Connect with us

Politik

Sebenarnya Kapan Ada Gambaran Siapa Presiden RI 2019-2024?

Published

on

elektabilitas cawapres, calon wakil presiden, cawapres lembaga survei, cawapres kandas, cawapres 2019, capres 2019, nusantaranews

Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden 2019, Prabowo Subianto-Sandiaga Solahuddin Uno dan Joko Widodo-KH Ma’ruf Amin. (Foto: Istimewa/NUSANTARANEWS.CO)

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Wakil Ketua Komisi II periode DPR RI 2004-2009, Sayuti Asyathri mempertanyakan kapan ada gambaran siapa Presiden RI periode 2019-2024.

“Perhitungan real count atas dasar C-1 mudah mudahan akan selesai dalam beberapa hari ini, mulai tanggal 18 April, di tingkat kecamatan. Penghitungan dilakukan oleh KPU jenjang Kecamatan disaksikan Bawaslu dan saksi-saksi dari peserta,” harapnya dikutip dari keterangan tertulis, Jakarta, Jumat (19/4/2019).

Sementara, kata dia, penghitungan rekap bertahap di kecamatan adalah basis perhitungan berdasarkan C-1 yang dikonfirmasikan dengan bukti surat suara.

“Jadi penghitungan kecamatan ini adalah dasar dari gambaran kemenangan yang paling menentukan. Maka dulu sering saya sebut tahapan ini sebagai tahapan Teksas, yakni pastikan bahwa dari TPS ke kecamatan suara anda selamat,” ujarnya.

Karena sesudah tahap kecamatan yakni di Kabupaten dan seterusnya hanyalah penjumlahan dan klarifikasi angka. Artinya. lanjut dia, kalau ada usaha untuk mengamankan suara maka semua peserta pemilu akan mengkonsolidasikan sumber dayanya di penghitungan rekap tingkat kecamatan tersebut.

Loading...

“Pemilu presiden lebih mudah penghitungannya, kalau pemilu legislatif agak rumit karena jumlah partai dan pesertanya banyak,” jelasnya.

Maka, kata Sayuti, peran IT dalam pengolahan data untuk penghitungan pileg sangat dibutuhkan sebagai supporting system. “Kalau untuk pilpres tidak terlalu signifikan kebutuhannya,” tuturnya. Apalagi, menurut UU IT bukan jadi basis keabsahan penetapan suara.

“Tetap harus merujuk pada hasil manual, itulah sebabnya harus menjalani tahapan rekap berjenjang dari kecamatan hingga nasional,” lanjut Sayuti.

Dia menjelaskan, penghitungan suara Pilpres karena hanya 2 paslon maka selanjutnya peserta pemilu bisa cukup dengan menggunakan kalkulator untuk menggabungkan hasil kecamatan menjadi hasil kabupaten, dan hasil kabupaten bisa dijumlahkan menjadi hasil provinsi dan seterusnya menjadi hasil nasional dalam waktu satu hari bahkan, atau beberapa hari sesuai tingkat kesiapan hasil kabupaten dan provinsi yang lain.

Baca Juga:  Di Hari Jadi Lantamal V Ke 69, Danlantamal V: Kondisi Alam Tidak Bisa Dilawan

“Dengan demikian maka sesudah hasil kecamatan maka gambaran hasil pemilu sudah selesai,” imbuhnya. Artinya, kalau jadwal penghitungan Kecamatan dimulai tanggal 18 April kemarin, maka relatif dalam waktu 3 atau 4 hari yaitu mulai hari Minggu nanti sudah ada gambaran siapa presiden terpilih berdasarkan bukti penghitungan real count.

“Tentu saja kalau semuanya berlangsung normal di tingkat Kecamatan sekarang ini. Yakni tidak terjadi masalah C-1 dan kotak suara yang bersifat struktural dan sistematik secara massif nasional,” terang dia.

Tapi, tambah Sayuti, kalau masalah hanya bersifat kasus yang tidak terlalu signifikan pengaruhnya bagi suara akhir, maka tetap saja pada hari hari itu sudah ada gambaran umum tentang siapa presiden nanti.

“Dan satu hal lagi, karena penghitungan untuk pilpres ini mudah maka kecurangan sangat mudah dibuktikan dan biasanya bisa langsung diselesaikan. Terutama kalau saksi-saksinya cukup siap di lapangan,” ungkapnya.

Jadi, mulai hari minggu dan beberapa hari sesudahnya nanti sudah ada gambaran presiden terpilih menurut hasil penghitungan. Dan sebenarnya kalau mau terus terang, kata dia, sekarang inipun bagi paslon yang sudah miliki data C-1 lengkap maka bisa menjumlahkan C-1 sehingga mereka relatif sudah mengetahui siapa yang jadi presiden.

“Jadi pada tahap sekarang ini sudah tidak perlu ada urusan dengan quick count lagi, karena sudah masuk penghitungan data riil yang menentukan hasil akhir untuk pilpres,” papar Sayuti.

Adapun pengumuman resminya, lanjut Sayuti, tergantung dari jadwal KPU dan tahapan pemilu selanjutnya.

“Intinya tidak usah terlalu heboh soal IT ini dan itu serta berbagai spekulasi yang bisa membuat pemilu kita kurang berkualitas dalam tolok ukur legitimasi dan kedaulatan rakyat. Peace for all,” pungkas dia.

Baca Juga:  Kasus Persekusi Marak, Fadli Zon Karang Sajak Tangan Besi

(eda)

Editor: Eriec Dieda

Loading...

Terpopuler