Connect with us

Global

Sekelumit Afrika: China Datang, Pasukan Khusus AS Hengkang

Published

on

militer as, pasukan khusus as, afrika, ekspansi afrika, proyek china, china-afrika, afrika barat, investasi china, james mattis, pentagon, as-afrika, operasi kontraterorisme, negara afrika, nusantaranews

Pasukan Khusus AS menggelar latihan di Niger bertajuk Flintlock 2018. (Foto: Special Operations Command Africa)

NUSANTARANEWS.CO – Jika Menteri Pertahanan James Mattis menyetujui, Amerika Serikat akan menarik pulang keberadaan militer AS di Afrika. AS berencana menghentikan operasi kontraterorisme yang selama ini digelar di sejumlah negara di Afrika.

Menurut media AS, The New York Times, dikutip Council on Foreign Relations menyebutkan AS akan menarik unit pasukan khusus Amerika di Afrika Barat dalam waktu dekat, sekaligus menutup pos-pos militer di Tunisia, Kamerun, Libya dan Kenya. Jika disetujui Menhan AS, keberadaan unit-unit khusus tersebut akan ditarik dan hanya akan menyisakan keberadaan militer AS di Somalia dan Nigeria, dua kawasan yang tetap menjadi fokus AS setelah beberapa bulan lalu empat tentara Amerika tewas diserang kelompok militan.

Baca juga: Mencermati Runtuhnya Pax Americana

Dengan demikian, mengurangi kehadiran militer AS di Afrika Barat merupakan cerminan dari Strategi Pertahanan Nasional Departemen Pertahanan AS sebagaimana termaktub dalam Summary of the National Defense Strategy of the United States of America, Sharpening the American Military’s Competitive Edge. Paper yang diteken James Mattis ini secara umum menyebutkan bahwa fokus AS di Afrika saat ini bukan soal terorisme lagi melainkan lebih fokus pada keamanan nasional Negeri Paman Sam.

Strategi utama pertahanan AS tampaknya akan dialihkan secara lebih fokus ke Samudera Hindia dan Indo-Pasifik. Dan pada 7 September lalu, AS dan India dilaporkan telah menandatangani perjanjian untuk memperkuat hubungan bilateral militer kedua negara yang memungkinkan New Delhi membeli teknologi militer canggih milik AS. Pasalnya, kedua negara mengkhawatirkan ekspansi China, khususnya di Samudera Hindia.

Baca juga: Bagaimana Kalau Imperium Amerika Runtuh?

Akuisisi Pelabuhan Hambantota di Sri Lanka merupakan bukti kuat betapa China memang tengah memperluas kebijakan strategisnya di luar negeri. Bagaimana pun, Sri Lanka merupakan negara strategis sebagai pintu masuk China merangsek ke Timur Tengah lewat laut.

The Times melaporkan total ada 1200 Pasukan Operasi Khusus AS di seluruh Afrika. Jika proposal pengurangan pasukan ini diterima Petagon, maka jumlah ini akan menjadi bekurang signifikan.

Sementara itu, kondisi ini tampaknya akan dimaksimalkan China dalam keterlibatan mereka di kawasan Afrika. Diketahui, selain sudah mengoperasikan pangkalan militernya di Djibouti. Di Djibouti sendiri, sejumlah bank-bank di China telah mendanai setidaknya 14 proyek infrastruktur dengan nilai US$ 14,4 miliar. Proyek infrastruktur yang didanai Cina di Djibouti antara lain jalur kereta api menuju ke Addis Ababa, Etiopia.

Baca juga: Kata Pakar: Bisnis Minyak Memiliki Dimensi Pertahanan Keamanan

Kontribusi China terhadap pembangunan Afrika memang sangat mengesankan. Bahkan Presiden Xi Jinping mulai menggelontorkan bantuan tambahan sebesar US$ 60 miliar ke benua tersebut untuk tiga tahun ke depan terhitung sejak tahun 2016. Beijing memang telah lama menanamkan investasi infrastruktur di sejumlah negara benua Afrika dalam upaya mencari sumber daya alam dan membuka pasar baru.

Pada 4 September 2018 lalu, di Forum on China Africa Cooperation (FOCAC) di Beijing, China menjanjikan pinjaman sebesar US$ 60 miliar untuk mendukung keuangan Afrika guna mendorong pertumbuhan ekonomi.

Adapun pinjaman besar tersebut dengan rincian US$ 35 miliar dalam bentuk hibah, pinjaman dan kredit. Dana pengembangan pembiayaan sebesar US$ 10 miliar dan US$ 5 miliar untuk mendukung impor barang China.

Baca juga: Sri Lanka Target 1 Miliar dari Proyek yang Didanai China di Colombo Port City

Lebih lanjut, perusahaan-perusahaan besar Negeri Tirai Bambu juga didorong untuk menginvestasikan sebesar US$ 10 miliar di Afrika selama tiga tahun ke depan.

Terhitung negara-negara seperti Republik Kongo, Ethiopia dan Angola sangat besar ketergantungan mereka pada China untuk kepentingan pembangunan.

Dengan kondisi tersebut, seperti prediksi Petagon, China akan memperbanyak pangkalan militernya di luar negeri, khususnya di Afrika.

Baca juga: Sekelumit Tentang Republik Niger yang Kaya Uranium

“Cina kemungkinan besar akan berusaha untuk membangun pangkalan militer tambahan di negara-negara yang memiliki hubungan persahabatan yang sudah berlangsung lama dengan kepentingan strategis serupa, seperti Pakistan,” kata seorang pejabat dikutip Reuters. (eda/edd)

Editor: Eriec Dieda

Advertisement

Terpopuler