Connect with us

Ekonomi

Sekitar 9 Juta Anak Indonesia Stunting, Ini Sebuah Tragedi Bung!

Published

on

Anak-anak di Kabupaten Asmat tengah menderita KLB Campak dan Gizi Buruk. Foto: Puspen TNI

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Pemerintah boleh berbangga karena banyak investasi asing datang untuk membangun infrastruktur di Indonesia. Pemerintah boleh puas karena gampang mendapatkan utang untuk membiayai pembangunan. Pemerintah boleh senang hati karena barang dan jasa jasa dengan mudah dapat diperoleh dari luar negeri untuk mendukung pembangunan.

Namun gemerlap pembangunan besar besaran infrastruktur tersebut telah menyisakan masalah ekonomi, sosial dan ketahanan nasional yang mengerikan. Bangsa Indonesia terancam punah karena generasi penerusnya mengalami stunting.

Menurut data Bank Dunia, sebanyak 1 dari 3 anak di bawah usia 5 tahun menderita stunting. Menurut data Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), ada 9 juta anak Indonesia mengalami stunting atau kekurangan gizi, baik di perdesaan maupun perkotaan. Fakta ini mencerminkan bahwa perkembangan otak terganggu yang akan mempengaruhi peluang masa depan anak-anak.

Baca juga: UGM: Stunting Terjadi Akibat Kemiskinan

Apa itu stunting? Istilah stunting mengacu pada kasus pertumbuhan anak yang terganggu karena kekurangan asupan gizi yang dibutuhkan tubuh.

Sebelumnya ratusan anak suku Asmat di Papua meninggal disebabkan busung lapar dan gizi buruk. Pemicunya penyakit campak. Tapi karena kondisi gizi yang buruk menyebabkan mereka dengan mudah terserang penyakit dan berujung kematian.

“Angka stunting akibat gizi buruk yang menimpa anak-anak indonesia adalah terburuk dibandingkan negara negara tetangga di Asia Tenggara. Kondisi ini mutlak mendapat perhatian serius. Ini sebuah tragedi bung!,” kata pengamat ekonomi Salamuddin Daeng, Jakarta, Kamis (5/42018).

Sebelumnya lagi Rizal Ramli mengingatkan kepada semua pihak khususnya para aktivis gerakan sosial, para pemerhati lingkungan hidup, para aktivis masalah perempuan dan anak anak, untuk menaruh perhatian terhadap masalah ini. Mengingat stunting merupakan problem besar dan merupakan ancaman terhadap keberlanjutan generasi. “Ini buka soal sepele,” katanya.

Baca juga: Busung Lapar di Asmat Potret Suram Gagalnya Pemerintahan Jokowi

Harus diakui memang, sistem ekonomi dan politik yang ada sekarang telah menghasilkan penguasa yang tidak dapat diharapkan kepeduliannya pada masalah masalah semacam ini. Apalagi dintahun politik perhatian itu tampaknya telah hilang sama sekali.

Sementara pembangunan yang dipandu oleh ideologi ultra konservatif ini hasilnya sudah bisa ditebak, sebagian besar pendapatan nasional setiap tahun hanya dinikmati oleh 10 persen masyarakat lapisan atas, sebagaimana ditunjukan oleh koefisien gini 0,40. Sementara hampir separuh rakyat Indonesia berpendapatan dua dolar per hari.

Hari ini anak-anak Indonesia stunting, akibatnya besok kita akan kehilangan segala-galanya. (red)

Baca juga: Persoalan di Asmat Memerlukan Komitmen Tinggi

Editor: Eriec Dieda

Advertisement

Terpopuler