Ruang dan waktu tidak lagi menjadi halangan orang untuk berkomunikasi.

Dari belahan dunia paling barat sampai belahan dunia paling timur orang bisa berkomunikasi secara real time. Detik ini menulis, detik ini juga orang di belahan bumi lainnya bisa langsung membaca.

Pada saat kita menulis sesuatu di sosial media, kita terkadang tidak merasa perlu orang lain tahu maksudnya. Hanya melampiaskan perasaan yang seketika perlu diungkapkan.

Terkadang tulisan yang kita publikasikan membuat orang lain tersinggung, atau bertanya-tanya maksudnya. Namun sebagian besar pembaca hanya menekan tombol like, sebagai tanda dia sudah membacanya. Entah mengerti atau tidak, itu urusan yang bersangkutan.

Informasi tentang kejadian dan peristiwa apapun banyak ditulis oleh sesama pengguna media sosial. Jadi, hanya dalam hitungan detik kita bisa tahu informasi sebuah kejadian dan aktifitas seseorang.

Padahal tempatnya bisa jadi beberapa ribu kilometer dari tempat kita saat membuka smartphone. Para pengguna media sosial saling berbagi informasi lewat tulisan di status mereka. Bahkan hal-hal yang menimpa seseorang yang sifatnya pribadi bisa kita lihat dan tahu dari tulisan status orang tersebut.

Kita setiap hari mendapati berpuluh-puluh tanya jawab di berbagai ruang media sosial. Baik itu di Messenger, Whatsapp, Sms, IG, FB, Path maupun di beranda beberapa media sosial lainnya. Selain itu, kita juga bisa melihat selama bertahun-tahun. Hampir enam atau tujuh tahunan. Pertanyaan-pertanyaan yang sudah dijawab, kemudian jawabannya bisa menyelesaikan apa yang ditanyakan untuk tahun-tahun selanjutnya.

Baca Juga:  Perkuat Industrialisasi Dengan Menciptakan Iklim Invfestasi Kondusif

Begitulah tulisan yang terangkai menjadi status pada sosial media. Suatu saat akan muncul kembali, sebagai pengingat bahwa kita pernah menuliskan sesuatu. Kejadian yang terjadi 1 tahun, 5 atau 10 tahun yang lalu bisa muncul di timeline kita dan mengingatkan sesuatu yang telah kita lalui.

Artinya sosial media semakin pandai, khususnya aplikasi Facebook, tahu banget dan persis moment yang menarik untuk ditampilkan. Kejadian tersebut bisa bersama orang-orang yang kita cintai atau rekan kerja, keluarga, dan sahabat.

Bahkan menceritakan masa-masa yang kita lalui sejak sekolah sampai kuliah. Mungkin juga bercerita perjalanan, tempat wisata atau kota yang pernah kita singgahi. Bisa juga makanan yang kita santap, atau pakaian yang kita kenakan.

Semua itu hanya akan menjadi kenangan, jika kita pernah menuliskannya. Entah kita menuliskan untuk konsumsi kita sendiri, atau secara khusus untuk berbagi kegembiraan dengan orang lain.

Ada kalanya kita gembira, sedih, marah atau diperlakukan kurang baik, ada kalanya juga kita melayani atau membantu orang lain. Ada kalanya kita bertemu orang baru, atau bertemu dengan sahabat lama.

Ketika kita bijak bercerita melalui media sosial dengan baik, maka banyak cerita kenangan yang menjadi pelajaran. Semakin banyak yang kita tuliskan, semakin melatih diri kita untuk pandai bercerita melalui tulisan.

Sehingga untuk mengemas suatu makna yang bermanfaat bagi orang lain, sekaligus pengingat bagi diri sendiri. Bagaimanapun kita berharap bahwa sesuatu yang kita ceritakan akan bermanfaat bagi sesama. Entah sekarang atau bisa juga suatu saat nanti.

Pada saat kita menulis, maka sesungguhnya kita telah menuliskan sejarah. Baik atau tidak kualitas tulisan kita, biarlah pembaca yang menilainya. Toh, tulisan itu bukan hanya untuk satu orang, namun bisa dibaca oleh banyak orang.

Baca Juga:  PN MPPI Desak Pemerintah Cabut Inpres No 26 Tahun 1998

Bisa jadi, satu orang tidak merasakan manfaatnya, akan tetapi masih banyak yang lain yang mungkin merasakan manfaatnya. Sosial media adalah forum yang menjangkau banyak kalangan dari berbagai belahan dunia.

Menurut penulis, menulislah hal-hal yang bermanfaat untuk diri sendiri dan orang lain di media sosial. Kemudian kumpulkan tulisan-tulisan yang sudah kita hasilkan itu.

Maka sebuah tugu kenangan atas nama kita pun akan terbangun dengan sendirinya. Tugu itu bernama, buku dan karya tulis. Itulah manfaat menulis dan menulis yang bermanfaat di media sosial.

Menuliskan yang baik, maka tulisan itu akan menjadi amalan yang akan terus menerus bisa kita dapatkan. Sebaliknya menuliskan yang buruk juga akan kita rasakan bebannya. Untuk itu mulailah menulis yang baik, dengan menuliskan perasaan anda yang membuat anda bahagia.

Menularkan kebahagiaan adalah salah satu upaya untuk membuat orang lain berbahagia. Jadi, tunggu apalagi? Buka smartphone, Klik media sosial yang biasa kita pakai, Tuliskan sesuatu yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain mulai sekarang!

Penulis: Riri Isthafa Najmi, Koordinator Forum Aceh Menulis, Pengurus DPP FUAS, dan Penggiat Komunitas Gerakan Pemuda Subuh.

Penulis: Riri Isthafa Najmi, Koordinator Forum Aceh Menulis, Pengurus DPP FUAS, dan Penggiat Komunitas Gerakan Pemuda Subuh.

Loading...

Terpopuler