Connect with us

Budaya / Seni

Sekilas Tentang Tari Parenggek, Karya Seni Tari Sanggar Seni Saraweta Bontoa-Maros

Published

on

tari parenggek, karya seni, tari sanggar seni saraweta, bontoa-maros, nusantaranews, nusantara news

Tari Parenggek, sebuah karya seni Tari Sanggar seni Saraweta Bontoa-Maros. (Foto: Muhammad Alamsyah/NUSANTARANEWS.CO)

NUSANTARANEWS.CO – Ulasan singkat tentang Tari Parenggek, sebuah karya seni Tari Sanggar seni Saraweta Bontoa-Maros.

Tari Parenggek merupakan suatu seni tari yang terinspirasi dari pola hidup para nelayan di Kecamatan Bontoa Kabupaten Maros Provinsi Sulawesi Selatan dalam menjalankan aktivitas keseharian mereka di laut yang berprofesi sebagai nelayan. Mereka adalah pelaut ulung yang rela meninggalkan daratan tanah kelahiran mereka demi memenuhi kebutuhan hidup dari segi ekonomi, yang kadangkala rela berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun lamanya mengarungi laut sebagai parenggek sejati.

Kata parenggek merupakan bahasa Makassar yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia memiliki arti penangkap ikan atau nelayan yang menangkap ikan di perairan laut dengan menggunakan pukat raksasa. Akrenggek lebih dominan kepada pemaknaan proses aktivitas parenggek tersebut.

Aktivitas menangkap ikan atau akrenggek yang digeluti oleh beberapa orang nelayan (lelaki) Bugis-Makassar disebut sawi. Sawi dalam bahasa Indonesia dapat disepadankan dengan istilah (ABK) atau Anak Buah Kapal.

Dari karakter dan karakterisasi pola melaut masyarakat Bontoa itulah sehingga muncul suatu ide seni dalam tari yang menjadi asal muasal atau cikal bakal lahirnya Tari Parenggek yang digarap dan dikaryakan oleh para seniman tari dari Sanggar Seni Saraweta Bontoa-Maros.

Tari Parenggek mencerminkan bagaimana masyarakat Bontoa di Kabupaten Maros bagian utara menjalani ekspedisinya di laut menjadi nelayan sejati, yang kadang kala menembus seluruh perairan laut Sulawesi dan perairan laut Kalimantan yang bermodalkan semangat hidup untuk keluarga mereka dengan menggunakan perahu sombalak atau perahu layar. Namun, seiring berkembangnya tekhnologi kini para parenggek sudah menggunakan teknik perkapalan modern dan alat penangkapan ikan yang modern pula.

Baca Juga:  Cawagub Anton Charliyan Dorong Pemuda Jabar Perkuat Nasionalisme

Tari Parengek dalam pementasannya menggunakan personil penari putra dan personil penari putri. Penari putra berjumlah 4 orang dan penari putri berjumlah 6 orang dan masing-masing dalam gerak atau tariannya menggambarkan simbol dan filosofi pelaut ulung dari Bontoa-Maros. Penari putra membawa obor dan menyemburkan api merupakan simbol dari semangat sang pelaut. Dua penari putri memunculkan adegan tari menyirat pukat sebagai simbol properti alat tangkap ikan para nelayan, dan empat orang penari putri menggambarkan bagaimana sistem dan tata cara atau proses penangkapan ikan di laut. Jadi, jumlah personil penari secara keseluruhan 10 orang.

Kostum yang digunakan untuk penari putra yaitu passapu berwarna merah dan jas tutup warna merah pula sebagai simbol keberanian. Sarung sutra warna kuning yang dikenakan hanya sampai lutut sebagai simbol kesejahteraan dan kemakmuran sekaligus cerminan fisik seorang nelayan atau parenggek. Kostum pelengkapnya yaitu celana puntung barocci warna hitam sebagai simbol dari gaya lelaki Bugis-Makassar yang kerap kali penuh dengan semangat juang yang gagah berani.

Para presonil Tari Parenggek. (Foto: Muhammad Alamsyah/NUSANTARANEWS.CO)

Para presonil Tari Parenggek. (Foto: Muhammad Alamsyah/NUSANTARANEWS.CO)

Dua orang penari putri yang melagakan adegan tari sirat pukat menggunakan kostum baju kebaya dan sarung sutra berwarna hijau serta kain penutup kepala berwarna hijau pula, merupakan simol bumi yang merupakan tempat hakikat manusia menjalani kehidupan dunia. Sekaligus menjadi simbol bumi dengan segala elemen kesemestaanya yang meliputi air, angin, api dan tanah yang merupakan unsur asali manusia pula yang sesungguhnya.

Empat orang penari putri lainnya menggunakan kostum baju bodo berwarna biru sebagai simbol laut, sarung sutra putih sebagai simbol gelombang atau ombak. Paconro , kalung hias emas, gelang hias emas sebagai citra atau simbol perempuan Bugis-Makassar. Selendang warna hitam yang digunakannya sebagai simbol ikan atau hasil tangkapan dari para parenggek tersebut.

Baca Juga:  Kemenhub Perintahkan Maskapai Turunkan TBA Tiket Pesawat

Properti yang digunakan oleh penari yaitu suluh atau obor masing-masing dua oleh setiap penari putra. Siratan tali menyerupai pukat, dayung perahu yang di selempang di pundak belakang penari putra. Pukat hias dan kain biru untuk nuansa gelombang laut yang diperagakan oleh penari putra pula.

Jenis musik yang digunakan sebagai pengiring tari tersebut adalah musik tradisional Bugis Makassar yang tabuhan- tabuhannya dikolaborasi membentuk bunyi yang senada dengan gerak tari parenggek. Alat musik yang digunakan antara lain dua buah gendang adat Makassar, puik-puik Makassar, kattok-kattok (alat musik tabuh terbuat dari bambu yang menyerupai kentongan), suling bambu toraja atau sunda, kecapi makassar, marakas, jimbe dan beduk mini atau bas drum.

Jumlah pemusik yang dibutuhkan sebagi pengiring tarian tersebut berjumlah 7 orang. Dua orang penabuh gendang adat bugis makassar, 1 orang penabuh jimbe, 1 orang penabuh beduk mini merangkap penabuh kattok- kattok, 1 orang memainkan suling merangkap pemain puik-puik dan sebagai vokalis syair lagu Dongang-dongang, 1 orang pemain kecapi merangkak pemain marakas, dan satu orang vokalis wanita untuk menyanyikan syair lagu Indo Logo.

Musik pengiring tari parenggek menyelipkan lagu Makassar Dongang-dongang pada beberapa adegan gerak tari tersebut. Suara vokal yang diharuskan atau dibutuhkan untuk lagu ini adalah vokal putra karena dijadikan karakterisasi musik dalam tarian ini. Syair lagu yang digunakan yaitu Tutuki maklepa-lepa gallek/mabbiseang naung rate bonto/tallangki sallang kinaskko naung alimbukbuk dongang dongang/labella karaeng. Artinya, berhati-hatilah bersampan wahai kawan/berdayung perahu di atas daratan/nanti tenggelam bisa jadi kita tersedak debu wahai dongang-dongang/semakin jauhlah kita dari daratan tanah makassar( tanah karaeng).
Syair lagu tersebut dikutip dari versi lagu Iwan Tompo, sang maestro lagu Makassar.

Baca Juga:  Satgas Yonif Raider Bagikan Ilmu Perbengkelan Kepada Warga di Perbatasan RI-Timor Leste

Syair lagu berikutnya yang digunakan dalam tarian tersebut yaitu lagu bugis yang berjudul Indo logo yang kutipan syairnya sebagai berikut. Dua bulu/samanna mattettongeng/indo logo/kegasi samanna ri onroi/alla ri onroi/palettu singereng. Artinya, dua gunung/sama berdiri tegak/indo logo/yang manakah/akan kita datangi/berikanlah petunjuk. Syair lagu tersebut diharuskan dinyanyikan oleh vokal wania sebagai karakterisasi dari musik tarian tersebut.

Proses latihan untuk mementaskan tarian ini, oleh para penari sanggar seni Saraweta Bontoa tidaklah terlalu lama, hanya proses latihan pemantapan saja selama satu pekan, itupun hanya dua jam persatu hari latihan. Cukup singkat, karena para personil penari sudah memiliki bekal gerak tarian tersebut.

Proses penciptaanyalah yang lama, butuh waktu empat bulan dalam proses penggarapannya. Diperlukan beberapa literasi terkait tentang situasi maritim pesisir utara Kabupaten Maros, gaya hidup masyarakat di sekitaran lokasi tersebut, karakterisasi pola melaut, tatanan norma atau adat istiadat yang bersinggungan dengan kelautan, peralatan peralatan melaut, sistem kemasyarakatan dan tujuan yang paling utama dari mereka sehingga berprofesi sebagai parenggek.

Dari sumber-sumber itulah dilakukan penciptaan gerak yang disesuaikan dengan kondisi lapangan yang sesuai dengan tipe, pola atau cara dan gaya melaut masyarakat tersebut sehingga terciptalah gerak seni dalam tarian bernama Tari Parenggek.

Penulis: Muhammad Alamsyah
Editor: Eriec Dieda

Loading...

Terpopuler