Connect with us

Terbaru

Seks dan Orgasme Spiritual Bagi Sastrawan Besar WS Rendra (Bag. I)

Published

on

Sebuah gambar jenis kamasutra dalam naskah kuno, print 1983/Ilustrasi Nusantaranews via gossip katta

NUSANTARANEWS.CO – Bagi setiap manusia normal menjalani kehidupan penuh gairah cinta ialah sesuatu yang alamiah dan lazim. Akan tetapi, di saat yang bersamaan dia akan menjadi objek yang terkekang bila tak dapat mengendalikan segala nafu birahina.

Vatsyayana dalam Kamasutra menyatakan, bagi mereka yang terlampau menyerahkan diri pada kehidupan seksual yang berlebih (percintaan tanpa asmara yang mencandu, kata Rendra) susungguhnya mereka memusnahkan diri mereka sendiri.

Pada prinsipnya setiap manusia harus menghargai kehidupan seksual sebagai babak hidup yang alamiah. Karena itu, untuk mencapai spritualitas yang lebih superior, dia harus belajar mengendalikan dan pada akhirnya melepaskan diri dari kepuasan yang sementara di dunia.

Faktanya, kata Vatsyayana, manusia diberikan kemampuan dan keistimewaan untuk merasakan dan mengkontemplasikan kenikmatan. “Seksualitas adalah esensial dalam keberlangsungan hidup manusia,” cetus Vatsyayana.

Berbanding lurus dengan argumentas Vatsyayana, sastrawan besar Indonesia, WS Rendra mengatakan bahwa seks dalam arti paling sederhana adalah sebuah kenikmatan badani. Dimana, dari kenikmatan yang ditimbulkan oleh aktifitas seks tersebut, seseorang dapat menemukan ekspres dirinya yang penuh dan utuh.

“Seks itu, ya, kenikmatan toh. Seks itu kan enak. Di situ kita menemukan ekspresi diri yang penuh,” cetus Rendra saat berbincang dengan Trijon Aswin dan Amir Husin Daulay pada tahun 1987.

Dalam buku Trijon Aswin, “Rendra, Seks, Wanita dan Keluarga”, (Jakarta: Depot Kreasi Jurnalistik Jakarta Forum, 1987), tanpa tabu, Rendra mengaku gemar mengekspresikan dirinya. Ekspresi yang dimaksud ialah ekspresi dalam koridor seks pasutri.

“Tapi, walau orang bilang saya ini buaya, saya nggak suka seks yang mekanis. Seks yang timbul dari aksi-reaksi. Dikit-dikit seks, seks, seks gitu, nggak suka saya. Bukannya nggak pernah melakukan yang begitu, ya. Di zaman remaja duu pernah. Tapi ngga pernah senang, nggak pernah terkesan,” aku Rendra tanpa tedeng aling-aling.

Sebelumnya, Rendra menceritakan pengalamanya di masa-masa awal kali dipikat oleh wanita. Itu terjadi ketika Rendra baru menginjak kelas 3 dan 4 SD (Sekola Dasar). Namun, waktu itu, Rendra tidak menjalin hubungan dengan cewek-cewek itu yang disebut pacaran. Menurut dia, baru saat duduk di kelas 1 SMP ia mengaku pertama kali pacaran. Itu pun, cewek yang ia pacari usianya lebih tua yang mana pacarnya itu sudah kelas 3 SMP. Jadi, apa yang Rendra alami ketika itu, benar-benar tanpa kesan sedikitpun.

Sebab, bagi Rendra, berhubungan intim dengan pasangan itu, harus ada proses pergaulan yang kontemplatif. Sebab, kata dia, seks itu juga menyangkut komunikasi. Kenikmatan seks itu hanya ada kalau dibawa berkontemplasi. Ada unsur perenungan. Jadi seks yang terburu-buru itu menurutnya tidak nikmat dan tentu tidak akan mencapai puncak orgasme spiritual, orgasme yang memiliki unsur kontemplatif. “Terburu-buru. Hantam kromo. Nggak suka saya!” ujarnya.

“Yah, harus ada fore-play. Harus ada penghayatan akan rambutnya, penghayatan akan mulutnya, penghayatan akan dadanya, penghayatan akan perutnya, penghayatan akan tubuh itu sendiri. Dicium betul, dikecup betul,” sambung Rendra.

Dengan demikian, kehidupan seksual pasangan suami istri akan mencapai apa yang disebut orgasme spiritual. Intinya, berhubungan seks yang tidak hanya sekadar melepas onak dan nafsu birahi belaka. (Bersambung….)

Penulis: Riskiana
Editor: Achmad S.

 

 

 

Loading...

Terpopuler